Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Asal Usul Nama Tempat, Ragunan Itu Nama Gelar Hendrik Lucaasz Cardeel (3)

Anwar Effendi
RAGUNAN dikenal dengan taman margasatwanya. Presiden Joko Widodo bersama istri saat mengunjungi taman margasatwa Ragunan.*/DOK. PR
RAGUNAN dikenal dengan taman margasatwanya. Presiden Joko Widodo bersama istri saat mengunjungi taman margasatwa Ragunan.*/DOK. PR

ASAL usul nama tempat kadang cukup unik. Latar belakang pemberian namanya sering tidak terduga. Bisa dari suatu kejadian, berasal dari tanaman atau hewan, bahkan yang lucu ada yang diawali dari salah ucap.

Berikut ada beberapa nama tempat di Jakarta berikut latang belakang pemberian namanya. Ada yang mengandung sejarah, ada juga yang menundang tawa. Silakan disimak.

24. Ragunan

Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang disandang tuan tanah pertama kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel yang diperolehnya dari sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, Putra Sultan Ageng Tirtayasa.

25. Paal Meriam

Asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari  suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813. Pada waktu itu pasukan altileri meriam Inggris yang akan menyerang Batavia mengambil daerah itu untuk meletakkan meriam yang sudah siap ditembakkan.Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakat sekitar dan menyebut nama daerah ini Paal Meriam (tempat meriam dipersiapkan).

26. Cawang

Dahulu kala, ketika Belanda berkuasa ada seorang letnan melayu yang mengabdi pada kompeni bernama Ence Awang. Letnan ini bersama anak buahnya bermukim dikawasan yang tak jauh dari Jatinegara. Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang.

27. Condet (Batu Ampar & Bale Kambang)

Pada zaman dahulu ada sepasang suami istri namanya pangeran Geger dan Nyai Polong, mereka memiliki beberapa orang anak. Salah satu anaknya perempuan diberi nama Siti Maemunah terkenal sangat cantik. Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya.Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan di atas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di pinggir kali Ciliwung. 
Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga Pangeran Tenggara dibuatlah jalan yang diampari (dilapisi) batu. Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu disebut Batu Ampar dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu disebut Balekambang.

28. Depok

Dahulu tempat ini sebagai depo kereta api (garasi).

29. Bintaro

Karena perumahan Bintaro dan sekitarnya memang bayak ditumbuhi pepohonan yang bernama bintaro dan buahnya sering dikonsumsi masyarakat setempat.

30. Taman Anggrek

Berawal dari keinginan ibu Tien untuk mengambil kebun anggrek milik juragan tanah sunda bernama H. Rasman, dia memiliki tanah berhektare-hektare di Cipete. Bu Tien mengambil bunga-bunga anggrek tersebut dengan niat membeli (namun tidak dibayar) yang akhirnya dipindahkan ke daerah Jakarta Barat, sekarang jadi Mall Taman Anggrek.

31. Petamburan

Pada suatu waktu terjadi peristiwa yang melatar belakangi penamaan daerah ini. Peristiwa itu meninggalnya seorang penabuh tambur daerah di daerah ini dan dimakamkan di bawah pohon jati, sehingga nama kampung ini sebenarnya Jati Petamburan.*

32. Gondangdia

Ada beberapa versi asal penamaan Gondangdia. Versi pertama, gondangdia berasal dari nama pengembang yang ditunjuk Belanda untuk membangun kawasan Menteng, Yaitu NV Gondangdia.

Versi kedua, berasal dari nama kakek yang terkenal dan disegani di kampung tersebut, kakek tersebut sering disebut Kyai Kondang. Karena terkenal, nama kyai itu sering disebut-sebut dan dikaitkan dengan nama daerah tersebut. Akhirnya nama tersebut dikenal Gondangdia (kakek dia yang tersohor).

33. Petojo

Berasal dari nama seorang pimpinan orang-orang Bugis, yang pada tahun 1663 diberi hak pakai kawasan tersebut, bernama Aru Petuju. Oleh Betawi petuju diucapkan Petojo.

34. Krukut

Asal usul nama krukut mempunyai beberapa versi. Versi pertama, krukut berasal dari Sindiran yang diberikan pada orang yang hidupnya sangat hemat atau pelit (krokot). Orang Betawi menyebut orang-orang Arab yang banyak tinggal di kampung tersebut dengan krukut, merubah kata krokot menjadi krukut.Versi kedua, berasal dari bahasa Belanda kerkhof yang berarti kuburan. Pada masa lalu kampong tersebut memang merupakan tempat kuburan orang-orang Betawi.

35. Pinangsia

Nama jalan didekat pertokoan Glogok ini berasal dari bahasa Belanda financien yang artinya keuangan. Ada juga yang mengatakan tempat ini dahulu ada department van financien alias Departemen Keuangan, oleh lidah orang Betawi, kata financien berubah menjadi pinangsia.

36. Kali Angke

Kata angke berasal dari bahasa Cina. Ang = darah, Ke = sungai. Kata ini didasarkan pada peristiwa pembantaian orang-orang etnis Cina oleh Belanda di tahun 1740. Mayat orang-orang Cina yang bergelimpangan dihanyutkan di kali yang ada di dekat peristiwa itu. Sehingga kali yang penuh dengan mayat itu berganti nama dengan kali angke. Sebelum peristiwa tersebut terjadi, kampung tersebut bernama kampung Bebek, hal ini dikarenakan orang Cina yang tinggal dikawasan tersebut banyak yang beternak bebek.

37. Pluit

Sekitar tahun 1660 di pantai sebelah timur muara kali angke diletakkan sebuat Fluitschip (kapal panjang ramping) bernama Het Witte Paert yang tidak layak melaut. Kapal ini digunakan menjadi kubu pertahanan untuk membantu benteng Vijhoek yang terletak dipinggir kali Grogol, sebelah timur kali angke, dalam menanggulangi serangan-serangan sporadic yang dilakukan oleh pasukan bersenjata kesultanan Banten. Kubu tersebut dikenal dengan sebutan De Fluit.

38. Marunda

Marunda berasal dari kata merendah. Menurut cerita turun temurun, sifat penduduk asli disini memang baik hati, menjauhi sifat sombong yang dilarang agama.

39. Tanjung Priok

Nama Tanjung Priok diambil dari nama seorang penyebar agama Izlam dari Palembang dengan sebutan Mbah Periuk hari yang membawa Periuk Nazi sisa perjalanan dari Palembang.(TAMAT)***

Bagikan: