Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Pameran Karya Seni Maestro, Remy Sylado yang Tak Ada Habisnya

Muhammad Irfan
KARYA-karya seniman serba bisa Remy Sylado dipajang dalam pameran bertajuk Pameran Karya Seni Maestro di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat 11-19 Juli 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR
KARYA-karya seniman serba bisa Remy Sylado dipajang dalam pameran bertajuk Pameran Karya Seni Maestro di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat 11-19 Juli 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

MEMBICARAKAN sosok Remy Sylado seolah tak pernah ada habisnya. Sang begawan serba bisa itu tampaknya tak pernah kehabisan nafas untuk berkarya. Geloranya selalu ada dan menginspirasi dari generasi ke generasi.

Hal itulah kiranya yang mencolok dalam pameran yang digelar di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat sejak 11 Juli sampai 19 Juli 2019. Mengambil tajuk “Pameran Karya Seni Maestro”, pameran kali ini dipersembahkan sebagai kado ulang tahun yang ke-74 bagi Remy Sylado. Pesannya, agar karya Remy Sylado menjadi pelatuk untuk perkembangan seni ke depan.

Sejak menapaki jalan seni, dia tak pernah tumbuh biasa-biasa saja. Lahir dengan nama Yapi Panda Abdiel Tambayong, Remy Sylado meraih penghargaan pertamanya pada 1956 lewat karya lukis yang dia buat saat bersekolah di Sekolah Rakyat. Dari situ, gairahnya pada seni dan berkesenian seolah tak ada habisnya.

Dia mengenyam berbagai mata pelajaran seni dari lukis sampai musik. Belum lagi sastra yang kemudian menjadi salah satu kelihaiannya. Tak heran kalau kemudian pameran kali ini tidak hanya menampilkan karya lukisnya, tetapi sejumlah bibliografi Remy Sylado hingga diskografinya.

KARYA-karya seniman serba bisa Remy Sylado dipajang dalam pameran bertajuk Pameran Karya Seni Maestro di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat 11-19 Juli 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

Dia juga dikenal aktif dalam dunia kewartawanan dan akademis. Menulai karier sebagai wartawan di Semarang pada 1965 kemudian menjadi redaktur majalah Aktuil Bandung (sejak 1970), Remy Sylado juga menapaki jejak sebagai dosen Akademi Sinematografi Bandung sejak 1971 dan ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung.

Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman populer, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Beberapa karyanya yang populer dan ditampilkan dalam pameran ini di antaranya buku “Ca Bau Kan”, “Sam Po Kong”, “123 Ayat Tentang Seni”, hingga “Kamus Isme-Isme”.

Dalam diskografinya terdapat sejumlah karya folk-rock seperti “Bromocorah dan Putrinya” atau “Biangnya Puisi Mbleing: Orexas”. Album yang dirilis pada 1978 itu terilhami buku berjudul sama yang juga ditulis pria yang kerap menulis namanya dengan angka not balok menjadi 23 761 itu.

KARYA-karya seniman serba bisa Remy Sylado dipajang dalam pameran bertajuk Pameran Karya Seni Maestro di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat 11-19 Juli 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

Sementara di bagian lukis, ada “Bunga Bangsa 1” dan “Bunga Bangsa 2” yang menggambarkan sosok presiden pertama dan kedua Indonesia. Ada juga sosok ibunda Yesus dalam lukisan bertajuk “Ave Maria” dan lain sebagainya.

KARYA-karya seniman serba bisa Remy Sylado dipajang dalam pameran bertajuk Pameran Karya Seni Maestro di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat 11-19 Juli 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

Stoknya sudah habis

Mustofa Bisri atau Gus Mus menyebut Remy Sylado sebagai sosok langka. Gus Mus yang hadir meresmikan pameran itu dan membacakan puisi serta doa untuk sang amestro menyebut dia serba bisa mulai dari menulis, melukis, hingga mengaransemen musik.

“Beliau ini maestro, mahkluk langka yang mungkin stoknya sudah habis,” kata Gus Mus.

Gus Mus merasa banyak berhutang rasa kepada Remy Sylado. Dia memberikan banyak pengetahuan kepada Gus Mus, salah satunya tentang definisi mata keranjang. Gus Mus juga sudah cukup lama mengenal sang maestro, yakni sejak 1970-an kala Remy Sylado menakhodai Majalah Aktuil.

“Saya selalu berpikir, bagaimana itu mata keranjang. Beliau jelaskan itu maksudnya mata ke ranjang. Tidak banyak yang tahu itu,” kata Gus Mus yang disambut tawa pengunjung.

Kepala Balai Budaja Syahnagra Ismail menyebut sosok Remy Sylado memang layak disebut maestro. Dia tidak hanya menghasilkan karya seni tapi juga hidup bersama seni.

KARYA-karya seniman serba bisa Remy Sylado dipajang dalam pameran bertajuk Pameran Karya Seni Maestro di Balai Budaja, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat 11-19 Juli 2019.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

“Dia selalu hadir di setiap acara seniman, dia mendobrak kotak-kotak seni yang ada di negeri kita. Dia mendapat penghargaan dari luar negeri. Inilah yang mendasari kami membuat pameran ini,” ucap Ismail.

Menurut Ismail, Remy Sylado juga konsisten di jalan seni. Dalam melukis misalnya, dia sudah melakukannua sejak Sekolah Rakyat dan tetap melukis sampai hari ini.

“Ini saya kira yang kita dan seluruh teman muda jadikan tempat untuk berkaca kepada tokoh. Karena tanpa menghargai pemimpin akan sulit ke depan,” ucap dia seraya menuturkan, Balai Budaja akan menjadikan pamera maestro sebagai agenda tahunan.

Lewat pameran ini, kita memang belajar bahwa manusia pasti mati, tapi karya abadi. Selamat ulang tahun Bang 23761!***

Bagikan: