Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Cerah, 28.6 ° C

Waspadai Antraks, Pastikan Hewan Kurban yang Dibeli Memiliki SKKH!

Wilujeng Kharisma
FOTO ilustrasi pemeriksaan hewan ternak.*/ANTARA
FOTO ilustrasi pemeriksaan hewan ternak.*/ANTARA

BANTUL, (PR).- Transaksi jual-beli hewan ternak, apalagi yang akan menjadi hewan kurban pada Idul Adha 2019, harus dilakukan penuh kewaspadaan karena banyak terjadi penyakit antraks. Pastikan hewan ternak itu memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH).

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Bantul, Pulung Haryadi, di Bantul pada Minggu, 21 Juli 2019. Ia mengimbau pedagang hewan ternak supaya melengkapi SKKH sebelum ternak diperjualbelikan untuk mengetahui kondisi kesehatan hewan dan mencegah peredaran hewan tidak sehat.

"Kalau bertransaksi hewan ternak, harus ada SKKH, itu kuncinya," kata Pulung.

SKKH ini dikeluarkan oleh dokter hewan di daerah asal ternak untuk mengetahui bahwa hewan yang diperjualbelikan dipastikan dalam keadaan sehat. Pihaknya telah melayangkan surat edaran kepada 10 Pos kesehatan hewan (Poskeswan) dan kepada para pedagang ternak, baik pedagang hewan tetap maupun yang dadakan.

"Sebelum ternak dipasarkan (mereka) mengabari kami, sehingga bisa kita cek. Hal ini penting untuk mengetahui kesehatan hewan kurban," tuturnya.

Selain itu, sebagai langkah antisipasi peredaran hewan ternak tidak sehat, pihaknya juga menganjurkan kepada masyarakat yang hendak melakukan pemotongan hewan supaya dilakukan di tempat yang aman. Misalnya, Rumah Potong Hewan (RPH).

Pulung mengaku tidak mau kecolongan. Berbagai langkah antisipasi telah disiapkan untuk mencegah hewan tidak sehat dipotong saat hari raya kurban. Pihaknya pun akan memeriksa kondisi hewan di 2.000 titik.

Menurutnya, ada 150 petugas yang terdiri dari dokter dan paramedis yang bertugas melakukan pemeriksaan terhadap hewan kurban. "Kita tidak mau kecolongan apabila ada hewan ternak yang masuk ke Bantul tanpa dilengkapi dengan SKKH," ujarnya.

BEBERAPA ternak sapi yang hendak dibawa ke Bandung berasal dari Kecamatan Rancah yang juga menjadi salah satu sentra sapi di tatar galuh Ciamis.*/NURHANDOKO WIYOSO/PR

Penjualan tetap ramai karena yakin masalah antraks sudah ditangani pemerintah

Sementara itu, para pedagang hewan di Pasar Hewan Siyono Harjo mengatakan, meski mereka sempat khawatir dengan banyaknya kasus antraks, namun perdagangan hewan kurban dalam dua minggu terakhir ramai. Bahkan, harga hewan kurban sempat naik. Untuk sapi yang biasanya dibanderol Rp18 juta, saat ini sudah merangkak naik di harga Rp20 juta.

Menurut salah seorang pedagang hewan, Sugiyono, hewan ternak yang berasal dari Gunungkidul diminati hingga luar Jawa. Daging hewan ternak dari Gunungkidul memiliki tekstur yang lebih kenyal dibanding daerah lainya.

"Sapi paling diminati jenis PO dan Jawa, ada beberapa sapi metal tetapi tidak banyak. Antraks juga tidak terlalu berpengaruh karena sudah ditangani oleh dinas terkait," ucapnya. 

Menurutnya, selama ini hewan-hewan ternak yang dijual di pasar tersebut belum ada yang terpapar oleh antraks. "Masih aman dan sekarang mencari kambing sedikit sulit, ditambah lagi harganya semakin tinggi. Biasanya di harga Rp2 juta lebih sedikit, sekarang Rp2,5 juta ke atas hampir Rp3 juta," katanya.

Pada hari-hari biasa, dirinya bisa membeli hingga 20 ekor kambing. Tetapi saat menjelang hari raya kurban, ia hanya bisa mendapatkan delapan ekor kambing.***

Bagikan: