Pikiran Rakyat
USD Jual 14.006,00 Beli 14.104,00 | Sedikit awan, 18.6 ° C

Pidato Politik Jokowi Tunjukkan Optimismenya di Periode Kedua

Tim Pikiran Rakyat
PRESIDEN terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat Minggu, 1 4 Juli 2019. Joko Widodo menyampaikan visi untuk membangun Indonesia di periode kedua pemerintahannya, di antaranya pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, investasi, reformasi birokrasi, serta efektivitas dan efisiensi penggunaan APBN.*/ANTARA FOTO
PRESIDEN terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat Minggu, 1 4 Juli 2019. Joko Widodo menyampaikan visi untuk membangun Indonesia di periode kedua pemerintahannya, di antaranya pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, investasi, reformasi birokrasi, serta efektivitas dan efisiensi penggunaan APBN.*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Optimisme dinilai terpancar dalam pidato presiden terpilih untuk periode 2019-2024, Joko Widodo, pada acara Visi Indonesia di Sentul International Convention Center di Bogor, Jawa Barat, Minggu, 14 Juli 2019. Hal itu dinilai karena ia sudah memahami ttik persoalan selama memerintah di periode 2014-2019.

Pada pidatonya, Joko Widodo menyampaikan visi untuk membangun Indonesia di periode kedua pemerintahannya. Di antaranya, pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, investasi, reformasi birokrasi, serta efisiensi dan efektivitas penggunaan APBN.

Menanggapi isi pidatonya, pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Wahyudi Akmaliah, mengatakan, visi ke depan untuk membangun Indonesia bisa dinilai lebih baik. Ini dibarengi dengan sikap optimistis Jokowi yang terlihat dalam pidato tersebut plus rekam jejak kepemimpinannya di periode pertama. Menurut Wahyudi, Jokowi tidak hanya belajar, tetapi memahami titik persoalan.

“Dia paham kelemahan Indonesia di tengah arus globalisasi yang menuntut kecepatan sekaligus kecermatan. Birokrasi yang efisien dan efektif merupakan kunci utama dalam konteks ini. Apalagi di beberapa kementerian sedang mengarah ke sana dengan adanya reformasi birokrasi sebagai bagian dari tuntutan keadaan situasi global,” ucap Wahyudi.

Di sisi lain, periode ini merupakan periode terakhir Jokowi sehingga dia tidak memiliki beban lagi seperti periode pertama. Namun, optimisme ini harus dilihat juga dengan susunan menteri yang diusung oleh Jokowi dengan melihat skema antara repsentasi partai politik dan profesional atau teknokrat.

“Harus diakui, koalisi saat ini merupakan paling gemuk. Mau tidak mau, harus mengakomodasinya sebagai bagian dari stabilitas politik untuk menjalankan agenda infrastrukturnya, juga upaya pembangunan SDM sebagaimana dicanangkan,” ucapnya.

PRESIDEN terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat Minggu, 1 4 Juli 2019. Joko Widodo menyampaikan visi untuk membangun Indonesia di periode kedua pemerintahannya, di antaranya pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, investasi, reformasi birokrasi, serta efektivitas dan efisiensi penggunaan APBN.*/ANTARA FOTO

Bentuk optimisme Jokowi juga diperlihatkan lewat diksi “hajar” atau “bubarkan” yang dia gunakan dalam pidatonya. Ini bisa jadi merupakan perlawanan atas sentimen negatif yang selama ini menganggap dirinya lemah. 

“Periode terakhir tanpa beban untuk memenangkan pertarungan, harus diakui memunculkan sikap keberanian lebih jauh dalam kebijakan dan sejumlah risiko yang mungkin akan ditanggungnya,” ucap dia.

Isyarat perombakan kabinet pada tim ekonomi

Sementara, ekonom Institute for Develpoment of Economics and Finance  (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, pidato penyampaian visi presiden terpilih Joko Widodo mengisyaratkan akan ada perombakan dalam jajaran kabinet khususnya tim ekonomi. Meskipun demikian, implementasi visi tersebut akan bisa diwujudkan jika Jokowi juga bisa membenahi ego sektoral antar lembaga/kementerian dan juga dengan pemerintah daerah.

Bhima mengatakan, visi Jokowi sebenarnya sama dengan janji kampanye yang dia ucapakan sejak kampanye 2014. “Tidak ada yang baru kecuali fokus pada SDM (sumber daya manusia),” ujarnya kepada “PR”, Minggu, 14 Juli 2019.

Meskipun demikian, dirinya menyambut positif pernyataan Jokowi untuk segera memangkas birokrasi yang menghambat. Visi ini merupakan poin yang menantang terutama di era otonomi daerah yang berlaku saat ini.

“Ini yang harus ditonjolkan oleh pemerintahan Jokowi periode kedua. Seharusnya, visi tersebut dilakukan oleh pemerintah pusat juga daerah. Selama ini, realisasi implementasi juga kerap terhambat oleh aturan pemerintah daerah,” ujarnya.

PRESIDEN terpilih Joko Widodo menyampaikan pidato pada Visi Indonesia di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat Minggu, 1 4 Juli 2019. Joko Widodo menyampaikan visi untuk membangun Indonesia di periode kedua pemerintahannya, di antaranya pembangunan infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia, investasi, reformasi birokrasi, serta efektivitas dan efisiensi penggunaan APBN.*/ANTARA FOTO

Selain itu, Bhima juga menanggapi secara positif pernyataan jokowi yang akan memilih menteri-menteri yang berani.  Pemilihan kabinet yang tepat dan diisi oleh orang-orang profesional akan sangat mempengaruhi kepercayaan investor.

Bhima menambahkan, Presiden Joko Widodo juga perlu membenahi layanan perijinan terpadu daring (online single submission/OSS) jika ingin meningkatkan investasi. Layanan tersebut sering dikeluhkan investor karena bersifat tumpang tindih.

“Memang peringkat kemudahan berbisnis kita meningkat, namun tidak cukup mengejar ketertinggalan karena masalah perijinan. Kita masih tertinggal dengan negara lain seperti Malaysia dan India,”ujarnya.***

Bagikan: