Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Sebagian cerah, 26.8 ° C

Nasib Pedagang Kelontong yang Dijarah Massa Aksi 22 Mei

Muhammad Ashari
PRESIDEN Joko Widodo (kanan) menerima pedagang kaki lima yang menjadi korban penjarahan saat aksi 22 Mei, Abdul dan Ismail di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.*/ANTARA
PRESIDEN Joko Widodo (kanan) menerima pedagang kaki lima yang menjadi korban penjarahan saat aksi 22 Mei, Abdul dan Ismail di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Dua pedagang kelontong yang lapaknya dijarah dalam kerusuhan yang terjadi pada 21-22 Mei 2019 diundang bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jumat, 24 Mei 2019. Mereka adalah Abdul Rajab, pedagang yang biasa berjualan di ruas Jalan Wahid Hasyim Pasar Baru, dan Ismail, pedagang yang biasa berjualan di ruas Jalan Agus Salim.

Kedua pedagang itu datang ke Istana Merdeka sekitar pukul 16.00. Mereka menghabiskan waktu sekitar 20 menit berbincang-bincang dengan Jokowi di sebuah ruangan tertutup di Istana Merdeka. 

Seusai pertemuan, Ismail yang biasa berjualan makanan dan minuman, mengatakan, sekitar pukul 22.00 barang-barang dagangannya mulai diambil. Barang-barang itu kemudian dikatakannya dibakar tidak jauh dari lapaknya berdagang. Bersamaan dengan itu, ia juga melihat ada dua motor yang dibakar. 

"Mungkin dia nitip (motor) di situ karena berpikir aman di depan ada pos polisi. Jadi semua diambilin, lalu sudah di dalam dibakar. Jadi, tidak dibakar langsung dan kejadian dibakarnya jam 2 (dini hari)," katanya.

Selain mengalami penjarahan barang dagangannya, ia juga mengaku kehilangan sejumlah tabungannya. Total kerugian dari kejadian tersebut diperkirakan berada di kisaran Rp20 juta.

Dalam pertemuan dengan Jokowi, ia mengaku mendapatkan bantuan modal. "Alhamdulillah ada sumbangan dari Bapak Presiden. Ketemu Bapak Presiden (mengucap) banyak terima kasih," ujar Ismail.

Ia pun menyampaikan harapannya agar peristiwa yang dialaminya itu tidak terulang lagi di kemudian hari. "Jangan kejadian lagi kayak gitu. Kita kejadian kayak gitu udah ngeri," ucapnya.

Sementara itu, Abdul Rajab (62) membuka kios di kawasan Agus Salim, Jakarta Pusat. Ia mengaku mengalami kerugian kurang lebih Rp 30 juta setelah kejadian pada 21-22 Mei tersebut.

"Pas malam itu massa dihalau aparat, mereka lari sambil menjarah. Pecah-pecahin warung pedagang kaki lima," ujarnya.

Dirinya juga menceritakan bahwa ia tidak menyangka dapat dipanggil bertemu dengan Presiden dan memperoleh bantuan. Ia juga mengutarakan akan segera kembali membuka usaha setelah bantuan tersebut diterima. "Ini alhamdulillah Bapak Presiden bantu kita. Kita bisa berusaha lagi besok," tuturnya.***

Bagikan: