Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Gelombang Tinggi, Memperindah Pantai Baron

Wilujeng Kharisma
GELOMBANG tinggi berdampak positif terhadap kawasan Pantai Baron. Pantai Baron berubah menjadi sangat indah dan ramah bagi wisatawan.*/DOK. PR
GELOMBANG tinggi berdampak positif terhadap kawasan Pantai Baron. Pantai Baron berubah menjadi sangat indah dan ramah bagi wisatawan.*/DOK. PR

GUNUNGKIDUL, (PR).- Gelombang tinggi di sepanjang pantai selatan di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengubah Pantai Baron menjadi tempat bersih dan ramah bagi wisatawan untuk bermain air tanpa harus ke ke bibir pantai.

Koordinator SAR Satlinmas Wilayah II Gunung Kidul, Marjono di Gunung Kidul, Kamis 13 Juni 2019, mengatakan pasir yang sebelumnya hanyut ke tengah saat gelombang tinggi pada 2018 kembali ke tempat semula.

Alisan bawah tanah Pantai Baron yang mencapai tiga sampai empat meter menjadi satu hingga satu setengah meter, sehingga cocok untuk bermain air. "Kawasan pantai yang sebelumnya batuan karang akibat abrasi kembali tertutup pasir. Terutama di kawasan pantai yang berpasir putih kembali bersih dan pasirnya semakin luas," kata Marjono.

Menurut dia, gelombang tinggi dari Selasa hingga Rabu 11-12 Juni 201 menyebabkan pasir dari tengah laut terbawa ke pinggiran."Gelomang tinggi tahun ini berdampak positif dan negatif. Dampak positifnya kawasan Pantai Baron berubah menjadi sangat indah dan ramah bagi wisatawan. Kemudian dampak negatifnya, nelayan tidak bisa melaut sehingga mereka tidak ada pendapatan," ucapnya.

Marjono mengatakan tinggi gelombang pada Kamis ini sekitar 14 kaki atau sekitar 3,5 meter, namun tergolong landai karena puncak ketinggian gelombang ada di tengah.Pengunjung yang memadati pantai Baron pun bisa bebas bermain di sekitar sungai karena kedalamannya sekarang hanya sekitar satu meter untuk sebelah timur. Sementara sisi barat masih agak dalam.

Sampai saat ini, kata dia, nelayan masih belum melaut, dan kemungkinan Jumat (14/6/2019) sudah ada beberapa yang berangkat."Kami sudah menginformasikan kepada nelayan, pedagang dan wisatawan untuk waspada terkait gelombang tinggi. Sejumlah lapak pedagang, dan kapal nelayan pun sudah dievakuasi ke lokasi yang aman," tuturnya.

Marjono mengatakan dampak dari gelombang tinggi menyebabkan empat kapal yang mengalami rusak ringan akibat hantaman gelombang. Petugas SAR juga memasang rambu dan terus memberikan peringatan kepada pengunjung.

"Fenomena ini tahunan, jadi kami sudah mengantisipasi sejak dua hari lalu dengan memberikan peringatan kepada nelayan dan pedagang," ucapnya.

Bendahara Kelompok Nelayan Mina Samudra Pantai Baron, Sarno mengatakan sejak gelombang tinggi di pantai selatan, sekitar 230 nelayan yang berada di Pantai Baron tidak melaut."Selama tidak melaut, nelayan saat memilih untuk fokus memperbaiki alat tangkap atau kegiatan lainnya," katanya.  

Gelombang tinggi

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta merilis informasi terkait potensi adanya gelombang tinggi di perairan sisi selatan pulau Jawa.

Melalui sosial medianya, BMKG menyebut pada Kamis (13/6/2019) gelombang pantai di selatan pulau Jawa khususnya yang berada di kawasan DIY (Kulon Progo, Bantul dan Gunungkidul) berpotensi mencapai empat hingga lima meter.

"Tinggi gelombang laut di perairan selatan DIY diprakirakan mencapai 4,0 - 5,0 meter dengan pergerakan dari selatan ke utara," tulisnya seperti dikutip “PR” dari akun media sosial resmi BMKG, Kamis (13/6/2019).

Dengan adanya potensi tersebut, BMKG meminta masyarakat khususnya wisatawan dan nelayan untuk mewaspadai adanya potensi gelombang tinggi tersebut. "Beberapa hari terakhir ini tinggi gelombang mencapai sekitar 5 meter dan meski menurun tinggi gelombang masih dalam kisaran 3 hingga 4 meter. Dari prediksinya, hingga tanggal 16 Juni mendatang gelombang masih tinggi," beber Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Sigit Hadi Prakosa.

Sigit memprediksi gelombang tinggi ini pun masih akan terus terjadi hingga Agustus mendatang dengan ketinggian fluktuatif. Gelombang tinggi, jelas terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara yang cukup signifikan antara benua Australia sebagai pusat tekanan udara tinggi yang mencapai 1.027 milibar dengan benua Asia sebagai pusat tekanan udara rendah dengan tekanan 1.004 milibar.

"Perbedaan udara yang cukup besar berdampak peningkatan kecepatan angin yang kemudian mengakibatkan gelombang tinggi di laut selatan Jawa. Angin dari Australia menuju Asia meningkat kecepatannya dan melewati Samudera Hindia sehingga gelombang tinggi ini juga terasa di DIY," ujarnya.***

Bagikan: