Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.1 ° C

Gunakan Dana Desa untuk Bangun Destinasi Wisata

Dhita Seftiawan
KETUA  TP PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya saat mencoba permainan tradisional di gelaran Pasar Desa Wisata Jabar Juara menuju Jawa Barat sebagai Provinsi Layak Anak  di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Sabtu 27 April 2019.*/DOK. HUMAS PEMPROV JABAR
KETUA TP PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya saat mencoba permainan tradisional di gelaran Pasar Desa Wisata Jabar Juara menuju Jawa Barat sebagai Provinsi Layak Anak di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Sabtu 27 April 2019.*/DOK. HUMAS PEMPROV JABAR

JAKARTA, (PR).- Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menyarankan dana desa yang diberikan pemerintah dipakai untuk membangun destinasi wisata. Setiap desa bisa membuat pusat kuliner atau tempat yang bisa memantik perhatian generasi milenial untuk mau berkunjung ke desa.

Ia menilai, membuat desa wisata tidak sulit. Dengan adanya dana desa, pemerintah desa bisa menganggarkan dana tersebut untuk menggali potensi wisata yang ada di daerahnya masing-masing sesuai kearifan lokal yang tumbuh di masyarakatnya.

Menurut dia, setiap desa pasti memiliki keunggulan, baik dari segi sumber daya alam ataupun sumber daya manusianya. "Menciptakan desa-desa wisata itu gampang. Yang paling penting ada brand image-nya, buat event yang rutin dan buat kompetisi-kompetisi sehingga orang sering datang. Dengan adanya desa wisata kebudayaan masyarakat bisa lebih berkembang. Sanggar-sanggar budaya di desa bisa terus hidup dan berkembang," kata Eko di Jakarta, Selasa, 13 Agustus 2019.

Ia mengatakan, pembangunan desa wisata akan bermanfaat untuk mengurangi jumlah pengangguran. Menurut dia, pariwisata adalah salah satu sektor yang dapat menyerap tenaga kerja paling cepat di desa. "Karena masih cukup lama untuk bisa menciptakan sektor industri di desa. Kita semua tahu, 60 persen dari penduduk di desa pendidikannya hanya SD dan SMP. Jadi yang paling cepat untuk menyerap tenaga kerja adalah sektor pariwisata," katanya.

Menurutnya, satu destinasi wisata diharapkan minomal dapat mempekerjakan 50 orang tenaga kerja yang berasal dari masyarakat desa. Ia mencontohkan, pembuatan kafe-kafe bernuansa persawahan di desa bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. 

Ia menuturkan, datangnya era teknologi juga harus dimanfaatkan pemerintah desa sebagai peluang usaha. Di antaranya seperti membuat tempat-tempat yang ikonik untuk berswafoto. "Buat kafe-kafe dan tempat selfie di desa, yang penting wifi-nya kencang. Para bupati harus menyediakan wifi di tempat-tempat wisata. Anggarannya juga tidak mahal, atau bisa juga pakai dana desa," ujarnya.

Peluncuran buku

Ia menjelaskan, belum lama ini, Kemendes PDTT meluncurkan serial buku manfaat dana desa. Menurut dia, buku tersebut akan sangat bermanfaat bagi pemerintah desa. Terutama bagi desa yang masih memiliki kendala dalam memanfaatkan dana desa.

"Kami kan punya program bursa inovasi desa yang juga kita dokumentasikan baik dalam bentuk buku maupun tulisan-tulisan agar desa-desa yang sukses bisa membantu desa-desa yang masih baru belajar. Buku ini juga adalah 4,5 tahun perjalanan dana desa dan kendala serta keberhasilannnya sehingga bisa ditiru oleh desa-desa yang masih memiliki kendala," katanya.

Buku manfaat dana desa ini sudah dibagikan ke semua desa yang tersebar di Indonesia. Dengan adanya buku ini, desa yang belum berhasil akan lebih mudah untuk belajar untuk mencapai hasil yang terbaik dalam memanfaatkan dana desa.

"Saya harapkan bisa dibaca dan ditiru apa yang sudah bagus bisa ditiru dan dilanjutkan. Yang belum bagus untuk sama-sama diperbaiki. mudah-mudahan buku ini bisa menginspirasi kita semua untuk bisa kerja lebih cepat," katanya.

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan, Pelatihan dan Informasi (Balitbangdiklatfo) Kemendes PDTT Eko Sri Haryanto menambahkan, Balibangdiklatfo Kemendes PDTT telah bekerjasama dengan 33 perguruan tinggi yang tergabung dalam Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides) mendokumentasikan manfaat dana desa secara kualitatif di Indonesia. Buku manfaat dana desa tersebut terdiri dari 35 buku dengan rincian 33 buku ditulis oleh Pertides dan 2 buku merupakan kompilasi yang bersifat nasional yang disusun oleh Kemendes PDTT.

"Dengan adanya dana desa kita sudah mulai mencatat tentang hal-hal jejak pembangunan yang ada didesa. Kami bekerjasama dengan Pertides sudah menulis beberapa yang terkait manfaat dana desa. Ada 35 buku yang penting untuk disimak dan dipelajari, itulah hasil karya apa yang telah dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakatnya," katanya.***

Bagikan: