Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 22.8 ° C

Sudah Ada 1.190 Embung di Jateng namun 2 Juta Warga Sulit Dapat Air Bersih

Eviyanti

PEMBANGUNAN embung yang menampung air hujan di Jawa Tengah akan terus diperbanyak.*/EVIYANTI/PR
PEMBANGUNAN embung yang menampung air hujan di Jawa Tengah akan terus diperbanyak.*/EVIYANTI/PR

PURWOKERTO, (PR).- Mengatasi krisis air bersih dan kekeringan pengairan  setiap musim kemarau, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 2019 akan menambah 11 embung tadah hujan baru di enam kabupaten. Yakni di wilayah  zona merah kekeringan di provinsi tersebut. 
 
Pembangunan 11 embung 2019  didesain bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan pengairan. Namun embung tadah hujan dibangun dengan konsep sebagai  cadangan air baku terkait dengan makin meluasnya krisis air bersih di Jateng,

Masing-masing di Kabupaten  Wonogiri sebanyak lima buah, Tegal 2 buah, kemudian Kabupaten  Demak,  Kendal, Pati dan Purbalingga masing-masing satu buah. "Embung-embung tersebut nantinya berfungsi sebagai tandon air hujan. Kita prioritaskan pembangunan di wilayah zona merah kekeringan seperti Wonogiri kita bangun sampai 5 buah karena daerah tersebut bermasalah dengan air," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah Eko Yunanto saat dihubungi dari Purwokererto, Rabu 31 Juli 2019.

Pada 2018 Pemprov sudah membangun 81 embung tahun ini ada tambahan sebanyak 11 buah sehingga totalnya selama dua tahun ini pihaknya sudah membangun 92 buah embung tadah hujan di wilayah rawan kekeringan. "Secara kumulatif total embung yang dibangun Pemprov Jateng telah mencapai total 1.190 dengan berbagai kategori," kata dia.

Mengenai anggaran pembangunan,  satu buah embung dengan luas satu hektar dibutuhkan anggaran berkisar antara Rp 2,5 miliar hingga Rp 3 miliar. 

Targetnya sampai akhir 2019 ke-11 embung selesai dibangun sehingga bisa  menampung air hujan,  hasil pengisian air selama musim hujan bisa digunakan sebagai cadangan air untuk pertanian, perkebunan sekaligus sebagai cadangan air baku mutu untuk mencukupi kebutuhan air minum. 

"Sebab  saat ini  masyarakat sangat membutuhkam air baku, maka embung tidak selalu didesain untuk pengairan semata. Konsep pembangungan  embung juga harus melihat kebutuhan air baku," kata dia.

Krisis air bersih

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi  Jawa Tengah hingga akhir Juli, sekitar 2 juta lebih warga atau sekitar  545.851 kepala keluarga di Jateng mengalami krisis air bersih. Mereka tinggal  1.319 desa di 287 kecamatan di 31 kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Diperkirakan jumlah tersebut akan bertambah, berdasarkan prakiraan BMKG puncak musim kemarau di Jateng diprakirakan terjadi pada Agustus hingga November 2019. 

Bahkan di Cilacap anggaran untuk penanganan bancana kekeringan telah habis,  oleh karena bantuan air bersih masih  menunggu penetapan APBD Perubahan Tahun 2019. 

"Alokasi bantuan air bersih sebanyak 110 tangki  sudah  tersalurkan  semua dan masih kurang sebab jumlah warga yang membutuhkan semakin bertambah," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Tri Komara Sidhy. 

Rencananya pada APBD Perubahan 2019 telah mengalokasikan anggaran bantuan air bersih sebesar Rp25 juta atau setara dengan 50 tangki. Anggaran  Rp25 juta tersebut belum bisa dicairkan masih menunggu  penetapan.

Sampai 30 Juli sudah sebanyak 136 tangki disalurkan. dana tersebut  berasal dari APBD dan bantuan dunia usaha.  Untuk kebutuhan  13.460 keluarga yang terdiri atas 40.301 jiwa di 32 desa dari 14 kecamatan.***
 

Bagikan: