Pikiran Rakyat
USD Jual 14.014,00 Beli 14.112,00 | Langit cerah, 18.3 ° C

Jemaah Calon Haji Diminta Waspada Hal Ini

Dewiyatini
JAMAAH melakukan shalat Jumat di Masjidil Haram dibawah suhu lebih dari 40 derajat celcius di Makkah, Arab Saudi, Jumat, 12 Juli 2019. Jamaah mulai berdatangan dari berbagai negara untuk melaksanakan ibadah Haji 1440 Hijriah.*/ANTARA
JAMAAH melakukan shalat Jumat di Masjidil Haram dibawah suhu lebih dari 40 derajat celcius di Makkah, Arab Saudi, Jumat, 12 Juli 2019. Jamaah mulai berdatangan dari berbagai negara untuk melaksanakan ibadah Haji 1440 Hijriah.*/ANTARA

BANDUNG,(PR).- Kondisi cuaca yang berbeda signifikan antara di Makkah dan tanah air, dapat menyebabkan jemaah calon haji asal Indonesia rentan terhadap penyakit. Tidak hanya dari penyakit berbahaya seperti Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), juga penyakit-penyakit ringan lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Berli Hamdani, menyebutkan sudah ada larangan dari Kementerian Kesehatan agar saat tiba di Arab Saudi, jemaah calon haji Indonesia tidak mendekati unta. Tidak menjaga jarak dengan unta, akan berpotensi terkena MERS-CoV. 

"Bisa saja, saat jarak cukup dekat dengan unta, hewan tersebut menyemburkan ludahnya. Ini sangat berbahaya," ucap Berli, Senin, 15 Juli 2019.

Imbauan ini diberikan untuk mengantisipasi penularan virus MERS-CoV dari unta ke jemaah calon haji Indonesia. Karena jika tertular ke jemaah haji Indonesia, virus tersebut akan ikut terbawa ke Indonesia sekembalinya para jemaah dari beribadah.

Virus ini, kata Berli, memiliki gejala yang tidak berbeda jauh dengan flu biasa. Gejalanya berupa demam, batuk, sesak napas dan berujung hingga gagal ginjal, pneumonia, bahkan kematian.

Belum ada vaksin

Sebagai informasi, hingga saat ini, virus MERS-CoV belum memiliki vaksin karena sifatnya yang cepat berubah. Flu unta mungkin belum banyak dikenal seperti layaknya penyakit flu burung.

Namun, flu unta sebenarnya bukanlah jenis penyakit baru. Penelitian yang dilakukan antara 2010 dan 2013 menyebutkan bahwa unta adalah salah satu agen penyebaran penyakit ini. 

Flu ini disebabkan oleh adanya serangan virus korona di organ pernapasan. Dalam beberapa kasus, penyakit ini bisa menyebabkan kematian.

Mengutip berbagai sumber, virus ini pertama kali dilaporkan pada bulan September 2012 di Arab Saudi. Oleh karena itu, virus ini disebut juga sebagai flu Arab.

Sekalipun virusnya sama seperti virus SARS yang disebabkan oleh corona virus, namun flu unta punya jenis corona virus yang berbeda. Penyakit flu unta atau MERS ini terdeteksi di beberapa negara, termasuk Eropa, Asia, sampai Amerika Utara.   

Cuaca ekstrim

Lebih lanjut, Berli mengatakan jemaah calon haji juga perlu mewaspadai perbedaan cuaca ekstrim antara siang dan malam hari. Pada siang hari, suhu akan berkisar antara 40-50 derajat celcius, sedangkan pada malam hari antara 10-11 derajat celcius. 

“Kalau malam hari akan keluar, sebaiknya memakai baju tebal atau ihram lebih dari dua lapis. Nanti di tempat ibadah dapat dibuka. Sedangkan untuk siang hari, tidak perlu memakai payung karena tidak efisien. Lebih baik menutupi kepala dengan sejadah atau sorban dari sengatan matahari,” tutur Berli.

Ancaman lainnya, adalah kendala terhadap akses air. Padatnya jemaah yang beribadah secara bersamaan, tentunya, akan menyulitkan dalam mengakses air.

Berli mengatakan, jemaah harus pandai-pandai mengatur air untuk kebutuhan mandi dan cuci. Dalam satu kelompok, kata Berli, dibuat pengaturan jadwal untuk mengakses air. 

Persoalan air juga akan terjadi saat wukuf. Jutaan jemaah akan tumplek di Arafah. Kebutuhan akan air meningkat. Namun, bila akses air dibatasi, lanjut Berli, justru akan menimbulkan persoalan baru seperti penyakit kulit.

Berli menyarankan jemaah haji akan selalu menyediakan air untuk minum agar tidak dehidrasi. Juga, selalu menggunakan pelembab untuk menghindari pecah-pecah. Ditambah lagi, mengkonsumsi asupan buah-buahan yang kaya vitamin.

Selain itu, jemaah haji yang memiliki gangguan kesehatan tidak perlu sungkan untuk memeriksakan diri. Ada tim kesehatan haji baik dari pusat atau daerah yang secara rutin memeriksa kondisi kesehatan jemaah haji. 

“Kalau merasa kurang sehat, langsung hubungi mereka segera untuk mendapatkan pengobatan,” kata Berli.***

Bagikan: