Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Umumnya berawan, 25 ° C

Sebanyak 13 Persen Warga DIY Belum Nikmati Listrik

Wilujeng Kharisma
ILUSTRASI.*/CANVA
ILUSTRASI.*/CANVA

YOGYAKARTA, (PR).- Sedikitnya 13 persen warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga kini ada yang belum menikmati akses jaringan listrik. Persoalan ini harus segera diatasi oleh pemerintah lantaran konsumsi listrik ini juga terkait dengan upaya untuk menanggulangi kemiskinan.

Juru Bicara Fraksi PAN DPRD DIY, Atmaji menjelaskan, rasio elektrifikasi DIY yang masih berada pada angka 86.27 persen atau masih ada 13 % warga DIY yang belum menikmati akses ke jaringan listrik yang ada.

"Persoalan tersebut harus diatasi, karena konsumsi listrik juga terkait upaya penanggulangan kemiskinan, di antaranya melalui pemberian subsidi energi listrik," ujarnya.

Atmaji meminta pemerintah daerah untuk mendata jumlah rumah tangga miskin yang mendapatkan subsidi energi listrik. Pihaknya pun mempertanyakan terkait warga yang masih mendapatkan subsidi tidak tepat sasaran. "Jika masih ada yang tidak tepat (subsidi ) apa yang akan pemda lakukan?, " katanya.

Atmaji juga menjelaskan DIY merupakan salah satu provinsi yang kebutuhan energinya dicukupi pasokan dari luar.

DIY hanya memiliki sumber energi baru terbarukan (EBT) dengan potensi yang sangat kecil yakni 1.78 persen dibanding cadangan dan potensi sumber daya EBT secara nasional.

Sementara berdasar data, konsumsi listrik per kapita maupun pasokan energy primer terus meningkat. Pada tahun 2013 konsumsi listrik per kapita 613.6 kwh meningkat menjadi 675.2 kwh.

Dengan kondisi yang demikian maka bagi DIY yang perlu ditekankan dalam raperda inisiatif Gubernur DIY tentang Rencana Umum Energi Daerah RUED, lebih pada aspek pengelolaan agar penggunaan energi lebih efektif. 

Selain itu juga melihat aspek konservasi energi agar DIY memberikan sumbangan pada kelestarian sumber daya energi yang ada sekaligus untuk menurunkan emisi gas karbon.

"Fokus pada raperda ini adalah upaya konservasi. Bagaimana upaya konservasi energi tersebut akan dilakukan dalam RUED ini dan bagaimana starteginya untuk mencapai sasaran yang ditetapkan, " tuturnya.

Persoalan konservasi energi juga berkaitan dengan upaya menurunkan emisi gas karbon, yang saat ini kondisinya cenderung terus meningkat. Emisi gas karbon perkapita 0.73 pada tahun 2013 menjadi 0.78 pada tahun 2015.

"Sumber utama emitor gas karbon CO2 berasal dari penggunaan BBM. Padahal, jumlah kendaraan di DIY terus meningkat dan telah menimbulkan kemacetan dimana-mana. Kemacetan itu berdampak pada penggunaan konsumsi BBM yang tidak efisien, " ucapnya.***

Bagikan: