Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 23.7 ° C

Nelayan dan Warga Kampung Laut Sudah Mulai Terbiasa dengan Buaya Muara

Eviyanti
BUAYA muara kerap terlihat tengah berjemur di sekitar hutan mangrove Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Meski demikian, warga kini mulai terbiasa dengan kehadiran buaya tersebut sehingga untuk para nelayan jaring apung sudah beraktivitas kembali.*/ISTIMEWA
BUAYA muara kerap terlihat tengah berjemur di sekitar hutan mangrove Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap. Meski demikian, warga kini mulai terbiasa dengan kehadiran buaya tersebut sehingga untuk para nelayan jaring apung sudah beraktivitas kembali.*/ISTIMEWA

CILACAP, (PR).- Warga Kampung Laut Cilacap Jawa Tengah nampaknya sudah mulai akrab dengan kemunculan buaya muara (Crocodylus porosus) yang kerap terlihat di hutan mangrove Desa Ujungalang di kawasan Laguna Segara Anakan. Polisi Kehutanan (Polhut) Badan Kobservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng Resor Konservasi Wilayah Cilacap kesulitan untuk mendekteksi sarang atau keberadaan buaya muara itu, karena munculnya itu sewaktu-waktu.

Camat Kampunglaut Nurindra mengaku buaya tersebut sering muncul ke permukaan, "Tiga kali saya kepergok buaya, terakhir pekan lalu dua hari berturut-turut  sekitar hutan mangrove desa Ujung Alang, bahkan saya sempat mendekat dan memotretm, tapi  buaya tersebut kemudian  pergi," katanya Selasa, 28 Mei 2019.

Buaya muara sering terlihat di tanah timbul kawasan hutan mangrove yang tidak ada penduduknya, atau sekitar alur atau jalan terobosan menuju Nusakambangan. Jalan terobosan tersebut oleh warga dinamakan tikungan Buaya, dulu merupakan habitat karena sering dijumpa buaya muara. Sebenarnya alur tersebut sering  digunakan warga untuk ke Nusakambangan soalnya jarak tempuhnya lebih dekat. Ada jalan lain namun harus memutar lebih jauh,  

Keberadaan buaya nampaknya sudah akrab bagi nelayan dan warga Kampung Laut. Terbukti, nelayan kini sudah berani menebar jaring apung setelah selama kemunculan buaya aktifitas nelayan jaring apung vakum. "Jarak antara lokasi buaya biasa berjemur dengan jaring apung hanya 200 meter. Sudah dua hari ini nelayan sudah mulai berani beraktifitas," jelasnya. 

Mungkin nelayan berabi karena proses menebar jaring apung tidak harus turun atau menyelam ke air. Berbeda dengan nelayan kepiting yang sampai saat ini masih belum berani beraktifitas karena untuk mencari kepiting mereka harus menyelam di sela-sela mangrove. "Kalau naik perahu saja kita masih deg-deg-an soalnya buaya besar  apalagi menyelam nelayan kepiting terutama masih belum berani. Meski demikian sudah ada keberanian warga untuk beraktifitas mencarai nafkah di laut, Soalnya sudah sejak tiga pekan terakhir ini nelayan libur ada buaya berkeliaran," tambahnya.

Terkait kemunculan buaya muara itu, pihaknya sudah menghimbau warga Kampunglaut, terutama warga Desa Ujungalang, yang biasa mencari ikan di perairan itu agar waspada dan berhati-hati agar tidak menjadi mangsa buaya itu. Koordinator Polisi Kehutanan (Polhut) BKSDA Jateng Resor Konservasi Wilayah Cilacap, Endi Suryo Heksianto mengaku kesulitan untuk mendekteksi sarang atau keberadaan buaya muara itu, karena munculnya itu sewaktu-waktu.

Padahal jika pernah mengetahui kemunculan buaya itu maka akan lebih gampang dalam mendektisi buaya itu, baik jenis serta ukurannya. Sekaligus pula kemungkinan keberadaan sarangnya. "Untuk sementara dugaan sarang buaya itu berada di hutan pantai utara Nusakambangan," katanya.***

Bagikan: