Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 21.2 ° C

Semipedestrian Malioboro Nyaman bagi Semua Orang

Wilujeng Kharisma
SUASANA kawasan Malioboro, Yogyakarta, yang diuji coba menjadi kawasan semipedestrian .*/WILUJENG KHARISMA/PR
SUASANA kawasan Malioboro, Yogyakarta, yang diuji coba menjadi kawasan semipedestrian .*/WILUJENG KHARISMA/PR

YOGYAKARTA, (PR).- Wakil Ketua DPRD DIY, Arif Noor Hartanto meminta penataan kawasan pedestrian itu harus mampu menciptakan kawasan yang sangat humanis. Artinya, Malioboro mampu menghadirkan kembali ruh hubungan sosiokultural kemasyarakatan. 

"Jangan sampai nanti bobotnya terlalu ke dimensi atau ruh ekonomi semata-mata, apapun itu baik dari seluruh pemangku kepentingan yang menjadikan kawasan Malioboro untuk menyambut rezeki,” katanya di Gedung DPRD DIY, Rabu 3 Juli 2019.

Oleh karena itu, kata dia, penataan yang sudah dilakukan dan selalu dikaitkan dengan sumbu imajiner dengan sumbu filosofi terutama sumbu filosofi  tersebut. Dalam penataan ini kalangan difabel sudah menyampaikan kritik bahwa berbagai fasilitas penopang aktifitas mereka dirasa kurang optimal.

“Selain itu menghidupkan dimensi sosiokultrutal terutama dari kulturalnya harus dijaga. Dinas PU harus segera menindaklanjuti. Saya sangat berharap melalui uji coba ini jika ada kekurangan yang kemudian rekomendasinya dikaji dan dievaluasi menjadi kebijakan," ucapnya.

Malioboro diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang, baik difabel, penyandang downsyndrome dan kelompok masyarakat lainnya. "Malioboro tidak menjadi tempat eksklusif namun inklusif dan nyaman bagi semua kalangan," tuturnya. 

Pelan-pelan

Kepala pusat studi kajian pembangunan jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, Dr Hempri Suyatna mengatakan, penataan PKL harus secara pelan-pelan dilaksanakan.

PKL pun juga harus disadarkan dan mau untuk ditertibkan. “Pemkot bisa memfasilitasi itu bekerja sama paguyuban PKL. Untuk PKL nakal pun harus ditindak," ujarnya.

Menurutnya, aksi reresik Malioboro yanh sudah jalan bisa diteruskan. Hal ini bisa dilakukan dengan semacam lomba atau kompetisi kebersihan antar PKL. Meskipun demikian, di sisi lain fasilitas pembuangan sampah, pembuangan air limbah harus diperhatikan.

Standarisasi harga dan kualitas makanan juga perlu dijaga. Jangan sampai sudah jadi semipedestrian namun mental bagi pelaku usaha maupun wisatawannya masih sama. Untuk pejalan kaki juga harus dievaluasi sejauh mana kenyamanannya. 

"Terkait keluhan pengusaha di Malioboro penting diperbanyak tempat parkir di beberapa kantong. Andong dan becak juga perlu diperbanyak," katanya.

Sementara itu, Sekda DIY, Gatot Saptadi menjawab beberapa keluhan para pengusaha di sekitar Malioboro mengenai penurunan omzet.Dia berharap uji coba ini bukan hanya event sehari namun bisa dilaksanakan terus menerus.

"Nanti akan terbiasa, kami juga akan mencoba pada saat PKL buka juga. Adanya kesenian dan aktivitas di Jalan Malioboro adalah bagian untuk menonjolkan kebudayaan sekaligus mengundang orang untuk datang," ucapnya.

Adanya wacana bus untuk tidak masuk kota pun akan dipertimbangkan. Hanya saja, komitmen dari pemerintah kota mengenai kebijakan ini pun harus tegas. Pasalnya, hal itu menyangkut penyiapan kantong parkir untuk bus yang kemudian akan dibarengi dengan kebijakan lain.

"Kalau memang iya (pemkot setuju) ya difasilitasi. Kami ingin kebijakan sepahit apapun dipraktekkan biar tidak hanya menjadi teori saja untuk uji coba ini, " ujarnya.***

Bagikan: