Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Umumnya cerah, 31.7 ° C

Mencari Jejak Tsunami Purba dari Mitos Nyai Roro Kidul

Catur Ratna Wulandari
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

KISAH Nyai Roro Kidul lestari di masyarakat pesisir pantai selatan Jawa, dituturkan dari generasi ke generasi. Sampai penelitian paleotsunami menemukan bukti ilmiah yang menyingkap terjadinya tsunami sekitar 400 tahun lalu di pantai selatan Jawa, seperti yang disebut dalam salah satu mitos Ratu Kidul.

Pencatatan tsunami di Indonesia baru dilakukan setelah kedatangan Eropa, sekitar 400 tahun lalu. Meski tak tercatat, peristiwa yang terjadi di kala itu, tersusun dalam cerita rakyat turun-temurun, bahkan dianggap sebagai mitos belaka. Kejadian tsunami di laut selatan Jawa tersirat dalam Serat Srinata dari Babad Tanah Jawi. 

Kilat thathit abarungan (Kilat dan halilintar bersamaan)
Panjunegur swara kagiri-giri (Gemuruh suaranya menakutkan)
Narka yen kiyamat iku (Mengira bahwa itu adalah kiamat)
Toya minggah ngawiyat (Air naik ke angkasa)
Apan kadya amor mina toyanipun (Bahkan, seperti bercampur dengan ikan airnya)
 
Semana datan winarna (Pada saat itu tidak dikisahkan)
Ratu kidul duk miyarsi (Ratu Kidul saat mendengarnya)

Lagya sare kanthi denta (Sedang tidur beralaskan gading)
Kagegeran manehe Sang Sung Dewi (Kacau hati Sang Dewi)
Dene naga samya mlayu (Bahkan naga pun semua lari)
Arsa minggah perdata (Ingin naik untuk berkelahi)
Ratu Kidul alon denira amuwus (Ratu Kidul perlahan berkata)
Selawas sun durung mulat
Samodra pan dadi kisik (Selama ini aku belum pernah menyaksikan,
Samudra menjadi pesisir)

Dene panase kang toya (Bahkan panasnya air, bagaikan api)
Anglir agni klangkung panasing warih (sangatlah panas airnya)
Mina sedaya pan lampus (Semua ikan mati)
Baya ari kiyamat (Mungkin hari kiamat ini)
 
Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Eko Yulianto mengatakan, mitos itu mempunyai kesesuaian dengan bukti ilmiah yang ia temukan saat meneliti paleotsunami di laut selatan Jawa. Penelitian ini bermula dari temuan terjadinya tsunami purba pada 5 Januari 1699. Data dari Lebak, Banten mengindikasikan sumber gempa berasal dari jalur subduksi laut selatan Jawa. Tim kemudian menyusuri laut selatan Jawa.

Temuan di lapangan menunjukkan tautan antara fakta ilmiah dan mitos Nyai Roro Kidul yang sangat dikenal masyarakat pesisir laut selatan Jawa.

"Secara ilmu, bukti geologi ketemu, secara waktu sinkron, arkeologi dan antropoli, sinkron dari sisi waktu," kata Eko ditemui di Pusat Geoteknologi LIPI, Bandung, Jumat, 26 Juli 2019.

Cerita dalam Serat Sri Nata tentang terjadinya gelombang besar di pantai Selatan Jawa itu berkaitan dengan keinginan Panembahan Senopati mendirikan Kerajaan Mataram Islam. Sebuah keinginan yang sulit mengingat ia bukanlah keturunan raja.

Untuk mewujudkan keinginannya, ia bersemedi di Batu Gilang. Saat ia semedi itulah terjadi gelombang besar hingga mengganggu kerajaan Nyai Roro Kidul. Ia pun keluar dari singgasananya dan berbicara dengan Panembahan Senopati. 

Dalam Babad Tanah Jawi juga dikisahkan, Raja Hadiwijaya yang memimpin Kerajaan Pajang siap menyerbu Panembahan Senopati yang diduga akan menggulingkan kerajaannya. Namun pasukannya terhalau oleh aliran lahar Gunung Merapi. 

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Mataram Islam berdiri pada 1586. Dari segi waktu, terdapat kesesuaian dengan bukti ilmiah yang ditemukan dari disertasi seorang ahli geologi Hindia Belanda Alfred Wichmann.

Menurut Wichman, pada kurun waktu 1584-1586 terjadi dua gempa besar yang mengguncang selatan Jawa. Pada kurun waktu yang sama, terjadi tiga letusan gunung berapi. Secara geologi pun terjadi kesesuaian dengan data yang menyebut pernah terjadi peristiwa pada 400 tahun yang lalu.

Temuan-temuan itulah yang membuat Eko menduga, mitos tersebut sesungguhnya metafora. Bahwa gelombang besar memang terjadi. Namun mitos yang dituturkan ketika itu karena ada kebutuhan politik Panembahan Senopati untuk mendapat legitimasi mendirikan Kerajaan Mataram Islam.

Kondisi sosio kultural

Sejak lama peristiwa gempa dan tsunami kerap dikaitkan dengan Poseiodon, dewa penguasa laut dalam mitologi Yunani. Namun seiring waktu manusia mempunyai kepercayaan berbeda-beda. Termasuk kepercayaan akan kekuatan Nyai Roro Kidul bagi masyarakat pesisir.

Oleh karenanya, kondisi sosio kultural masyarakat penting untuk mencermati kisah atau mitos yang terkait dengan peristiwa alam yang terjadi. Hal itu diperlajari khusus oleh geometologi.

"Penelitian geologi kalau hanya menyampaikan fakta geologi saja itu kering. Caranya membuat orang tertarik itu kalau ada wajah manusia di sana. Maka itu riset harus bersifat inter dan transdisiplin. Pandangan dari berbagai ilmu ini agar mendapat kebenaran yang tertinggi. Bukti geologi, bukti sejarah, sosiokiltural, semua kita lihat," tutur Eko.

Ia menekankan, ini tak semata mencocok-cocokkan semua hal. Namun memahami mitos yang berkembang dengan didukung oleh fakta akademis.

Geometologi sendiri sudah banyak digunakan. Misalnya Smong di Simeuleu, Aceh yang menyelamatkan banyak nyawa warga saat tsunami menerjang.

Di Jawa Barat, Eko juga menemukan cerita rakyat seperti ini. Masyarakat di Binuangeun, Lebak, mengenal Pasirgeleng yang berada 2,5 km dari garis pantai. "Geleng menurut masyarakat setempat maknanya air laut sampai di situ kemudian bolak-balik. Di titik itu ditemukan pernah terjadi tsunami 400 tahun yang lalu," kata Eko.

Cerita-cerita seperti itu bisa berbeda di setiap daerah. Ada juga yang berupa toponomi.

Eko mengatakan, apa yang ia lakukan bertujuan untuk membangun masyarakat yang rasional agar tak mudah termakan isu.

Harapannya, masyarakat waspada pada peringatan yang disampaikan turun-temurun itu. "Masyarakat menjadi awas dengan ancaman di sekitarnya dan paham apa yang harus dilakukan," kata Eko. Kesadaran itu menjadi kunci agar korban tak berjatuhan saat ancaman itu terjadi. 

Sekali lagi, ini bukan cocoklogi. Eko meyakini, ilmu pengetahuan jika tak dilanjutkan hanya akan berhenti menjadi mitos. Namun mitos bisa menjadi sains tatkala bisa diverifikasi.***

Bagikan: