Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

Industri 4.0 Berpotensi Tambah Jumlah Pengangguran

Tia Dwitiani Komalasari
REVOLUSI industri 4.0/DOK. PR
REVOLUSI industri 4.0/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Penerapan industri 4.0 berpotensi menyebabkan 600 juta orang di dunia kehilangan pekerjaannya. Meskipun demikian, revolusi digital tersebut akan mendorong lapangan pekerjaan baru.

"Di sinilah peran pemerintah dibutuhkan untuk mengarahkan pendidikan, agar SDM kita sesuai dengan perkembangan jaman. Ini tugas pemerintah, juga kita semua, termasuk swasta," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam acara Smart Business Talk with Jusuf Kalla "Making Indonesia 4.0 vs Super Smart Society 5.0" yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Jakarta,  Kamis, 11 Juli 2019. 

Dia mengatakan, industri harus bekerja sama dengan sektor pendidikan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang melek teknologi. Kalla mengakui, banyak sumber daya mausia Indonesia yang belum siap untuk memasuki revolusi industri tersebut. 

"Makanya kalau anda lihat, program pemerintah lima tahun lalu lebih banyak ke infrastruktur. Sekarang kita fokus ke peningkatam SDM," ujarnya. 

Meskipun demikian, menurut Kalla, revolusi industri tersebut dibutuhkan untuk menambah daya saing. Saat ini,  banyak industri Indonesia yang kalah saing karena kurang efisien. 

Misalnya saja industri baja tanah air yang saat ini kalah saing dengan produksi dari Tiongkok. Sebab, biaya produksi baja dari Tiongkok jauh kebih murah dari Indonesia.

Menurut Kalla, biaya produksi baja Indonesia rata rata 600 Dolar AS per ton. Sementara, biaya produksi baja Tiongkok rata rata 400 Dolar AS per ton. 

Kalla mengatakan, biaya produksi yang murah itu disebabkan karena industri Tiongkok sudah menggunakan teknologi tinggi dengan tenaga kerja lebih sedikit.

"Krakatu Steel, mesinnya buatan Jerman, namun teknologinya sudah lama. Kalah dengan teknologi baru yang lebih sederhana," ujarnya.

Meskipun demikian,  Kalla mengatakan,  perubahan itu tidak bisa dilakukan serentak. "Kalau semua otomatis,  siapa yang beli barang dan bekerja? Namun kita harus siapkan masyarakat menuju ke arah sana," ujarnya. 

Perusahaan media

Chairman CT Corp, Chairul Tanjung,  mengatakan industri media termasuk dalam sektor yang akan terkena dampak evolusi digital. "Persaingan iklan saat ini bukan hanya antar media, namun sosial media sudah jual iklan, platform e commerce sudah jual iklan, platform searching seperti Google sudah jual iklan," ujarnya. 

Menurut dia, hal itu terjadi karena adanya proses perubahan. "Oleh sebab itulah kita harus menemukan kembali model bisnis kita. Jika tidak, maka kita termasuk ke dalam media yang mengarah ke masa lalu, dead end," ujarnya. 

Sementara itu Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, Atal S. Depari, mengatakan Indonesia baru saja akan masuk pada sektor industri 4.0. Sementara, Jepang sudah memperkenalkan revolusi industri 5.0. Itu berarti,  kemajuan teknologi selanjutnya akan mengarah pada sektor yang terkait ekonomi dan sosial. 

Dia mengatakan,  sumber daya manusia harus berperan aktif dalam menghadapi revolusi dan inovasi. Apalagi revolusi industri tersebut akan berdampak pada banyak sektor seperti ekonomi,  media,  dan manufaktur.***

 

Bagikan: