Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 28.1 ° C

Temannya Dipanggil Polisi, Buruh Tani Gelar Aksi Solidaritas

Tim Pikiran Rakyat

FOTO ilustrasi buruh tani masih memanfaatkan peralatan tradisional.*/ANTARA
FOTO ilustrasi buruh tani masih memanfaatkan peralatan tradisional.*/ANTARA

PANDEGLANG, (PR).- Paguyuban Solidaritas Buruh Tani (Pasobati) Kampung Kelapa Cagak dan Kampung Kubangbale menggelar aksi solidaritas di halaman Mapolsek Panimbang, Jumat 19 Juli 2019.

Aksi tersebut didasari adanya beberapa petani yang dipanggil polisi, karena diduga ada informasi perusakan alat pertanian (Combine) di salah satu sawah.

Kuasa hukum Pasobati dari LBH Tri Dharma Indonesia, Bambang Ferdiansyah menuturkan, sejumlah petani yang melakukan aksi demonstrasi tersebut merupakan aksi solidaritas, untuk mengawal rekanan buruh tani yang sedang dilakukan pemeriksaan di Mapolsek Panimbang.

"Adanya aksi, mengawal teman kami dengan didampingi LBH Tridharma Indonesia yang dilakukan pemeriksaan hari jumat (19/7/2019). Mereka merasa senasib dan sepenanggungan sebagai buruh tani, serta dengan sadar bahwa apa yang dilakukan oleh pihak pelapor dan pendukungnya adalah upaya mengintimidasi, menekan, menakuti dengan atas nama hukum dengan target mereka agar leluasa mengoperasikan Combine dengan masif di musim panen berikutnya," ucap Bambang.

Bambang mengatakan, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap para petani, sebab di daerahnya masih belum membutuhkan peralatan berteknologi masa kini, karena masih banyak para petani yang membutuhkan pemberdayaan.

"Kami tidak sedang menolak perkembangan zaman, akan tetapi kami sebagai wong cilik merasa bahwa saat ini Combine belum dibutuhkan di tanah kelahiran kami, Dusun 3 yg terdiri dari Kp. Kelapa Cagak dan Kp. Kubangbale. Karena, hadirnya Combine telah menggerus pendapatan dan telah menginjak perut kami," katanya.

Terpaksa mengusir

Sementara itu, salah seorang perwakilan petani, Taryana mengatakan, lahan yang ditunggu oleh para petani sebagai mata pencaharian warga, tidak ingin dimanfaatkan oleh orang beruang.

"Kami sebagai buruh tani, merasa lahan pencaharian kami yang ditunggu sekian bulan, saat panen tiba untuk menyambung hidup dan menyekolahkan anak telah, direnggut oleh pihak yang sudah serba kecukupan," ucapnya.

Menurutnya, yang dilakukan para petani saat ini, merupakan tindakan yang terpaksa mengusir Combine untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

"Apa yang kami lakukan dengan terpaksa mengusir Combine, tanpa melakukan tindakan yang dituduhkan "Perusakan Barang" dan dilaporkan kepada pihak Polsek Panimbang, semata mata untuk memperjuangkan kelangsungan hidup, menjaga kesepakatan yang telah diketahui bersama bahwa Combine tidak boleh masuk ke wilayah kami, dan karena ketidak tegasannya pemangku kebijakan di desa kami," ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Panimbang, AKP Sukarman mengatakan, adanya aksi tersebut merupakan rasa takut dan dalam bentuk solidaritas, karena terdapat beberapa orang yang diundang ke Mapolsek Panimbang.

"Itu karena ketakutan rekannya yang kami undang itu ditahan, padahal kami masih lakukan lidik, karena adanya laporan perusakan barang komben/alat mesin pemanen padi," ucapnya kepada wartawan Kabar Banten, Ade Taufik.***

Bagikan: