Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 20.5 ° C

Arswendo Atmowiloto , Wartawan yang Tersenyum di Penjara

Tri Joko Her Riadi
SEJUMLAH kerabat dan anggota keluarga berdoa di dekat jenazah Sastrawan Arswendo Atmowiloto di Rumah Duka Petukangan Selatan, Jakarta, Jumat 19 Juli 2019. Arswendo meninggal dalam usia 70 tahun karena sakit kanker prostat.*/ANTARA
SEJUMLAH kerabat dan anggota keluarga berdoa di dekat jenazah Sastrawan Arswendo Atmowiloto di Rumah Duka Petukangan Selatan, Jakarta, Jumat 19 Juli 2019. Arswendo meninggal dalam usia 70 tahun karena sakit kanker prostat.*/ANTARA

“Koran bukan hanya untuk dibaca, tetapi bisa juga menerangi. Selain dibaca dan menerangi, koran paling jitu untuk membakar".

Arswendo Atmowiloto menulis dua baris kalimat “hikmah” itu ketika meringkuk di sel penjara. Peristiwa yang dibahas sebetulnya ringan saja, yakni kebiasaan para tahanan menggunakan gulungan koran untuk membuat api selama aliran listrik padam. Mereka menyebutnya lilin cina.

Namun, lihatlah bagaimana Wendo begitu dalam merenungkan kejadian biasa itu. Menyebut koran sebagai yang “paling jitu untuk membakar”, ia barangkali hendak menyampaikan keteguhan keyakinannya pada kemuliaan kerja jurnalistik. Memiliki kuasa membentuk opini publik, pers bisa menjadi lokomotif yang menggerakan rakyat menuntut haknya.

Atau jangan-jangan Wendo sedang menyampaikan kritik? Ia mungkin sedang bicara tentang koran (pers) yang ditungganggi kepentingan politik sehingga bisa “membakar” rakyat demi kepentingan sesaat. Praktik yang makin sering mengganggu kewarasan kita akhir-akhir ini.

Dijuduli Lilin Cina, tulisan Arswendo tersebut merupakan satu dari 92 anekdot yang termuat dalam Menghitung Hari. Buku yang pertama kali terbit pada 1993 ini merupakan satu dari tiga buku yang ditulis Wendo tentang pengalamannya selama tinggal di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Dua buku lainnya adalah Khotbah di Penjara (1994) dan Surkumur, Mudukur, dan Plekenyun (1995).

Di ketiga buku tersebut, Wendo menuliskan beragam pernik hidup sehari-hari di rumah tahanan. Mulai dari yang duniawi, seperti akses air, kesempatan berolah raga, dan urusan seks, hingga yang surgawi, seperti kutipan-kutipan kitab suci dalam kebaktian atau persekutuan doa. Mereka yang membayangkan penjara sebagai tempat mencekam yang serba gelap bakal dibuat kecele oleh kisah-kisahnya yang jenaka dan seringkali konyol.

Kenapa Wendo bisa dijebloskan ke penjara, sejarah mencatatnya dengan baik. Ia kesandung kasus penistaan agama akibat angket ‘tokoh yang dikagumi pembaca’ di majalah Monitor pada Oktober 1990. Wendo ketika itu merupakan sang pemimpin redaksi.

Begitu hasil angket dipublikasikan, amarah banyak orang tak terbendung. Presiden Suharto tentu saja ada di posisi puncak, disusul beberapa tokoh besar lain, seperti Sukarno, Iwan Fals, dan bahkan Mbak Tutut. Wendo sendiri nangkring di urutan ke-10. Di bawahnya? Nabi Muhammad!

Membaca ketiga buku Wendo, kita tahu sang wartawan dan pengarang serbabisa ini tidak pernah kehilangan semangat hidup. Selama di penjara, ia tetap jenaka, ia terus tersenyum. Wendo bahkan mengambil segepok hikmah untuk dibawa pulang dan dibagikan ke sidang pembaca.

Selepas dari penjara, karier kewartawanan dan kepenulisan Arswendo tidak redup. Ia justru makin produktif, makin moncer. Tak hanya menghasilkan puluhan karya bermutu, termasuk Keluarga Cemara yang fenomenal itu, ia juga menyumbangkan banyak tenaga dan pemikiran untuk dunia pers, pertelevisian, dan kepenulisan di Indonesia. Tak terhitung berapa juta orang mengambil manfaat dari karya-karyanya.

Wartawan dan penjara

Arswendo meneruskan tradisi panjang para wartawan Indonesia yang tidak kehilangan api ketika dilempar ke dingin sel tahanan atau tanah buangan. Mereka memeliharanya dengan terus menulis, dengan terus berkarya.

Tulisan-tulisan Marco Kartodikromo tentang pembuangannya di Digul pada 1927 diterbitkan ulang dalam buku Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel (2002). Karangan Tirto Adhisoerjo dari pembuangannya di Bengkulu pada 1910 muncul dalam buku Sang Pemula (1985)-nya Pramoedya Ananta Toer, lalu belakangan dalam Oleh-oleh dari Tempat Pembuangan (2017).

Ada juga Mochtar Lubis yang menulis masing-masing satu buku untuk pengalamannya dikurung oleh dua rezim berbeda. Catatan Subversif (1980) merekam pengalamannya di penjara Orde Lama, sementara Nirbaya (2008) mencatat waktu-waktunya di penjara Orde Baru. Sebelumnya, catatan Mochtar hanya beredar dalam bahasa Belanda lewat buku Kampdagboek (1979).  

Daftar wartawan yang menulis dari penjara atau pembuangan bisa kita buat sedikit lebih panjang lagi. Ada I.F. M. Chalid Salim yang mengabadikan waktu-waktunya di Digul dalam Lima Belas Tahun Digul dan Nio Joe Lan yang menulis buku Dalem Tawanan Djepang. Sebut juga Sudjinah, Oei Hiem Hwie, Fransisca C. Fanggidaej, dan H. Suparman yang merekam pengalaman mereka terkait peristiwa September 1965. Yang kekinian, ada Ahmad Taufik yang menulis Penjara The Untold Stories (2010), lalu terbit ulang dengan judul Bisnis Seks di Balik Jeruji (2011). Dan masih ada beberapa yang lain.

Para wartawan ini, dengan cara dan gayanya masing-masing, merawat api selama di penjara atau pembuangan. Kalau Arswendo mempertahankan kejenakaannya, ada yang memilih menulis dengan kritik keras. Ahmad Taufik bahkan melakukan kerja investigatif tentang praktik menyimpang akibat bobroknya negara mengelola rumah tahanan.

Demikianlah para wartawan itu, yang dibuang atau dijebloskan ke penjara dengan berbagai dakwaan, mulai dari delik pers, pencemaran nama baik, mengganggu ketertiban umum, hingga upaya makar, mengabarkan bahwa keterbatasan, atau bahkan tekanan dan ancaman dari penguasa, tidak harus melumpuhkan kemanusiaan.

Selamat jalan, Mas Wendo! Kali ini, beristirahatlah selamanya dalam senyuman!***

Bagikan: