Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 17.3 ° C

30 Orang Terpasung di Banten

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI penderita gangguan jiwa dipasung.*/KABAR BANTEN
ILUSTRASI penderita gangguan jiwa dipasung.*/KABAR BANTEN

SERANG,(PR).- Sebanyak 30 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Provinsi Banten masih dalam kondisi terpasung. Jumlah tersebut tersebar di beberapa wilayah termasuk Kabupaten Serang.

Kader Kesehatan Jiwa (Keswa) Provinsi Banten Ismail mengatakan, sampai saat ini berdasarkan data yang dimilikinya masih ada 30 orang dengan gangguan jiwa yang terpasung di Provinsi Banten. "Kalau Kabupaten Serang belum saya lihat yang dilaporkan," ujarnya, Kamis 16 Mei 2019.

Ismail mengatakan, jumlah tersebut tersebar di beberapa daerah se-Banten. Untuk Kabupaten Serang sendiri saat ini masih belum bebas pasung. "Sepengetahuan saya (di Kabupaten Serang) pasung itu ada di Kramatwatu, Puloampel juga ada, terus Petir juga ada. Ada salah satu di Petir yang keberatan warganya, jadi dipasung pakai rantai entah sudah dilepas atau belum," katanya.

Menurut dia, fenomena pasung ini seperti gunung es. Jumlah yang dilaporkan bisa berbeda dengan kenyataan di lapangan. "Yang dilaporkan tiga ternyata setelah ke lapangan lebih karena banyak masyarakat enggak melaporkan," tuturnya.

Ia mengatakan, yang menjadi kendala selama ini dalam penanganan ODGJ tersebut karena pengobatannya tidak mudah. Pengobatan mereka sebenarnya harus dilakukan juga di psikiater. "Kalau sudah dipasung itu tindakannya harus dirawat dulu ke RSJ, baru pulang nanti di puskesmas seperti apa," katanya.

Cara rehab

Terkadang, kata dia, ketika sudah dilepas pasungnya, ada juga yang kembali dipasung. Untuk Provinsi Banten, ada program penanganan ODGJ dengan cara rehab sos. "Jadi setelah pulang dari rumah sakit ada rehab sos. Itu setelah dipelajari mereka berhasil, di Banten ada 12 orang dan bagus semua, begitu lepas bisa cocok tanam, usaha, ini harus semuanya," ucapnya

Sebab, lanjutnya, jika mereka pulang dari RSJ dan tidak ada kegiatan maka penyakitnya bisa kambuh lagi. Kemudian juga saat pulang mereka belum tentu diterima lingkungan dan keluarganya. "Karena ODGJ itu emosinya kan, apalagi sampai tindak kekerasan seperti melempar rumah, itu kaya di Petir keberatannya karena lingkungan ketakutan," katanya kepada wartawan Kabar Banten, Dindin Hasanudin.

Disinggung soal faktor, ia mengatakan salah satunya ekonomi yang membuat sulit penyembuhannya. Sedangkan untuk masalah kejiwaannya adalah faktor sosial. "Kan ada juga semacam rehabilitasi berbasis masyarakat sistem tradisional sepeti bani Sifa, kita kirim kesana, kalau ke RSJ harus ada MoU dari Dinkes," ucapnya.

Ismail mengatakan, tren data ODGJ setiap tahunya memang mengalami penurunan. Sebab penanganan semakin membaik. "Menurun tiap tahun sudah ada program, sebelumnya banyak ratusan. Sekarang menurun dikita. Alhamdulillah puskesmas mau mengobati. Obat kan terbatas hanya gitu saja, tidak mau merujuk ke tingkat RSUD ini masalah keluarga. Karena keluarga enggak mampu," katanya.***

Bagikan: