Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 19.4 ° C

Pindahkan Ibu Kota, Indonesia Belajar ke Brasil

Tia Dwitiani Komalasari
KEPALA Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menyampaikan tentang rencana pemindahan ibu kota seusai rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin 29 April 2019.*/ MUHAMMAD ASHARI/PR
KEPALA Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menyampaikan tentang rencana pemindahan ibu kota seusai rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin 29 April 2019.*/ MUHAMMAD ASHARI/PR

JAKARTA,  (PR).- Indonesia belajar dari Brasil yang telah menerapkan kebijakan pemindahan ibu kota. Dalam rencana tersebut, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menegaskan bahwa pemindahan ibu kota tidak akan mengutangi hutan lindung.

“Kita ingin ibu kota baru yang Indonesia-sentris, memicu pertumbuhan ekonomi, dan mendorong pemerataan pembangunan. Ibu kota baru harus didesain dan dipikirkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Bagaimana pun Jakarta didesain dan dibangun oleh Pemerintah kolonial, VOC, Hindia Belanda, dijadikan pusat pemerintahan, dan diteruskan menjadi ibu kota negara hingga saat ini," kata Bambang dalam diskusi dengan tema “Pindah Ibu Kota Negara: Belajar dari Pengalaman Negara Sahabat” di Kementerian PPN/Bappenas, Rabu, 10 Juli 2019.

Menurut Bambang, ibu kota baru tersebut akan dibangun dengan khusus, serta memiliki tata kota dan urban planning yang sangat baik untuk penghuninya. "Untuk itu, kita harus belajar dari negara yang sudah berhasil memindahkan ibu kota, salah satunya Brasil,"ujarnya. 

Bambang mengatakan, lokasi ibu kota tersebut rencananya akan dipindahkan ke Kalimantan. Selain ketersediaan lahan luas, pulau Kalimantan juga relatif bebas bencana serta lebih Indonesia-sentris. 

"Indonesia tengah itu ada di Selat Makasar, namun Sulawesi masih rentan gempa dan tsunami. Jadi pilihannya Kalimantan,” kata Bambang.

Dia mengatakan, ide pemindahan ibu kota baru bukan hal yang baru sama sekali. Dalam 100 tahun, lebih dari 30 negara sukses memindahkan Ibu Kota.  

“Selain Brasil, banyak negara memindahkan ibu kota. Malaysia yang pusat administrasinya ke Putrajaya. Korea Selatan dari Seoul ke Sejong. Kazakhstan dari Almaty ke Astana, juga Australia ke Canberra. Pakistan, Nigeria, bahkan Mesir juga pernah memindahkan ibu kota. Namun, Indonesia punya satu keunikan, satu-satunya negara kepulauan terbesar di dunia. Kita akan pindahkan ibu kota antara pulau," ujarnya. 

Dia menegaskan, pemindahan ibu kota tidak akan mengurangi luas hutan lindung. Sebaliknya, pembangunan ibu kota baru justru mendorong reforestrasi di Kalimantan. 

“Pada saat membangun ibu kota, kita harus melakukan reforestrasi, konsep kotanya juga kota hijau sehingga hutan akan terjaga. Kalau ada kemungkinan abuse oleh investor, kita sebagai regulator harus keras. Untuk membuat kota ini terbuka, kota ini inklusif, siapa saja boleh tinggal. Di sinilah kita melihat bahwa barangkali kota ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi bagi Kalimantan,” ujarnya. 

Sebaran merata

Duta Besar Brasil untuk Indonesia Rubem Barbosa, mengatakan bahwa pemindahan ibu kota negaranya tidak hanya untuk pemerataan ekonomi, namun juga sebaran penduduk. Sepuluh tahun awal pascapemindahan ibu kota negara, pertumbuhan penduduk Brasilia mencapai 14,4 persen per tahun dibandingkan Rio de Janeiro yang hanya 4,2 persen per tahun. 

"Terkait pemindahan ibu kota Brasil ke Brasilia, ide awalnya adalah untuk menyebarkan populasi masyarakat Brasil agar menjadi lebih imbang. Sebagai ukuran sukses pemindahan ibu kota, saat ini, Brasilia memiliki pendapatan per kapita tertinggi di Brasil. Brasilia juga berjasa bagi penyebaran agribisnis karena peran sentralnya sebagai kota di tengah-tengah negara Brasil," tuturnya.***

Bagikan: