Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 19.8 ° C

BJ Habibie: Kondisi Saat Ini Tidak Sama dengan Reformasi 1998

Muhammad Ashari
PRESIDEN Joko Widodo (kiri) menyambut Presiden ketiga RI BJ Habibie (kanan) di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019. Dalam pertemuan tersebut BJ Habibie mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo untuk periode 2019-2024 berdasarkan hasil rekapitulasi KPU, serta berpesan agar proses pemilu tidak membuat bangsa pecah dan menghambat pembangunan.*/ANTARA
PRESIDEN Joko Widodo (kiri) menyambut Presiden ketiga RI BJ Habibie (kanan) di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019. Dalam pertemuan tersebut BJ Habibie mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo untuk periode 2019-2024 berdasarkan hasil rekapitulasi KPU, serta berpesan agar proses pemilu tidak membuat bangsa pecah dan menghambat pembangunan.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Para elit pemerintahan melakukan konsolidasi dalam menyikapi situasi setelah pengumunan rekapitulasi nasional KPU dan aksi demonstrasi yang terjadi pada 21-22 Mei kemarin. Konsolidasi dilakukan melalui serangkaian pertemuan-pertemuan dengan tokoh masyarakat.

Salah satu pertemuan yang terjadi adalah antara Presiden Joko Widodo dan Presiden periode 1998-1999 Bacharudin Jusuf Habibie di Istana Merdeka, Jumat, 24 Mei 2019. BJ Habibie datang ke Istana Merdeka pukul 14.00. Sekitar 1,5 jam BJ Habibie berbincang-bincang dalam sebuah pertemuan tertutup di salah satu ruangan di Istana Merdeka.

Dalam pernyataan persnya, BJ Habibie mengatakan, menemui Jokowi pertama-tama untuk mengucapkan selamat karena mayoritas rakyat telah memilihnya kembali sebagai presiden. Menurut dia, sebagai presiden terpilih, maka ia akan memimpin seluruh rakyat Indonesia. Tidak hanya memimpin golongan rakyat yang memilihnya saja. 

"Dan dalam hal ini kita sepakat juga mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, stabilitas serta proses pemerataan, dan masa depan bangsa Indonesia tidak ada tawar-menawar," katanya. 

Ia menambahkan, bila ada anggapan suasana saat ini disamakan seperti suasana ketika Reformasi 1998, hal itu tidak benar. Namun demikian, ia menerima masukan mengenai mekanisme pemilu saat ini yang hanya memunculkan dua calon presiden. 

"Ada yang bilang sama saya, 'pak, kenapa hanya dua itu?' Lho, kamu yang tentukan mekanismenya. Kalau tidak benar, mau lebih banyak (capres), silahkan tentukan," ujarnya. 

Ia mengatakan, saat ini merupakan eranya para generasi penerus. Ia kemudian bercerita mengenai bagaimana ia telah berinteraksi antara generasi 1945 dan generasi penerus. Habibie mengklaim dirinya sebagai bagian dari generasi peralihan. 

Habibie kemudian kembali menekankan Jokowi sebagai bagian dari generasi penerus untuk bisa melanjutkan program sesuai dengan rencana. 

"Kalau anda menjadi presiden kan tidak akan memihak yang memilih anda saja kan, tapi semua. Dan kita tidak pernah sara. Tidak ada di sini. Jadi saya rasa itu yang penting. Tapi, saya datang ke sini, saya ucapkan selamat sama Bapak Presiden Jokowi, bahwa insyaallah beliau bisa melanjutkan program sesuai rencana dan kita semua membantu supaya terlaksana," tuturnya.

Pertemuan juga terjadi antara Jusuf Kalla dan para tokoh masyarakat di kediamannya, Kamis, 25 Mei 2019 malam. Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti dan Ketua ICMI Jimly Asshiddiqie adalah beberapa tokoh yang hadir dalam pertemuan tersebut. 

Dalam pernyataan persnya, Jusuf Kalla mengatakan, pertemuan pada intinya membicarakan situasi bangsa, khususnya tentang proses pemilu. Dua poin yang menjadi penekanan adalah keputusan kubu Capres 02 Prabowo-Sandi yang menempuh jalur hukum ke Mahkamah Konstitusi dalam memperkarakan hasil pemilu. Jusuf mengatakan, langkah itu perlu didukung. 

"Dan kita mengharapkan MK menyelesaikan prosesnya dengan transparan, adil dan independen. Itu jalan yang terbaik," katanya. 

Poin selanjutnya yang dibahas addalah mengenai unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan pada 21-22 Mei kemarin. Berdasarkan laporan dari kepolisian, kata Jusuf, hendaknya dipisahkan antara pengunjuk rasa yang damai dengan perusuh. "Unjuk rasa damai, itu sesuai aturan. Tapi perusuh, TNI/Polri memiliki aturan untuk bertindak tegas," katanya. 

Try Sutrisno mengatakan, hendaknya jangan memperpanjang konflik seusai pemilu. Bangsa ini masih memiliki banyak tantangan ke depan yang lebih besar daripada persoalan pemilu seperti sekarang. "Kita harus meneguhkan persatuan dan kesatuan. Meneguhkan kerjasama yang kokoh," ujarnya. 

Pertemuan dengan Prabowo

Kabar juga beredar bahwa Jusuf Kalla bertemu dengan Prabowo Subianto secara terpisah di kediamannya, Kamis, 23 Mei 2019. Saat dikonfirmasi mengenai hal tersebut pada saat pertemuan dengan para tokoh, Jusuf tidak memberikan jawaban lugas mengenai hal itu. Ia mengatakan, sepanjang Kamis kemarin  telah bertemu banyak tokoh dan sahabat. 

"Pokoknya banyak tokohlah," kata Jusuf ketika dikonfirmasi kembali apakah pertemuan antara tokoh dan sahabat itu termasuk juga Prabowo di dalamnya.

Namun demikian, Jokowi yang mengonfirmasi secara jelas mengenai pertemuan antara Prabowo dan Jusuf Kalla. Konfirmasi itu ia nyatakan setelah bertemu dengan BJ Habibie, Jumat, 24 Mei 2019. 

"Ya, kemarin sudah ketemu. Kemarin Pak Wapres, Pak JK sudah ketemu," katanya. 

Namun demikian, Jokowi tidak membeberkan mengenai pokok pembicaraan antara Jusuf dan Prabowo. Ia berkilah, belum sempat bertemu dengan Jusuf.

"Harusnya siang tadi (bertemu Jusuf). Tapi, ada acara lain. Jadi, belum ketemu. Nanti kalau Pak Wapres sudah menyampaikan ke saya, baru saya bicara," katanya. 

Jokowi menuturkan, pertemuan antara Jusuf dengan Prabowo itu dilakukan atas inisatif dirinya bersama Jusuf. Alasannya, supaya dilihat baik oleh masyarakat bahwa elit-elit politik pada dasarnya baik-baik saja. 

"Saya kira yang paling penting itu. kalau elitnya rukun, baik-baik saja, di bawah juga kan dingin. Akan sejuk," tuturnya.***

Bagikan: