Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Pungli Pinjaman Bank, Guru SD Kena Operasi Tangkap Tangan

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI pungli DOK. PR
ILUSTRASI pungli DOK. PR

SERANG, (PR).- Kasus operasi tangkap tangan (OTT) di UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kecamatan Taktakan, Kota Serang, telah masuk ke meja persidangan. Dalam sidang tersebut, terdakwa Adang Suganda (58), seorang guru SD berstatus ASN terbukti telah melakukan pungutan liar (pungli) untuk memuluskan proses pinjaman sejumlah guru di bank.

Berdasarkan pantauan wartawan Kabar Banten, Rifat Alhamidi, sidang lanjutan kasus OTT, Senin 10 Juni 2019 menghadirkan saksi-saksi dari kepolisian dan pihak Bank Jabar Banten (BJB) Cabang Serang. Terdakwa Adang Suganda, juga dihadirkan bersama terdakwa lainnya yang merupakan Bendahara UPT Dindikbud Kecamatan Taktakan Edy Purwanto.

Saksi dari pihak kepolisian, Briptu Nuraini menyatakan Satreskrim Polres Serang Kota telah mengamankan barang bukti sebesar Rp1,9 juta dalam OTT dua oknum ASN tersebut. Menurut Nuraini, penyelidikan dugaan pungli ini bermula saat ia mendapat perintah dari atasnya untuk melakukan penyelidikan pada 16 Oktober 2017.

"Pada hari Senin 16 Oktober, saya sedang melakukan penyelidikan di kantor UPT bertemu saudara Asep yang mau menyerahkan uang administrasi. Uang itu diserahkan karena mertuanya bernama Nuriah (guru) baru melakukan pencairan," tutur Briptu Nuraini kepada majelis hakim yang diketuai Muhammad Ramdes.

Dari keterangan yang ia peroleh, orang yang dia temui di kantor UPT mengaku hendak menyerahkan uang Rp 600 ribu sebagai biaya administrasi pencairan kepada terdakwa Edy Purwanto. Dalam penyelidikan itu, dirinya bersama Asep kemudian masuk ke dalam ruang kerja Bendahara UPT Dindikbud Kecamatan Taktakan tersebut.

"Dia menyerahkan uang ke saudara Edy sebesar Rp 600 ribu. Itu uang administrasi, di ruang kerja saudara Edy," kata Briptu Nuraini yang juga disaksikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Serang Subardi.

Pengintaian

Setelah memastikan temuan tersebut, dia kemudian melaporkan hal ini kepada pimpinannya pada 23 Oktober 2017. Dibantu oleh 3 anggota Satreskrim Polres Serang Kota, Briptu Nuraini kemudian melakukan pengintaian di sekitar kantor UPT Dindikbud.

"Pada 23 Oktober, Edy meminta kekurangan uang Rp 400 ribu. Di situ kita lakukan OTT di halaman kantor UPTD, uang di serahkan di depan kantor BMKG. Pada saat OTT, barang bukti yang diamankan Rp1,9 juta. Rinciannya Rp1,5 juta dari saudara Majni (guru) dan Asep 400 ribu," tuturnya.

Saksi lainnya, Nova yang merupakan pegawai BJB, membenarkan ada beberapa guru di Kecamatan Taktakan yang melakukan pengajuan pinjaman ke bank. Namun sepengetahunnya, nominal pinjaman tersebut bervariatif. Sehinnga, dia tidak mengingat secara detail berapa pinjaman yang diajukan para guru-guru tersebut. "Iya ada, cuma saya tidak ingat (jumlah detailnya)," kata Nova di hadapan majelis hakim.

Diketahui, terungkapnya kasus pungli ini bermula saat penyidik kepolisian mengamankan 2 ASN Disdikbud Kota Serang pada Senin (23/10/2017). Keduanya Adang Suganda (58) seorang guru SD dan Bendahara Kantor UPT Disdikbud Kecamatan Taktakan Edy Purwanto. Mereka ditangkap atas dugaan bermain dalam rekomendasi pengajuan pinjaman ASN ke BJB.

Dalam kasus ini, Adang berperan mengumpulkan uang dari hasil pungli dari ASN yang mengajukan pinjaman. Uang hasil pungli tersebut kemudian diserahkan kepada Edy. Dari OTT tersebut petugas mengamankan barang bukti berupa uang Rp 1,5 juta, dari total uang sebesar Rp 1,9 juta dari tangan kedua ASN tersebut.

Saat menjalankan aksinya, mereka melakukan modus pengajuan peminjaman bank yang dilakukan ASN harus melalui tanda tangan dari Edy. Melalui kuasanya itu, Edy lantas memanfaatkannya dengan meminta uang sebesar Rp 1,5 juta. Jika uang tersebut tidak diberikan, maka Edy enggan menandatangani rekomendasi peminjaman.***

Bagikan: