Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 25.3 ° C

Gerindra Sebut Pertemuan Prabowo-Jokowi Tak Tiba-tiba

Muhammad Irfan
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) melambaikan tangannya saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019. Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT bersama-sama.*/ANTARA FOTO
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) melambaikan tangannya saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019. Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT bersama-sama.*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Pilihan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk bertemu Joko Widodo pekan lalu ditanggapi beragam oleh sejumlah koalisi dan relawan yang sempat mendukungnya pada kontestasi Pemilihan Presiden 2019 lalu. Ada yang memahami kalau langkah Prabowo untuk meredam polarisasi selama kontestasi, tapi ada pula yang lantang menolak karena ada anggapan iming-iming jabatan.

Menanggapi ini, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade memastikan kalau pertemuan Jokowi-Prabowo tak tiba-tiba.

Menurut Andre, sebelum pertemuan, pada 28 Juni 2019 Prabowo sudah menyampaikan kepada sejumlah elite Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi bahwa dirinya telah merencanakan pertemuan dengan Jokowi. Tak hanya itu, pada hari Jumat atau satu hari sebelum pertemuan, Prabowo juga menyurati tokoh-tokoh di kubunya terkait jadwal pertemuan.

"Isi suratnya bahwa pak Prabowo akan ketemu Jokowi hari Sabtu atau besoknya, berarti Minggu. Setelah pertemuan nanti akan diinfokan hasil pertemuan. Jadi enggak ada yang enggak transparan, semua dikasih tahu," kata Andre ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu, 17 Juli 2019.

Menurut Andre, tanggapan pihaknya kala Prabowo hendak bertemu Jokowi memang beragam. Kendati demikian hampir semua tokoh tak ada yang mempermasalahkan pertemuan tetapi hanya berpesan agar Prabowo dan Gerindra kokoh sebagai oposisi.

"Pak Prabowo bilang, ini buat bangsa, kompetisi selesai ayo kita bicara. Saya mau tahu gagasan pak Jokowi apa dan menyampaikan gagasan kita. Pertemuan sih tidak ada yang menolak, tapi berpesan untuk di koalisi. Pertemuan kan baik," ucap dia.

Andre menyebut lewat pertemuan setidaknya 200 relawan dan pemuka agama yang sempat ditahan, diberi penangguhan penahanan. Belum lagi 200 lainnya yang sedang dalam proses penangguhan. Lagi pula pertemuan juga tidak bisa diartikan merapatnya Prabowo dan Gerindra ke koalisi.

"Setelah ketemu residu ini bisa selesai, ekses bisa selesai. Dengan bertemu bicara dan komunikasi akan selesai. Bekerja sama itu tidak harus masuk dalam pemerintahan, dengan menjadi oposisi yang kontrusktif itu kan baik bagi bangsa," ucap dia.

PRESIDEN Joko Widodo (kanan) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kedua kanan) berpelukan saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu, 13 Juli 2019. Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri dengan makan siang bersama.*/ANTARA

Arah koalisi

Sementara untuk menentukan arah koalisi, Dewan Pembina Partai Gerindra akan menggelar rapat pada hari Jumat, 19 Juli 2019. Andre belum memastikan dimana rapat akan berlangsung, tetapi rapat itu akan membahas hasil pembicaraan Prabowo dengan Jokowi.

Selain itu akan ditegaskan bahwa di balik pembicaraan itu tak ada tawar menawar jabatan. "Pertemuan itu hanya demi Indonesia guyub demi bangsa bersatu kembali dan itu akan disampaikan juga dalam rapat dewan pembina. Sementara untuk arah koalisi Partai Gerindra akan diambil di September dalam rakernas," ucap dia.

Secara bertahap, Prabowo juga akan bertemu dengan para pendukung mencakup relawan hingga pemuka agama. Semua aspirasi akan didengar, ditampung, dan dikaji bersama untuk bekal Rakernas nanti.

Andre menyadari saat ini pro kontra bisa saja terjadi di internal Gerindra, tetapi setelah Rakernas, semua harus sepakat dengan arah komando partai.

"Sangat miris kalau ada orang yang memfitnah Prabowo ketemu Jokowi hanya iming-iming jabatan. Zaman SBY pak Prabowo ditawari masuk kabinet, 2014-2019 kami juga ditawari kabinet enggak kami ambil, 2018 kami ditawari jadi Capres enggak diterima. Kami 10 tahun di oposisi, baru kami yang paling lama di luar pemerintah," ucap dia.***

Bagikan: