Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sebagian cerah, 32.4 ° C

Stunting Menghambat Generasi Emas Indonesia 2045

Dhita Seftiawan
MANAJER Riset dan Konsultasi SEAMEO Recfon Grace Wangge menjelaskan masalah stunting dalam Media Briefing di Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.*/DHITA SEFTIAWAN/PR
MANAJER Riset dan Konsultasi SEAMEO Recfon Grace Wangge menjelaskan masalah stunting dalam Media Briefing di Universitas Indonesia, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.*/DHITA SEFTIAWAN/PR

JAKARTA, (PR).- Stunting masih jadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak di bawah usia 5 tahun di Indonesia. Kondisi tersebut harus segera dientaskan karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045.

Penduduk di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi paling rawan terkena stunting.

Peneliti Utama dari South East Asia Ministers of Education Organization Regional Center for Food and Nutrition (SEAMEO Recfon) Umi Fahmida menuturkan, kemungkinan anak dari keluarga perokok menjadi stunting lebih besar dari anak keluarga tanpa perokok. Hal tersebut sesuai dengan hasil analisis data dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) 2018. 

Sementara itu, ucap dia, belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga (12,4 % dari pengeluaran rumah tangga). Ini setara dengan dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli sayur-mayur (8.1%) serta telur dan susu (4.3%).

“Bayangkan, kalau yang 12 % itu disisihkan, akan sangat berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang itu bisa dibelikan sesuatu yang berguna, mungkin dibelikan telur, ikan sayur dan buah,” kata Umi dalam Media Briefing Pendidikan Gizi dan Generasi Emas Indonesia 2045, di Universitas Indonesia Salemba, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.

Berdasarkan studi dari Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia, anak-anak dari keluarga perokok kronis memiliki kecenderungan untuk tumbuh lebih pendek dan lebih ringan dibandingkan dengan anak dari keluarga tanpa perokok. Umi menegaskan, akar persoalan stunting bisa dilihat dari 3 hal. 

“Pertama, yang langsung itu karena asupan gizi anak jelek atau kurang. Kedua, dipengaruhi oleh seringnya anak sakit sehingga penyerapan zat gizi tidak optimal. Ketiga, adalah pengaruh pola pengasuhan keluarga. Keluarga ini bukan cuma ibu. Tetapi juga bapaknya," ujar Umi. 

Ia menegaskan, selain faktor kondisi ekonomi dan pola asuh keluarga, komunitas antara lain seperti akses pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan dan ketersediaan pangan berpengaruh besar terhadap stunting. Ia mengatakan, SEAMEO Recfon dengan The Union-Bloomberg sedang melakukan studi untuk menilai potensi peningkatan pajak dan cukai rokok dan pemanfaatannya untuk program gizi terkait stunting di Indonesia.

"Sebagai organisasi bidang pangan dan gizi yang bekerja sama denhan menteri-menteri pendidikan se-Asia kami terus berkontribusi dalam program-program pengentasan stunting ini," katanya.***

Bagikan: