Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 21.3 ° C

Sakit Hati, Murid Pesantren Habisi Nyawa Guru Ngajinya

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI pembunuhan.*/ DOK PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI pembunuhan.*/ DOK PIKIRAN RAKYAT

SERANG, (PR).- Nasib nahas dialami Samsudin (44). Ustad di salah satu pesantren di Kampung Keramat, RT 02/02, Desa Dadu Agung, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Serang, itu harus mengakhiri hidupnya secara tragis di tangan murid mengajinya sendiri, Romli Husen (32), warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, aksi sadis yang dilakukan Romli Husen ternyata dilatarbelakangi sakit hati karena korban tak memilihnya menjadi murid utama. Padahal, tersangka menginginkan gurunya untuk memberikan ilmu tarikat atau ilmu kebatinan secara langsung kepada Romli Husen.

"Pemicu utamanya yaitu sentimentil atau sakit hati kepada korban yang tidak menjadikannya murid utama saat mempelajari ilmu tarikat," kata Kapolsek Pabuaran AKP Yudha Hermawan saat ekpose di Mapolres Serang Kota, Jumat 17 Mei 2019.

Meskipun secara sadar telah mengakui perbuatannya, namun penyidik kepolisian tetap akan memeriksa kondisi kejiwaan tersangka. Sebab saat memberikan keterangan, tersangka sempat mengaku mendapatkan bisikan untuk melakukan perbuatan yang menyebabkan ustadnya itu tewas di tangannya.

“Secaa fisik dia memang dinyatakan baik, tapi kita tetap akan memeriksa kejiwaannya. Kita akan konsultasikan ke dokter kejiwaan,” ujar Kapolsek saat mendampingi Kapolres Serang Kota AKBP Firman Affandy ekspos di Mapolres.

Selain itu, kasus yang terjadi pada 2 April 2019 ini sudah diproses hingga pelimpahan berkas perkara tahap satu ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Serang. Sedangkan tersangka, masih diamankan di sel Mapolsek Pabuaran. "Nanti jika sudah tahap dua, akan kita informasikan kembali," tuturnya kepada wartawan Kabar Banten, Rifat Alhamidi.

Diminta menginap

Diketahui, peristiwa tragis ini bermula saat tersangka bertamu ke rumah korban pada Rabu (1/5/2019) sore. Karena sudah menjelang magrib, korban meminta agar tersangka menginap di rumahnya. Tawaran itu pun akhirnya diterima oleh tersangka.

Kemudian pada pukul 18.00, tersangka masuk kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Namun, tersangka secara tiba-tiba berteriak tanpa ada alasan yang jelas. Karena ingin memastikan kondisi murid ngajinya tersebut, korban kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menenangkan tersangka. Selanjutnya, tersangka diberi makan oleh korban agar menjadi lebih tenang.

Namun, pada Kamis (2/5/2019) dini hari sekitar pukul 04.00, istri korban terbangun. Ia kaget menemukan suaminya sudah tergeletak di dapur dengan luka parah akibat bacokan senjata tajam.
Istri korban langsung meminta pertolongan tetangga. Saat itu, tersangka yang masih berada di rumah korban langsung ditangkap warga dan dihakimi. Warga yang kesal, bahkan menyeret tersangka ke luar rumah dan mengikatnya agar tidak terjadi tindakan yang lebih brutal.

Saat dikonfirmasi wartawan, tersangka Romli Husen mengakui telah secara sadar membunuh guru ngajinya saat tertidur di kamar. Saat itu, tersangka mengatakan bahwa kedatangannya ke pesantren milik korban memang untuk mempelajari ilmu tarikat.

"Pas saya lihat dia lagi tidur di kamar, saya nggak sadar tahu-tahu langsung membacoknya. Kemudian saya lari ke dapur," katanya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka terancam dijerat pasal 351 ayat 5 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Ancaman hukuman 7 tahun penjara.***

Bagikan: