Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.8 ° C

Mendag Targetkan Ekspor 3 Komoditas ke Tiongkok Meningkat Tajam

Satrio Widianto
ILUSTRASI ekspor .*/REUTERS
ILUSTRASI ekspor .*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita memulai serangkaian langkah lobi di Tiongkok, untuk mendongkrak ekspor dengan negeri raksasa itu. Komoditas yang diharapkan dapat menjadi pendongkrak neraca ini adalah minyak kelapa sawit (crude palm oil/ CPO), buah-buahan, dan sarang burung walet.

Sebagai langkah awal, Mendag melakukan pertemuan perdana dengan perkumpulan pengusaha dalam forum investasi, untuk menaikkan ekspor sarang burung walet ke negeri tirai bambu tersebut. Diharapkan, dari kesempatan yang diberikan pihak China, Indonesia bisa memanfaatkan lobi, untuk mendapatkan setidaknya 1 miliar dolar  AS per tahunnya dari ekspor tersebut.

“Kalau kita bisa full speed produksi dan ekspor, ini kita bicara nilai 1 milar dolar annually. Tetapi kini masih terbatas," kata Mendag Enggartiasto dalam pernyataannya dari Beijing, yang diterima "PR", di Jakarta, Jumat 19 Juli 2019.

Untuk dilketahui, Indonesia merupakan produsen sarang burung walet terbesar di dunia. Sedangkan Tiongkok adalah konsumen terbesar sarang burung walet secara global. Sayangnya, Tiongkok lebih banyak mengenal produk sarang burung walet sebagai produksi dari Vietnam dan Malaysia.

Produksi sarang burung walet Indonesia setiap tahunnya mencapai 1.500 ton. Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya, atau sekitar 99% diekspor ke berbagai negara, utamanya Tiongkok. Hanya saja, ekspor langsung ke Tiongkok yang tercatat hanya sekitar 5%, sisanya banyak dijual mentah ke Vietnam, Malaysia dan Hongkong untuk kemudian diolah dan di ekspor ke Tiongkok.

Berdasarkan data yang dimiliki Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPBSI), ekspor produk sarang burung walet yang tercatat secara resmi ke Tiongkok baru sebesar 70 ton pada 2018, naik dari 2017 yang mencapai 52 ton dan pada 2016 sebesar 23 ton. Nilai ekspor tersebut, masih di bawah kuota ekspor produk sarang burung walet yang diberikan Pemerintah Tiongkok per tahunnya yang mencapai 150 ton.

“Kita harus push ini meningkat secara tajam. Dan, ini adalah kesempatan besar. Mereka minta kita untuk bicara di depan perkumpulan pengusaha. Untuk mengatur waktu khusus dengan mereka, sangat sulit. Ini adalah kesempatan berbicara dengan mereka semua dalam satu forum,” lanjut Enggar.

Mendag Enggar menjelaskan, rangkaian lobi ini mutlak diperlukan untuk menaikkan neraca perdagangan. Dia berharap, dengan kesempatan yang diberikan hari ini oleh Forum pengusaha, lndonesia bukan hanya bisa mengatasi tren penurunan ekspor.

Selain sarang burung wallet, rangkaian lobi ini juga dilakukan untuk upaya meningkatkan ekspor CPO ke negeri tirai bambu. Dalam pertemuan tingkat kepala negara, Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan Presiden Jokowi membahas kenaikan ekspor 500 ribu ton CPO dari Indonesia ke Tiongkok. Namun, Mendag Enggar akan berupaya bernegosiasi agar nilai itu bisa digandakan, menjadi 1 juta ton CPO pertahunnya.

Ia meyakini, lobi intens dengan face to face, bertemu dengan pemerintah dan pengusaha-pengusaha secara langsung, hasilnya berbeda. Hal yang sama pernah dilakukannya dengan Turki, India, dan Chile.

Langkah tepat

Ekonom Universitas Sam Ratulangi Agus Tony Poputra mengapresiasi langkah Kemendag. Ia menilai, tindakan cepat tanggap Kemendag dalam mendorong ekspor tiga komoditas tersebut merupakan langkah yang tepat. Menurutnya, CPO, sarang burung walet, dan buah-buahan adalah komoditas yang masih sangat dibutuhkan masyarakat Tiongkok.

“Apalagi buah-buahan tropikal.  itu dibutuhkan di sana. Di sana kan nggak ada buah-buahan tropikal kayak pisang, nanas, dan sebagainya. Itu cocok kita masuk ke China,” ujar Agus. Namun ia mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan produksi buah-buahan dalam negeri agar kebutuhan domestik juga terpenuhi, dan harga buah dalam negeri tidak terganggu.

Sementara untuk komoditas sarang burung walet dan CPO, Agus lebih setuju lagi untuk didorong ekspornya ke Tiongkok. Menurut dia, keberadaan kedua komoditas ini lebih siap ditingkatkan ekspornya, lantaran CPO banyak diproduksi dan membutuhkan tujuan pasar yang besar untuk menyerap ketersediaan yang ada.

“Sedangkan sarang burung walet kan biasa dikonsumsi masyarakat menengah atas ya, nggak banyak pengaruh ke masyarakat luas juga, jadi bagus lah diekspor,” tukasnya.***

 

 

 

Bagikan: