Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Umumnya cerah, 20.5 ° C

Petani Heran, Saat Kemarau Ada Penutupan Saluran Irigasi 

Tim Pikiran Rakyat
FOTO ilustrasi saluran irigasi.*/DOK.PR
FOTO ilustrasi saluran irigasi.*/DOK.PR

SERANG,(PR).- Para petani di Kabupaten Serang merasa heran adanya penutupan saluran irigasi Pamarayan yang dimulai 17 Juli lalu. Hal itu dikarenakan saat ini mayoritas para petani sedang memulai masa tanam padi.

Tokoh masyarakat Desa Pegadingan, Kecamatan Kramatwatu Fadullah mengatakan, terkait dengan penutupan irigasi Pamarayan, petani di desanya banyak yang melaporkan adanya kekeringan sawah yang sudah ditanami. “Bahkan sudah sampai dipupuk dan ada pembersihan rumput dan pada saat ini kondisi hujan sudah jarang. Jadi kami meminta kepada pemerintah agar mempertimbangkan kembali penutupan saluran irigasi ini agar tidak kembali gagal panen,” ujarnya, Selasa 23 Juli 2019.

Ia mengatakan, selama ini hasil panen dengan kondisi memadai, bisa mencapai 7 ton per hektare. Bahkan desanya menjadi salah satu andalan dari produksi pertanian khususnya padi. “Dan air ini sangat diperlukan masyarakat kami supaya kami tidak gagal panen,” ucapnya.

Ketua Kelompok Tani Sri Mustika Desa Pegadingan, Sanwani berharap agar penutupan yang mulai berlaku tanggal 17 Juli bisa dialihkan ke 31 Agustus. Karena saat ini petani di Pegadingan masih sangat membutuhkan air. “Kami keberatan (penutupan). Tanaman kita baru tanam sekitar 1 bulan, apabila dialihkan ke Agustus insya Allah petani kami tidak akan gagal panen. Karena memang irigasi Pamarayan ini jadi andalan,” katanya kepada wartaan Kabar Banten, Dindin Hasanudin.

Membutuhkan air

Sementara, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang Dadang Hermawan mengatakan, pada minggu lalu, pihaknya sudah didatangi oleh para petani. Mereka mengeluhkan kondisi pertanian jalur pantura yang saat ini sangat membutuhkan air. “Karena di lapangan ada 7 kecamatan yang kondisi tanamannya sekitar 1 bulan,” ujarnya dalam rapat evaluasi dinas eselon II dan III di aula Tubagus Suwandi.

Menanggapi kondisi ini, pihaknya pun mengaku sudah berkoordinasi dengan DPUPR dan harus segera ditindaklanjuti dengan koordinasi bersama balai besar. Berdasarkan data lapangan, kondisi tanaman yang kurang air saat ini sekitar 8 ribu hektare. “Kita juga akan ada pertemuan antara para petani, dan balai untuk membuka kembali bendung Pamarayan Barat. Mungkin kalau diperlukan kami akan koordinasi sementara dengan bidang pengairan DPUPR, kata pak Kadis PU (Hatib Nawawi) sebaiknya ada surat bupati ke pihak balai,” tuturnya.

Sebenarnya, kata dia, beberapa waktu lalu sudah ada kesepakatan antara balai dan petani. Hanya saja di lapangan terjadi kendala, sehingga para petani kini mendesak agar awal Agustus saluran Pamarayan barat bisa dibuka kembali. “Jadi mudah-mudahan minggu ini ada solusi terbaik, sehingga aliran itu bisa dibuka kembali oleh balai. Sementara sudah koordinasi dan akan ada pertemuan ulang antara balai, PU dan petani, Cuma mungkin yang diberikan catatan ke petani (sebelumnya) sudah ada rapat di kejati, alasannya petani waktu puasa tidak bisa menggarap. Padahal saluran dibuka, saya bilang ini pembelajaran,” ucapnya.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan, ketika pertemuan dengan balai besar yang difasilitasi oleh distan, ditekankan kepada para petani agar komit terhadap kesepakatan yang dibuat. Karena, kata dia, pihak balai besar saat ini sedang menangani pekerjaan fisik. “Pasti mereka sudah berhitung untuk jangka waktu kontraknya, jadi petani minta dibuka pemahamannya  bahwa ini tidak bisa mengikuti ketika mereka butuh harus dilakukan. Pemahaman ini harus ngerti,” ujarnya.

Tatu meyakini dalam kondisi ini, kedua-duanya akan terkendala. Pihak balai diyakini akan bertahan ketika sudah berhitung waktu fisik atau ketika time schedule nya tidak masuk.***

Bagikan: