Pikiran Rakyat
USD Jual 14.282,00 Beli 14.184,00 | Umumnya cerah, 27.1 ° C

Antraks Masih Mengancam, Ditemukan Lagi Sapi Mati Mendadak di Gunungkidul

Wilujeng Kharisma
PETUGAS Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mengambil sampel  bangkai sapi yang mati mendadak yang diduga kuat disebabkan antraks, di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kab. Gunungkidul, DIY, Senin, 1 Juli 2019.*/WILUJENG KHARISMA/PR
PETUGAS Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul mengambil sampel bangkai sapi yang mati mendadak yang diduga kuat disebabkan antraks, di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kab. Gunungkidul, DIY, Senin, 1 Juli 2019.*/WILUJENG KHARISMA/PR

GUNUNGKIDUL, (PR).- Seekor sapi kembali ditemukan mati mendadak di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kab. Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin, 1 Juli 2019. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul yang telah mengambil sampel dan mengubur bangkai sapi tersebut menyatakan dugaan kematian sapi itu karena antraks.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan, upaya pencegahan penyebaran penyakit antraks terus dilakukan. Upaya itu dilakukan untuk memastikan ternak warga tidak terpapar bakteri spora antraks.

"Kami mulai melakukan vaksin antiantraks untuk mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas," katanya Senin, 1 Juli 2019.

Bambang menuturkan, bangkai sapi itu pun sudah dikuburkan agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit. Akan tetapi, penyebab pastinya belum bisa dipastikan karena sampel yang diambil masih harus diteliti di Balai Besar Veteriner Wates, Kulonprogo. 

Namun berdasarkan pengamatan, di tempat Jumiyo sebelumnya sudah ditemukan sapi mati yang disebabkan antraks. Supaya tidak semakin meluas, upaya pencegahan dilakukan dengan memberikan vaksin ke ternak milik warga lainnya.

"Dulu yang mati sapi indukan dan sekarang anaknya. Untuk kepastian penyebab kematian, kami masih menunggu hasil uji laboratorium," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Veteriner DPP Gunungkidul, Retno Widiastuti, mengatakan, langkah paling efektif mencegah penyebaran penyakit pada ternak yang mati mendadak yakni dengan cara mengubur. Menurut dia, cara ini efektif karena bakteri di dalam tubuh hewan tidak akan keluar dan mati seiring membusuknya bangkai hewan yang dikubur. 

“Kalau disembelih malah berbahaya dan potensi penyebaran penyakit lebih luas. Sebagai contoh untuk kasus antraks bisa menyebar bersamaan dengan darah hewan yang disembelih,” katanya.

Untuk mencegah penyebaran antraks di Gunungkidul, selain terus berupaya melakukan pencegahan dengan pemberian vaksin terhadap hewan ternak, DPP Gunungkidul juga mengimbau warga untuk tidak menyembelih hewan yang mati mendadak. “Kami sosialisasikan agar hewan mati mendadak segera dikubur guna mengurangi potensi penyebaran penyakit,” ujarnya.

Ilustrasi peternakan sapi.*/DOK. PR

Ternak dilokalisasi dan lalu lintas ternak diperketat

Dengan adanya temuan ini, DPP Gunungkidul terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan. Pengawasan memang tidak hanya melibatkan petugas kesehatan hewan, tetapi juga melibatkan camat, kepala desa, hingga ketua RT dan RW.

“Sudah kami koordinasikan dan mudah-mudahan dengan pengawasan yang diperketat ini lalu lintas ternak bisa dihentikan sementara waktu, agar antraks tidak menular ke daerah lain,” katanya.

Bambang mengatakan, kebijakan melokalisasi ternak dilakukan untuk memastikan hewan bebas dari antraks. Pasalnya, pada saat bersamaan juga dilakukan vaksin terhadap ternak-ternak milik warga.

“Pemberian vaksin merupakan upaya pencegahan agar ternak benar-benar sehat. Jadi saat kurban, ternak dari Grogol 4 tidak bermasalah dan laku dijual di pasaran,” ucapnya.

Menurutnya, pemberian vaksin antiantraks ke ternak dilakukan sejak Selasa, 25 Juni 2019. Pemberian itu pun belum selesai karena ada ribuan ternak yang divaksin.***

Bagikan: