Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Santri Ke Amerika? Kenapa Tidak

Muhammad Irfan
Sebanyak 120 santri asal Garut berkunjung ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019. Kunjungan tersebut merupakan agenda lanjutan dari peresmian Madrasah Digital Garut yang digelar pada bulan Ramadhan lalu.*/MUHAMMAD IRFAN/PR
Sebanyak 120 santri asal Garut berkunjung ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019. Kunjungan tersebut merupakan agenda lanjutan dari peresmian Madrasah Digital Garut yang digelar pada bulan Ramadhan lalu.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

TUJUH puluh tahun sudah Indonesia dan Amerika Serikat menjalin hubungan diplomasi. Selama rentang tahun yang tidak sebentar ini, kedua negara saling mengisi satu sama lain di berbagai bidang.

Dari sosial, budaya, politik, hingga ekonomi. Semua pihak dari kedua negara pun bisa berperan dalam hubungan ini tak terkecuali kaum santri.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R Donovan Jr saat menerima kunjungan 120 santri asal Garut yang digelar di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019. Menurut Donovan yang paling penting dari hubungan bilateral ini adalah hubungan antar sesama masyarakatnya. Oleh karena itu program untuk saling mengenal satu sama lain kini menjadi prioritas.

"Oleh karena itu kami mendorong lebih banyak lagi pelajar dari Indonesia untuk bisa melanjutkan studi di Amerika Serikat," kata Donovan.

Meski demikian, untuk sampai ke sana, calon pelajar yang hendak berangkat ke sana perlu persiapan. Pihaknya pun menyediakan sarana itu di antaranya lewat pengajaran Bahasa Inggris lewat English Teaching System di sekolah-sekolah termasuk di Jawa Barat.

"Kami juga ada jasa konseling pendidikan dimana para pelajar secara individu bisa berkonsultasi tentang pendidikan apa yang cocok buat mereka di Amerika Serikat. Dan yang paling saya sukai program-program ini gratis," ucap dia.

Dialog ini lantas diisi oleh pengenalan sejumlah institusi dan program pendidikan yang bisa diikuti oleh para pelajar Indonesia termasuk santri. Program itu di antaranya adalah Youth Exchange and Study (YES). Sementara jika santrinya bisa berangkat lewat program YES, maka pegiat dan gurunya bisa menggunakan International Visitor Leadership Program (IVLP).

Secara bergantian, sejumlah staff, alumni, hingga mahasiswa magang baik dari Indonesia dan Amerika pun memperkenalkan program-program tersebut. Beberapa di antaranya bercerita tentang kehidupan di sana dan persiapan sebelum berangkat. Penjelasan ini memantik rasa penasaran dari para santri termasuk pengasuhnya. Pertanyaan dan jawaban pun semakin menghangatkan dialog yang digelar sejak pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB ini.

Amerika yang beragam

Salah satu kekhawatiran masyarakat Indonesia ketika hendak melanjutkan studi ke Amerika adalah stigma bahwa Amerika cukup diskriminatif. Padahal, stigma ini tak benar adanya. Bahkan keberagaman menjadi salah satu persama antara Indonesia dengan Amerika.

Menurut Wakil Atase Pers Kedutaan Besar AS Sita Raiter, salah satu persamaan Amerika dan Indonesia, yaitu sama-sama negara demokratis yang menjunjung nilai-nilai toleransi dan keragaman. Selain itu, semboyan bangsa Indonesia "Bhinneka Tunggal Ika" dan semboyan AS "E Pluribus Unum" secara garis besar memiliki kesamaan makna, yakni berbeda tetapi satu.

"Pintu kami terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar mengenai Amerika Serikat," kata Sita.***

Bagikan: