Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 16.4 ° C

Gubernur DIY Syawalan Bersama Ribuan Warga

Mukhijab
GUBERNUR DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisuri GKR Hemas halalbilhalal atau open house melaksanakan halalbihalal dengan ribuan warga,  di Bangsal Kepatihan, Senin, 10 Juni 2019.*/ MUKHIJAB/PR
GUBERNUR DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisuri GKR Hemas halalbilhalal atau open house melaksanakan halalbihalal dengan ribuan warga, di Bangsal Kepatihan, Senin, 10 Juni 2019.*/ MUKHIJAB/PR

YOGYAKARTA, (PR).- Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan permaisuri GKR Hemas serta Wakil Gubernur Paku Alam X dan istri melayani halalbilhalal atau open house untuk ribuan warga dan aparat sipil negara, di Bangsal Kepatihan, Senin, 10 Juni 2019.

Kabag Biro Umum, Humas, dan Protokol Sekretariat Daerah DIY Ditya Nanaryo Aji menyatakan  peserta open house mencapai lima sampai enam ribu orang. Jumlah peserta tersebut diluar dugaan. Acara serupa tahun silam pesertanyan tidak mencapai lim ribu orang.

Kegiatan rutin menyambut Lebaran Idulfitri selalu diselenggarakan oleh Sekretariat Daerah DIY setiap tahun. Pada sesi ini warga bebas mengikuti halalbilhalal tanpa seleksi.

Warga tidak perlu mengisi buku tamu atau menunjukkan undangan untuk bisa bersalaman dengan Sri Sultan dan permaisuri. Setiap warga yang ikut silturahmi cukup memakai pakaian harian, tidak perlu mengenakan baju tradisional pranakan layaknya open house antara raja dan warga.

Tradisi Jawa

Halal bilhalal juga diselengarakan civitas akademika Unibersitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan sejumlah kampus lain. Para pimpinan universitas, dosen, karyawan, dan sebagian mahasiswa saling bersalaman untuk menyampaikan ikrar saling memaafkan.Rektor UNY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa M.Pd menyatakan  tradisi syawalan atau halal bihalal dirintis oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I  (Pangeran Sambernyawa). Pemimpin Surakarta itu menggunakan syawalan untuk mengumpulkan para punggawa dan prajurit di balai istana usai salat Idulfitri. Para punggawa sungkem kepada Sang Raja dan Permaisuri.

"Dari asal kata halalbihalal diambil dari  bahasa Arab. Artinya  boleh’ atau ‘diizinkan’ digabungkan dengan kata penghubung bi yang berarti ‘dengan’. Sehingga berarti halal dengan halal, artinya saling menghapus segala hal yang dilarang, seperti dosa dan kesalahan terhadap orang lain. Tetapi negara-negara Arab tidak mengenal  tradisi ini. Orang bersalaman saling memaafkan, silaturahmi, ini betul-betul khas Indonesia," ujar dia.

Dia menegaskan, istilah halal bilhalal ditemukan juga dalam kamus bahasa Jawa-Belanda kumpulan Dr. Th. Pigeaud,  terbit 1938. Adapun kata yang tercantum bukan halal bihalal melainkan ‘alal behalal’. Kamus bahasa Indonesia membakukan istilah  ‘halalbihalal’ yang berarti acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran dan merupakan suatu kebiasaan yang khas Indonesia.***

Menurut dia, masyarakat Jawa menyajikan sejumlah makanan khas pada setiap syawalan atau lebaran berupa ketupat. "Ketupat kependekan dari ngaku lepat (ku-ngaku dan pat-lepat). Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Sungkeman sebagai implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) atau   hormat kepada orang tua, dengan bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan," kata dia.

Cara sungkeman, duduk bersimpuh di depan orang yang lebih tua seraya memohon ampun dan mengharap ridho orangtua.***


 

 

Bagikan: