Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sedikit awan, 16.1 ° C

Rakornas BMKG Bahas Antisipasi Perubahan Iklim

Siska Nirmala
MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (kanan) berjabat tangan dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo ketika menghadiri pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BMKG tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019. Presiden meminta peran BMKG diperkuat dengan meningkatkan kerjasama dengan pemerintah pusat serta daerah guna memberikan pemahaman bencana kepada masyarakat dalam rangka mengurangi resiko bencana.*/ANTARA
MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (kanan) berjabat tangan dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo ketika menghadiri pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BMKG tahun 2019 di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 23 Juli 2019. Presiden meminta peran BMKG diperkuat dengan meningkatkan kerjasama dengan pemerintah pusat serta daerah guna memberikan pemahaman bencana kepada masyarakat dalam rangka mengurangi resiko bencana.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Rapat Koordinasi Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membahas persiapan antisipasi perubahan iklim yang dapat mempengaruhi ketahanan pangan.

"Yang dapat terganggu itu kan ketahanan pangan, kemudian juga ketahanan sumber daya air dan juga ketahanan energi sehingga nanti kami akan bahas dengan kementerian lembaga yang terkait," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati usai pembukaan Rapat Koordinasi Nasional BMKG Tahun 2019 di halaman Istana Negara Jakarta pada Selasa, 23 Juli 2019, seperti dilansir Kantor Berita Antara.

Menurut dia, koordinasi dengan kementerian terkait, seperti Kementerian Pertanian, dapat menghasilkan rencana penyesuaian pola tanam atau penjadwalan penanaman komoditas sehingga dapat lebih produktif.

Dwikorita menjelaskan Rakornas BMKG 2019 mengangkat tema "Antisipasi Proyeksi Perubahan Iklim Hingga Tahun 2030 melalui Inovasi BMKG untuk Layanan Multisektor".

Dia juga menambahkan upaya untuk menurunkan dampak perubahan iklim salah satunya yakni penanaman pohon atau penghijauan.

Penanaman pohon tidak hanya mampu menyerap emisi karbon untuk mengurangi dampak perubahan iklim, tetapi juga bisa menjadi "pagar hidup" untuk mengurangi laju gelombang tsunami di bibir pantai.

Selain itu Dwikorita juga menjelaskan masyarakat harus menyadari Indonesia berlokasi di kawasan cincin api sehingga risiko bencana seperti gempa bumi, tsunami maupun gunung berapi, tanah longsor hingga banjir tidak terhindarkan.

"Yang penting adalah mitigasi dan persiapan untuk menghadapi. Antisipasi dan adaptasi yang artinya kita harus sadari," kata Dwikorita.

Terkait perubahan iklim, analisa BMKG mencatat tren peningkatan suhu udara sebesar 0,5 derajat celcius dari kondisi saat ini di Indonesia pada 2030.

Musim kemarau juga semakin kering 20 persen di beberapa wilayah Indonesia seperti di Sumatera Selatan, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara pada musim hujan, jumlah hujan lebat hingga ekstrim cenderung meningkat hingga 40 persen dibandingkan saat ini.

Sebelumnya dalam sambutan pembukaan Rakornas BMKG Tahun 2019, Presiden Joko Widodo mengarahkan BMKG untuk bekerja sama dengan pemda dalam menginformasikan kawasan rawan bencana.

Selain itu, Presiden juga meminta BMKG bekerja sama dengan aparat keamanan untuk menjaga peralatan pemantauan BMKG.***

Bagikan: