Pikiran Rakyat
USD Jual 14.106,00 Beli 13.806,00 | Sebagian berawan, 21 ° C

Sidang MK, Soal ToT Tidak Relevan karena Tidak Didalilkan

Yusuf Wijanarko
MAJELIS Hakim MK membacakan putusan sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis 27 Juni 2019.*/ANTARA
MAJELIS Hakim MK membacakan putusan sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2019 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Kamis 27 Juni 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- MK (Mahkamah Konstitusi) menganggap training of trainers (ToT) atau bimtek yang diselenggarakan Jokowi-Ma'ruf Amin selaku pihak terkait dalam sidang sengketa Pilpres 2019 tidak relevan karena tidak didalilkan pemohon.

"Karena perihal training of trainers tidak didalilkan oleh pemohon, maka tidak ada relevansinya bagi mahkamah untuk mempertimbangkan itu lebih jauh," kata hakim MK Wahiduddin Adams saat membacakan amar putusan majelis hakim di gedung MK, Jakarta, Kamis 27 Juni 2019 seperti dilaporkan Antara.

Perihal ToT tersebut sempat menjadi pembicaraan saat saksi yang dihadirkan kubu Prabowo-Sandiaga Uno, selaku pemohon, yakni Hairul Anas Suaidi menyebut bahwa dalam ToT, tim Jokowi-Ma’ruf Amin terdapat presentasi yang berbunyi "Kecurangan adalah bagian dari demokrasi".

Akan tetapi, saksi yang dihadirkan kubu Jokowi-Ma'ruf Amin, Anas Nasikhin, yang merupakan pengisi acara sekaligus panitia ToT tersebut mematahkan pernyataan Hairul Anas.

Dia mengatakan bahwa presenatsi tersebut harus dipahami secara utuh karena dimaksudkan untuk mengagetkan agar peserta serius dalam mengikuti bimbingan, apalagi kecurangan merupakan sebuah keniscayaan.

Pada Kamis 27 Juni 2019, MK membacakan putusan permohonan perselisihan hasil Pilpres 2019 yang diajukan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno sebagai pemohon.

Sementara itu, KPU turut terlibat dalam persidangan sengketa pilpres sebagai termohon, serta pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Jokowi- Ma'ruf Amin sebagai pihak terkait.

Panggung sandiwara

Sementara itu, anggota tim kuasa hukum Prabowo-Sandiaga Uno, Teuku Nasrullah menilai MK sedang membuat perangkap-perangkap untuk menepis semua dalil yang mereka ajukan.

"Misalnya dengan menyebut ini bukan kewenangan Mahkamah, ada juga menyebut dalil tidak bisa membuktikan relevansi dengan perolehan suara, ada juga menyebut sudah diputuskan Badan Pengawas Pemilu," ujar Nasrullah, saat jeda siding.

Semua pernyataan-pernyataan itu diibaratkan perangkap oleh Teuku Nasrullah. Ia mengibaratkan itu semua bagai bait lagu Ahmad Albar.

"Dunia ini panggung sandiwara, lagunya mudah ditebak," kata Teuku Nasrullah dengan sedikit mengubah lirik lagu itu.

Akan tetapi, Teuku Nasrullah menolak menyebut MK tidak netral dalam memutuskan perkara karena itu berarti telah menghina lembaga peradilan.

"Kalau saya bilang begitu (tidak netral), berarti kami contempt of court (penghinaan terhadap lembaga peradilan). Tapi saya yakin rakyat tidak tuli dan mendengar putusan itu," ujar dia.***

Bagikan: