Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 28 ° C

Penumpang Perempuan Ojek Online Rawan Jadi Korban Pelecehan

Satrio Widianto
ILUSTRASI ojek online/DOK. PR
ILUSTRASI ojek online/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menilai, pelecehan penumpang perempuan ojek online oleh pengemudi mitra yang terus berulang merupakan buntut dari tanggung jawab parsial operator yang lemah. Dari kejadian itu, seharusnya terjadi pembenahan yang sistematis dan menyeluruh.

Pelecehan tersebut ramai diperbincangkan di sosial media, khususnya twitter dalam beberapa hari terakhir. Terhitung Senin-Selasa 13-14 Mei 2019, terlihat percakapan (mention dan retweeted) terkait pelecehan tersebut mencapai 135 postingan.

Kasus itu bermula dari seorang gadis, penumpang Grab, mengaku mengalami perlakuan pelecehan seksual. Pada 11 Mei 2019, temannya bernama Sarah Noer pemilik akun twitter @noergasme, menayangkan kronologis kejadian yang menimpa si gadis.

Unggahan berupa tangkapan layar komunikasi antara Sarah dan temannya yang jadi korban tersebut menjelaskan, ada kerentanan bagi penumpang wanita sebagai pengguna. Dalam tangkapan layar yang diunggah pada akun twitter tersebut, secara jelas ada identitas akun sang pengemudi berinisial AS.

Berdasarkan informasi tersebut, korban sebenarnya telah mengendus gelagat tak baik dari pengemudi. Sepanjang jalan, pengemudi  itu dengan sengaja memainkan rem, agar dada penumpang menempel ke punggung si pelaku.

Singkat cerita, korban memilih turun sebelum sampai tujuan. Nahas, sewaktu korban berjalan kaki tak jauh dari titik turun, pelaku dengan mengendarai sepeda motornya, malah melakukan hal yang lebih melecehkan korban.

Segera respons

Kejadian ini pun telah direspons. “Terima kasih atas data yang kakak berikan, kami akan segera melakukan pengecekan terkait hal ini,” balas tweet kepada Sarah Noer sambil memperingatkan bahwa kejadian yang menimpa rekannya bukan kali pertama. “Bukan pertama, bukan kali kedua. Sistem kalian yang mesti kalian ubah,” sergah Sarah.

Peristiwa yang seringkali menimpa penumpang itu pun dibenarkan Komnas Perempuan. Menurut Pengampu Komnas Perempuan Imam Nakha’i, sejauh ini perlindungan konsumen dari aplikator lemah. Selama ini, aplikator tidak melakukan perubahan secara menyeluruh untuk meningkatkan perlindungan konsumen perempuan. “Jika terjadi pelecehan, terhadap pelaku, hanya dikeluarkan saja akunnya. Selebihnya korban yang menanggung,” tegasnya.

Imam mengungkapkan, sebenarnya kejadian seperti yang menimpa penumpang perempuan bisa dicegah. Pasalnya, kejadian serupa bukan pertama kali muncul. “Dari Komnas [Perempuan], kami mendorong aplikator juga membenahi sistem penerimaan pengemudi mitra. Harus mereka awasi, kaji, dan evaluasi siapa calon pengemudi, rekam jejak seperti apa,” ungkapnya.

Di sisi lain, kata Imam, tindakan pelecehan juga bersumber dari paradigma pelaku yang salah. “Relasi kekuasaan, dominasi, yang ada di kepala pelaku juga harus dibenahi,” tegas Imam.***

 

Bagikan: