Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 24 ° C

Akibat Gelombang Tinggi Nelayan Urung Panen Ikan

Eviyanti
RATUSAN kapal kapasitas di atas 20 gross tone diparkir di kolam Pelabuhan perikanan Samudera Cilacap PPSC.  Kolam parkir PPSC mampu tampung 300 kapal.*/ EVIYANTI/PR
RATUSAN kapal kapasitas di atas 20 gross tone diparkir di kolam Pelabuhan perikanan Samudera Cilacap PPSC. Kolam parkir PPSC mampu tampung 300 kapal.*/ EVIYANTI/PR

CILACAP, (PR).- Gelombang tinggi di  sepanjang wilayah selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi penghalang nelayan untuk panen ikan. Cuaca buruk, gelombang tinggi, dan angin kencang datang bersamaan dengan datangnya musim ikan.

Angin kencang dan gelombang tinggi pengaruh dari angin timuran, menurut Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap Sarjono bertanda mulai berlangsung musim ikan, "Sekarang musim angin timuran, sesuai ilmu titen (ilmu warisan leluhur) nelayan, biasanya datang bersamaan dengan musim ikan," katanya.

Musim panen ikan sudah dimulai sejak Ramadan, hasil tangkapan nelayan melimpah,  ikan hasil tangkapan mulai dari ikan tongkol, ikan tuna, sampai  baby tuna. Namun menjelang Idulfitri hampir semua nelayan pulang kampung untuk berlebaran dengan keluarganya.

Sarjono yang memiliki 4 kapal dengan kapasitas di atas 20 gross ton mampu menghasilkan lebih dari 2 ton ikan baby tuna dan tongkol dalam sehari. "Sehingga nelayan bisa berlebaran, sampai saat ini uang nelayan belum habis," katanya.

Pasca Lebaran muncul gelombang tinggi dan angin kencang. Sehingga sampai saat ini nelayan masih belum bisa melaut. Dia memperkirakan nelayan mulai beraktivitas pada Senin 17 Juni 2019 untuk meneruskan panen ikan, berdasarkan prakiraan cuaca gelombang tinggi mulai mereda dan berangsur angsur normal.

Hal yang sama diakui Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang, Tarmuji, hasil tangkapan nelayan sebelum Lebaran naik hingga empat kali lipat dibanding bulan sebelumnya. "Saat datang angin timur bertanda mulai memasuki musim ikan, musim ikan diperkirakan berlangsung tiga sampai empat bulan ke depan, asal gelombangnya landai hasil tangkapan berlimpah," katanya.

Prakirawan BMKG Pos Pengamatan Cilacap Rendy Krisnawan, menyebutkan gelombang tinggi yang saat ini berlangsung di laut selatan Jawa Tengah/DIY dipengaruhi oleh tiupan angin kencang musim angin timur. ''Jadi bukan dipengaruhi supermoon, atau posisi bulan terdekat dengan bumi,'' katanya.

Kecepatan angin di Samudera Hindia saat ini mencapai sekitar 25 knot. Angin bertiup dari arah tenggara ke ke barat laut. Angin dengan kecepatan setinggi itu, bisa menyebabkan gelombang laut setinggi 4-6 meter.

Kondisi demikian  diperkirakan akan berlangsung hingga 15 Juni 2019.

Saat ini selama nelayan pulang kampung, ribuan kapal nelayan diparkir di sejumlah lokasi tambat kapal, seperti di  kolam Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) sepanjang sungai atau Kali Yasa, pinggir laut sepanjang Pantai Teluk Penyu, hingga  Pantai Tegal Kamulyan, dan Pantai Lengkong.***

 

Bagikan: