Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Pendekatan Lintas Budaya untuk Cegah Kebakaran Hutan

Erwin Kustiman
null
null

BANJARMASIN : Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana menegaskan untul mencegah kebakaran hutan dan lahan, pendekatan melalui komunikasi ke masyarakat jauh lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan senjata. Untuk itu semua petugas yang diterjunkan ke lapangan sebaiknya dibekali dengan kemampuan Ilmu Komunikasi yang komprehensif.

Penegasan itu disampaikan Dr Aqua saat sharing Komunikasi dan Motivasi pada acara Pembekalan Hutan dan Lahan yang dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Banjarmasin selama dua hari, Selasa dan Rabu, 16 - 17 Juli 2019. Pada acara yang dipimpin Mayjen TNI Purn Amrin itu, Dr Aqua yang bicara di hari terakhir menyampaikan materi berjudul Mengintensifkan Komunikasi untuk Mencegah dan Menanggulangi Kebakaran Hutan dan Lahan.

Di depan ratusan peserta dari berbagai instansi  di hotel Aria Barito Banjarmasin, Bapak dua anak ini mengatakan BNPB mengungkapkan bahwa 99 persen kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi karena sengaja dibakar. Kondisi ini diperparah dengan adanya pembiaran dan pengawasan yang kurang ketat.

"BNPB telah tahu tentang hal itu sehingga lebih mudah untuk mencegah terulangnya kembali kebakaran hutan dan lahan. Jadi tahun ini diharapkan dapat mengeliminir bencana tersebut," jelas mantan wartawan harian Jawa Pos dan Bisnis Indonesia ini.

Dr Aqua mengapresiasi Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo yang punya program jitu yakni menugaskan jajaran TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan masyarakat tinggal di rumah-rumah warga di dekat hutan dan lahan yang berpotensi untuk dibakar. Dengan begitu mereka dapat berkomunikasi secara intensif dan menjalin hubungan yang akrab. Positifnya mereka yang biasa membakar hutan dan lahan jadi sungkan untuk berbuat hal yang sama pada tahun ini.

Rencananya di setiap provinsi yang rawan bencana kebakaran hutan dan lahan bakal ditempatkan sekitar 1.550 prajurit TNI, Polri, BPBD, dan masyarakat. Mereka akan ditugaskan dalam tim-tim kecil. Satu tim anggotanya 15 orang. Sekitar 4 bulan mereka tinggal di rumah-rumah penduduk di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan.

Komunikasi Lintas Budaya

Untuk efektivitas dan keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, menurut doktor Komunikasi dari Universitas Padjadjaran Bandung ini, semua petugas sebelum diterjunkan ke lapangan sebaiknya mendapat pembekalan Ilmu Komunikasi. Terutama yang perlu mereka dalami adalah Komunikasi Lintas Budaya.

Semakin mereka memahami budaya masyarakat setempat dan kearifan lokal, lanjut motivator internasional ini, makin baik. Para petugas itu akan diterima secara kekeluargaan oleh warga. Dengan begitu dialog untuk menyadarkan penduduk tentang pentingnya menjaga hutan dan lahan agar tidak terbakar lebih mudah.

Dr Aqua optimis kegiatan ini akan berhasil asal semua petugas fokus, serius, sungguh-sungguh, dan konsisten melaksanakan pekerjaannya. Tidak kalah pentingnya meniatkan aktivitas mulia itu sebagai ibadah guna menjaga hutan agar lestari sehingga kelak dapat dinikmati anak cucu.

Saat berkomunikasi dengan penduduk, Dr Aqua berpesan agar semua petugas dengan rendah hati menempatkan dirinya. Secara optimal berusaha menyesuaikan dengan kebiasaan positif sehari-hari para warga.

"Upayakanlah secara maksimal untuk berbaur dengan penduduk. Apalagi selama berbulan-bulan tinggal di rumah warga. Jangan bersikap ekslusif. Bantulah tuan rumah seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga warga merasakan sekali manfaat kehadiran para petugas di rumah mereka," tegas pria yang hobi silaturahim ini.

Contoh Restorasi Sungai Citarum

Terkait dengan upaya keberhasilan petugas selama tinggal di rumah-rumah penduduk, Aqua menyarankan agar mereka mencontoh yang dilakukan para petugas pada program Restorasi Sungai Citarum yang dilaksanakan Letjen TNI Doni Monardo saat menjabat Pangdam III/Siliwangi di Bandung. Kegiatan itu dapat jadi teladan dan role model di tingkat nasional.

Sebelum Aqua sharing Komunikasi dan Motivasi, Tim Restorasi Sungai Citarum yang terdiri dari Kolonel Inf Yudi Zanibar, Kolonel Inf Yosef, dan Kolonel Inf Chaerul lebih dulu presentasi. Mereka bercerita tentang kegiatan yang dilakukan dalam mewujudkan Citarum Harum termasuk saat tinggal di rumah penduduk. Efektif sekali dan sukses mengambil hati warga setempat sehingga keberadaan para petugas diterima warga dengan sangat baik.

"Tirulah yang dilakukan Tim Restorasi Sungai Citarum. Lakukan dengan 'ATM' yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi. Sesuaikan dengan kondisi dan situasi di tiap-tiap provinsi. Insya Allah sukses," pungkas Dr Aqua.

Rencananya minggu depan laki-laki yang jadwal sharing Komunikasi dan Motivasinya ini sangat padat termasuk di luar negeri, akan memotivasi dan membekali Ilmu Komunikasi ribuan prajurit dan sipil di tiga provinsi yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di setiap provinsi dihadiri sekitar 1.550 orang.***

Bagikan: