Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Sempat Ricuh, Marciano Norman Terpilih Jadi Ketua KONI Pusat

Wina Setyawatie
SUASANA Musornas 2019 yang menghasilkan terpilihnya Marciano Norman terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023 di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019.*/WINA SETYAWATIE/PR
SUASANA Musornas 2019 yang menghasilkan terpilihnya Marciano Norman terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023 di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019.*/WINA SETYAWATIE/PR

JAKARTA, (PR).- Mantan Ketua Umum PB Taekwondo Indonesia Marciano Norman terpilih sebagai Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023 secara aklamasi dalam Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas) 2019 yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019. Meskipun demikian, terpilihnya Marciano sempat diwarnai kericuhan. 

Marciano menjadi satu-satunya calon ketua umum setelah Tim Penjaringan dan Penyaringan Ketua Umum KONI Pusat periode 2019-2023 dalam sidang Pleno II membacakan putusan bahwa hanya dia yang memenuhi persyaratan. 

Musornas yang diikuti oleh utusan 34 KONI daerah dan 66 cabang serta badan fungsional di bawah KONI, awalnya berjalan adem saat pembukaan dimulai 

Pada pukul 09.15 WIB, bahkan tepukan tangan bergema, saat Ketua KONI Pusat periode 2015-2019 Tono Suratman menjelaskan mengapa Musornas digelar lebih awal, dari waktu aslinya yaitu Desember 2019. Tono menyanggah jika percepatan Musornas ini untuk memaksakan
sesuatu. 

Menurutnya, percepatan ini karena mempertimbangkan empat hal penting. "Yakni, karena KONI harus mempersiapkan atlet untuk SEA Games 2019, lalu melaksanakan Pra Pekan Olahraga Nasional (PON) di tahun ini, mempersiapkan pelaksanaan PON 2020 di Papua, dan mempersiapkan atlet untuk Olimpiade 2020 Tokyo. Karena itu butuh persiapan yang bersinergi dan berkesinambungan dengan seluruh pemangku kepentingan olahraga. Jadi lebih baik dipercepat jadi Juli dari pada waktu sebelumnya di bulan Desember," kata Tono. 

Dia pun mengklaim telah menjalankan visi dan misi KONI sesuai dengan kemampuan. Banyak prestasi pun dinilainya sudah sukses ditelurkannya.

Tono pun meminta maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah diperbuatnya selama dia menjabat. Dia mengaku tidak ada maksud untuk melakukannya, termasuk dalam membuat kebijakan. 

Media terusir

Banjir interupsi mulai terjadi ketika sidang pleno I yang dipimpin sementara oleh Wakil Ketua IV KONI Pusat K. Inugroho, dengan pembahasan tata tertib Musornas dan pemilihan pimpinan sidang tetap. Mulai ramai interupsi, media pun terusir dari ruang sidang. Media diminta untuk keluar oleh petugas keamanan bahkan yang sudah mengantongi ID peliput.  

Aksi walkout dari peserta pun mulai terjadi setengah jam kemudian setelah sidang memanas. Bahkan sempat terjadi adu fisik. 

Voter dari cabor PP Perserosi Ganjar Razuni mengatakan jika dalam Musornas ini ada pemaksaan kehendak. Sebab ada pertanyaan mendasar yang harus direspon pimpinan sidang, tapi dilewati begitu saja. 

"Misal terkait materi sidang yang tidak sesuai dengan Pasal 35 AD/ART karena di dalam hanya ada laporan hasil program. Padahal, seharusnya adalah laporan keuangan yang sudah disahkan akuntan publik. Legalitas dari akuntan publik menjadi keharusan karena bisa berimbas pada kepengurusan selanjutnya. Jika masih ada utang, tanggung jawab siapa," tuturnya. 

Bila Musornas tersebut berlanjut, maka menurutnya pihaknya akan membentuk KON (Komite Olahraga Nasional) karena di Undang-Undang juga disebut KON/KOI, bukan KONI. 

Setelah beberapa KONI Daerah dan cabor melakukan aksi walkout, kemudian La Nyalla Mattalitti yang mewakili KONI Jawa Timur pun ikut keluar. Hanya saja, dia
mengaku pihaknya tidak ikut walkout, tapi terpaksa meninggalkan sidang karena ada rapat di tempat lain. Dia pun menilai jika Musornas ini memaksakan kehendak. 

"Kasihlah kesempatan kepada floor untuk bicara yang dikehendaki. Jangan dikunci-kunci oleh pimpinan sidang. Tata tertibnya bagaimana. Mereka memaksakan kehendak dan tatib-nya lemah. Saya ingatkan, PSSI saja dulu bisa beku apalagi KONI," ujarnya. 

Berjalan tertutup

Sidang pun tetap berlanjut dengan tertutup setelah memilih Pimpinan Sidang Tetap yang terdiri dari KONI DKI, KONI Maluku Utara, dan tiga unsur Cabor serta badan fungsional di bawah KONI, yakni Anggar, SIWO, dan Yongmoodo. 

Dalam agenda selanjutnya, yakni pembacaan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Ketua Umum KONI periode 2014-2019, laporan Tono, menurut perwakilan KONI Provinsi Jawa Barat Verdia Yosef secara umum diterima oleh seluruh peserta Musornas. Hanya saja ada beberapa catatan antara lain dari Sumba, Bengkulu, cabor sepatu roda. 

"Catatannya tidak banyak, hanya datang dari beberapa peserta. Terutama terkait masalah keuangan, tapi secara keseluruhan semua menerima dan diketuk palu, hingga sah," ucapnya. 

Aksi walkout kembali terjadi ketika Ketua Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) Ketua Umum KONI Pusat 2019-2023 Amir Karyatin memaparkan hasil verifikasi bakal calon Ketua Umum yang hanya meloloskan satu calon Ketua Umum saja, yakni Marciano Norman. Sementara satu calon lainnya, Muddai Maddang tetap diputuskan tidak lolos verifikasi. 

Ada sekitar 10 KONI Daerah dan cabor yang melakukan "walkout". Meski begitu, Musornas tetap berlanjut dengan pembacaan visi misi dari satu-satunya calon Ketua Umum, karena Musornas masih tetap memenuhi kuorum.*** 

Bagikan: