Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 22.8 ° C

Polarisasi Cebong vs Kampret dan 01 vs 02 Hambat Produktivitas Bangsa dan Negara

Muhammad Ashari
KETUA KPU Arief Budiman menyerahkan surat keputusan KPU tentang Penetapan Hasil Pemilu 2019 kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di gedung KPU, Jakarta, Minggu 30 Juni 2019.*/ANTARA
KETUA KPU Arief Budiman menyerahkan surat keputusan KPU tentang Penetapan Hasil Pemilu 2019 kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin di gedung KPU, Jakarta, Minggu 30 Juni 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Polarisasi di kalangan masyarakat terkait Pilpres 2019 harus diakhiri. Polarisasi yang berlarut-larut tidak akan produktif bagi bangsa dan negara.

Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan, ekses yang mengemuka sepanjang periode tahun politik 2019 adalah polarisasi masyarakat. Dari “kampret” versus “cebong” menjadi 01 versus 02.

"Rivalitas itu nyata-nyata tidak sehat dan juga tidak produktif. Fakta tentang polarisasi masyarakat ini harus disikapi dengan sangat serius dan bersungguh-sungguh," katanya, Minggu 30 Juni 2019.

Menurut dia, sebagai kecenderungan yang tidak sehat dan tidak produktif, polarisasi masyarakat tidak boleh berlarut-larut. Polarisasi itu akan berdampak pada ketahanan nasional.

"Pemerintah, DPR, dan semua institusi negara bersama organisasi besar di bidang keagamaan telah menunjukan keprihatinan sekaligus kepedulian terhadap masalah polarisasi ini," ujarnya.

Pilpres 2019/DOK. PR

Ia mengatakan, berbagai pendekatan terus diupayakan untuk mengakhir polarisasi. Namun, tanpa kesadaran, kemauan dan peran serta masyarakat, semua upaya pendekatan itu akan sia-sia.

"Sebab, pada akhirnya faktor penentu ada pada kemauan serta niat baik dan tulus semua komunitas di negara ini," tuturnya.

Menurut Bambang Soesatyo, seharusnya kini tidak ada lagi rivalitas politik antarkomunitas karena tahun politik 2019 yang memuncak pada Pilpres-Pileg telah berakhir dan telah difinalisasi oleh keputusan Mahkamah Konstitusi pada 27 Juni 2019.

"Biarlah panggung rivalitas politik itu selanjutnya diisi dan dilakoni oleh para politisi sebagai sarana untuk memperjuangkan aspirasi konstituennya masing-masing," katanya.

Kepentingan yang abadi

Bambang Soesatyo mengatakan, patut untuk diingat dan digarisbawahi oleh semua komunitas bahwa bagi para politisi, tidak ada rivalitas dan musuh abadi. Satu-satunya yang abadi dalam politik adalah kepentingan.

"Kalau sudah bicara tentang kepentingan, selalu muncul pertanyaan siapa mendapat apa dan siapa yang harus lebih didahulukan. Kalau sudah begitu, jelas bahwa tidak ada alasan sedikit pun bagi semua elemen akar rumput masyarakat Indonesia untuk mempertahankan atau merawat polarisasi sekarang ini," katanya.

Bambang Soesatyo mendorong semua komunitas bergiat mengakhiri polarisasi masyarakat. Harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat harus segera dipulihkan.

"Memulihkan persatuan dan kesatuan akan menjadikan Indonesia negara yang kuat dan kompetitif," ujarnya.***

Bagikan: