Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 31.2 ° C

Iwan dan Hasan, Dua Narapidana Terorisme dalam Penantian Eksekusi Mati

Puga Hilal Baihaqie
DERMAGA Wijayapura Cilacap yang merupakan pintu masuk resmi jalur laut menuju Pulau Nusakambangan. Di sana, para narapidana terorisme dipenjara, termasuk  Iwan Dharmawan Muntho alias Rois (43)  dan Ahmad Hasan (48), yang dalam proses penantian menjelang eksekusi hukuman mati.*/PUGA HILAL BAYHAQIE/PR
DERMAGA Wijayapura Cilacap yang merupakan pintu masuk resmi jalur laut menuju Pulau Nusakambangan. Di sana, para narapidana terorisme dipenjara, termasuk Iwan Dharmawan Muntho alias Rois (43) dan Ahmad Hasan (48), yang dalam proses penantian menjelang eksekusi hukuman mati.*/PUGA HILAL BAYHAQIE/PR

HAMPIR lima belas tahun, Iwan Dharmawan Muntho alias Rois (43)  dan Ahmad Hasan (48) tak dapat menghirup udara bebas. Kedua terpidana mati  dalam kasus bom Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004 itu telah beberapa kali berpindah-pindah lembaga pemasyarakatan.

Iwan dan Hasan bersama terpidana teroris lainnya, yaitu Imam Samudera, Amrozi, dan Ali Gufron alias Muklas, dipindahkan ke Lapas Batu Nusakambangan, menggunakan helipoter pada 2006. Standar operasional prosedur (SOP) penjagaan di Lapas Batu Nusakambangan diperketat. Mereka tidak memiliki akses untuk berinteraksi dengan para terpidana teroris lainnya. Satu sel hanya boleh diisi oleh satu orang.

“Para terpidana mati kasus terorisme, hanya bisa ngobrol sekitar 10-15 menit, ketika petugas Lapas memberikan waktu pada mereka untung angin-angin (keluar sesaat dari sel),” kata RA salah seorang pamong yang bertugas di Lapas Batu saat menerima Pikiran Rakyat, di Kantor Pengamanan Pelabuhan Wijayapura, Cilacap, beberapa waktu lalu.

Ternyata, jeruji besi dan tembok yang tebal tak menjadi halangan bagi sebagian teroris untuk menyebarkan paham radikalnnya. Sebagian dari teroris itu kerap berteriak-teriak untuk menyebarkan ideologinya.

Teriakan itu tentunya bisa terdengar oleh sebagian terpidana lain, termasuk oleh para terpidana kasus di luar terorisme seperti narkoba, pembunuhan, dan lainnya. Penyebaran paham radikalisme di dalam Lapas menjadi kekhawatiran pemerintah, sehingga kala itu sudah disiapkan upaya untuk memisahkan terpidana teroris dengan kasus pidana lainnya.

Sekitar 2009, perilaku Ahmad Hasan mulai berubah. Ia tak lagi se-radikal sebagaimana saat masuk lapas pertama kali. Hanya saja, sikap Iwan Dharmawan masih sama. Tak banyak berubah, ia tetap mempertahankan keyakinannya.

PULAU Nusakambangan nampak dari Dermaga Wijayapura, Cilacap. Di sanalah, narapidana terorisme dipenjara,  termasuk Iwan Dharmawan Muntho alias Rois (43)  dan Ahmad Hasan (48), yang dalam proses penantian menjelang eksekusi hukuman mati.*/PUGA HILAL BAYHAQIE/PR

Pemerintah tak lagi menempatkan keduanya di Lapas yang sama. Iwan Dharmawan kembali ditempatkan di Lapas Kelas I Batu. Kondisi Lapas Batu yang dihuni oleh Iwan sejak 2009 sangat berbeda jauh dengan kondisi ketika ia pertama kali menginjakan lapas tersebut. Pemerintah menjadikan Lapas Batu sebagai lapas dengan status Super Maximum Security (SMS).

Untuk keamanan, setiap melakukan pemeriksaan terhadap para narapidana di Lapas Batu, petugas yang datang minimal lima orang. Meski rutin melakukan pemeriksaan, wajah para petugas ditutup dengan masker dengan tujuan agar mereka  tidak saling mengenal dengan para napi.

Komunikasi pun sangat terbatas. Iwan Dharmawan hanya mau bicara bila ia membutuhkan sesuatu, yang bisa dipenuhi oleh petugas lapas. “Misalkan ia membutuhkan keperluan mandi seperti sabun atau sampo, petugas akan menyiapkannya. Termasuk untuk gunting rambut atau gunting kuku, petugas yang melayaninya. Tidak boleh ada benda tajam sekecil apapun di ruang sel,” ujar Kalapas Batu, Erwendi Supriyanto.

Pakaian pun hanya dibatasi lima setel.  Mereka tak perlu mencucinya karena sudah ada laundry yang menyiapkannya.

KEPALA Lapas Kelas I A Batu Nusakambangan, Erwendi Supriyanto.*/PUGA HILAL BAYHAQIE/PR

Setiap hari, Iwan Dharmawan dan 14 napi lainnya hidup sendiri. Mereka tak memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Satu sel dihuni oleh satu orang dengan tembok pembatas di setiap sel membuat para napi pun tak bisa saling melihat apalagi untuk berbincang.

Setiap harinya, para napi secara bergilirian diberi kesempatan 30 menit untuk keluar kamar. Ia diperkenankan untuk menghirup udara dan olah raga ringan, kemudian kembali masuk kamar. Iwan hanya diberi kitab suci Al-quran yang kerap ia baca. Pihak keluarga maupun kuasa hukum tak diperkenankan untuk memberikan benda apapun kepada Iwan termasuk buku bacaan.

Begitu juga dengan 14 penghuni Lapas Batu lainnya yang menjalani hukuman beragam. Dua terpidana dijerat hukuman seumur hidup, 12 lainnya dipenjara dengan hukuman bervariasi mulai dari 2 tahun hingga 9 tahun. Ketatnya penjara bagi napi memang tak berbanding lurus dengan hukuman yang mereka terima. Lapas Batu memang disiapkan bagi orang-orang yang memilki tingkat keamanan dengan risiko tinggi.

“Ada 12 terpidana terorisme termasuk Iwan Dharmawan yang menghuni Lapas Batu. Mereka ditempatkan di Lapas Super Maximum karena pemahaman ideologinya yang begitu kuat. Kalaupun ada napi terorisme di tempat kami yang mendapatkan hukuman di bawah 10 tahun, itu karena saat ditangkap keterlibatan dalam aksi teror tidak begitu besar. Sementara ideologi mengenai paham tersebut begitu tinggi,” kata Erwendi.

KEPALA Lapas  Kelas II A Permisan, Yan Rusmanto.*/PUGA HILAL BAYAHQIE/PR

Sementara, Kepala Lapas Kelas IIA Permisan, Nusakambangan, Yan Rusmanto, menuturkan, kondisi Ahmad Hasan sudah banyak berubah sejak delapan tahun terakhir. Pengawasan terhadapnya sudah masuk kategori medium atau dua tingkat lebih rendah dari rekannya Iwan Dharmawan.

Hasan bisa berinteraksi dengan warga binaan lainnya. Dalam satu kamar, ia tinggal bersama 13 orang narapidana lain dengan latar belakang kasus yang berbeda. Hubungan dengan napi lainnya juga terbilang baik, ia bisa bersosialisasi dan diterima oleh napi lainnya.

“Mendapatkan tempat dikalangan napi lain, merupakan sebuah kemajuan yang berarti bagi para napi terorisme. Mereka yang dulu hidupnya esklusif dan hanya mau bergaul dengan kalangan sendiri, kini berubah dan bisa menerima berbagai perbedaan dengan orang-orang sekitarnya,” ungkap Yan Rusmanto.

Kepada petugas lapas, Hasan pernah mengungkapkan rasa penyesalannya terlibat jaringan terorisme. Bahkan kuasa hukumnya dari Tim Pembela Muslim (TPM), Achmad Michdan, menuturkan, bila Hasan dan Iwan Dharmawan tidak terlibat langsung dalam kasus bom Kedubes Australia.

Di tengah penantian menjelang eksekusi mati terhadapnya, Hasan dan Iwan nampak tegar. Ia nyaris tak pernah terlihat bersedih. Pembawaan yang tenang dan kalem membuat waktu yang ia jalani berjalan normal saja.***

Bagikan: