Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 31.1 ° C

Serangan Spodoptera Frugiperda Bisa Mematikan

Tim Pikiran Rakyat
HAMA Spodoptera Frugiperda.*/JAMES CASTNER
HAMA Spodoptera Frugiperda.*/JAMES CASTNER

SERANG,(PR).- Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang akan meminta petani menunda masa tanam jagung selama rentang waktu 1-2 bulan kedepan. Hal itu dikarenakan saat ini wilayah Kabupaten Serang mulai diserang hama mematikan bernama Spodoptera Frugiperda.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengatakan, hama berupa ulat ini sudah meluas di wilayah Sumatera Barat dan Lampung. Bahkan di wilayah tersebut sudah menyatakan siaga.

Sedangkan untuk Kabupaten Serang sudah masuk di wilayah Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer. Dari total lahan seluas 30 hektar, sudah sekitar 5,5 hektar yang terkena hama mematikan tersebut. “Daun dan pucuk tanaman jagung disana habis semua. Baru sekitar seminggu lalu. Habis semua pucuknya, tanaman jagung muda habis yang bakal buah,” ujarnya kepada wartawan Kabar Banten, Dindin Hasanudin, Kamis 27 Juni 2019.

Zaldi menuturkan, Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH) saat ini sudah merekomendasikan kepada petani untuk melakukan eradiksi (pemusnahan) tanaman jagung seluas 5,5 hektar tersebut paling telat dalam waktu satu minggu. “Mohon Kecamatan Jawilan, Petir, Pamarayan, Baros dan lainnya waspada terhadap Spodoptera Frugiperda. Laporkan bila ada serangan karena intensitas serangan berkembang cepat,” katanya.

Namun, kata dia, dalam upaya pemusnahan ini yang menjadi kendala para petani pemilik tanaman sendiri. Sebab mereka masih berharap agar jagung itu masih bisa menghasilkan. “Jadi kendala di petani harus ada musyawarah bagaimana baiknya,” ucapnya.

Ia mengatakan, hama tersebut sangat merusak. Berdasarkan hasil pengamatan tentang ulat, biasanya mereka hanya menyerang saat malam hari. Namun untuk hama ini mereka menyerang saat malam dan siang hari. Bahkan, kata dia, jika tanaman inangnya habis, mereka akan memakan temannya sendiri alias kanibal.

Disinggung soal pengendalian, Zaldi menjelaskan, bisa dilakukan melalui pestisida. Namun kebetulan jika diamati, saat ini ulat tersebut masuk dalam fase jadi kepompong. Dengan demikian, jika disemprot dengan pestisida sekalipun pengaruhnya tidak terlalu besar. “Kalau sudah kepompong fase selanjutnya nanti penyeberannya lebih luas lagi. Jadi tetap pengendalian dengan pestisida, walau sekarang belum banyak tersedia pestisidanya. Karena belum pernah ada di Serang (pestisida),” tuturnya.

Zaldi mengatakan, berkaca pada literatur, hama ini bisa saja menyerang cabe, terong-terongan hingga padi. Karena memang hama ini masih atu famili dengan hama yang biasa menyerang padi. “Hanya beda spesies, jadi kemungkinan bisa menyerang padi juga. Tapi belum pernah ditemukan di padi, di Lampung dan Sumbar juga menyerang baru jagung,” ucapnya.

Ia mengatakan, jika kemudian hama ini semakin meluas, pihaknya akan meminta bantuan pemerintah pusat dan provinsi untuk pestisida hama khusus. Selain itu, untuk antisipasi penyeberannya, sementara waktu tanamn jagung berheni tama dulu sekitar 1-2 bulan. “Supaya jagungya habis dulu, dan mereka tidak berkembang biak. Sekarang kita lihat dulu, karena masih fokus di Anyer. Kalau fasenya bisa nyebar cepat ke Jawilan, Kopo, Pamarayan, bahkan nyebrang ke Pandeglang dan Lebak,” ujarnya.***
 

Bagikan: