Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 24 ° C

Di Dapil Neraka Ada Kemungkinan Artis Gusur Kader Partai

Tim Pikiran Rakyat
null
null

JAKARTA, (PR).- Sejumlah daerah pemilihan (dapil) memiliki tingkat persaingan yang sangat ketat di pemilu 2019 dan sejumlah tokoh, artis, dan politisi bersaing di dapil tersebut.

Nama-nama tersebut termasuk politisi Gerindra Fadli Zon dan caleg dari Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, yang maju menjadi anggota DPR dari dapil Jawa Barat V.

Beredar kabar bahwa Fadli dan Ferdinand tidak lolos, namun direktur eksekutif lembaga survei Charta Politika, Yunarto Wijaya, meminta semua pihak untuk mengacu ke realitas di lapangan.

Melalui Twitter, Yunarto mengatakan Fadli termasuk caleg yang paling populer di daerah pemilihannya.

"Ayo objektif melihat realita, terlepas tidak sesuai dengan keinginan kita...," kata Yunarto.

Fadli maju kembali menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat V, yang meliputi Kabupaten Bogor.

Dari dapil ini, untuk bisa lolos menjadi anggota DPR, seorang calon harus mendapatkan 232.641 suara.

Dapil lain dengan persaingan ketat adalah Jawa Barat VI yang meliputi Bekasi dan Depok. Di sini, seorang caleg harus mendapatkan setidaknya 299.895 suara untuk bisa terpilih menjadi anggota DPR pusat.

Di dapil Jawa Barat V, selain Fadli dan Ferdinand, bertarung pula putra ketua umum Golkar, Ravindra Airlangga, Max Sopacua (Demokrat), Adrian Napitupulu (PDI-P), Sahrul Gunawan (Nasdem), Tommy Kurniawan (PKB), Primus Yustisio (PAN), TB Soenmandjaja (politisi senior PKS), hingga pendatang baru seperti Faldo Maldini (PAN).

Sangat ketat

Ketatnya persaingan untuk meraih suara di dapil-dapil seperti inilah yang kemudian memunculkan istilah "dapil neraka", istilah yang mungkin dipinjam dari "group of death" persaingan negara-negara adidaya sepak bola di Piala Dunia.

"Dengan jumlah penduduk yang banyak di dapil, sehingga persaingannya menjadi sangat ketat. Apalagi sistem pemilunya menggunakan sistem proporsional terbuka," kata Hurriyah, pengamat politik Universitas Indonesia.

"Ini mendorong caleg harus mendapatkan suara sebanyak-banyaknya, sehingga persaingan di antara caleg-caleg di dapil-dapil tertentu digambarkan sebagai 'dapil neraka' karena kerasnya persaingan di dapil-dapil tersebut," jelas Hurriyah kepada Mohamad Susilo dari
BBC Indonesia.

Di Jawa Barat, rata-rata seorang caleg harus meraih setidaknya 200.000 suara untuk bisa terpilih sebagai anggota DPR.

Di dapil Jawa Timur VII yang mencakup Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi, mantan juru bicara KPK yang sekarang menjabat sebagai jubir presiden, Johan Budi, yang maju melalui PDI-P bersaing dengan politikus Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), putra kedua mantan Presiden SBY.

Budiman Sudjatmiko (PDI-P) dan putri kedua umum Partai Perindo, Jessica Herliani Tanoesoedibjo, juga memperebutkan kursi di dapil ini.

Di dapil Jakarta II, yang meliputi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan luar negeri, wakil ketua MPR dan politikus senior PKS, Hidayat Nur Wahid bersaing dengan Biem Benjamin (Gerindra), Masinton Pasaribu (PDI-P), Okky Asokawati (Nasdem), Eggi Sudjana (PAN), politikus dan istri ketua umum Perindo, Liliana Tanaja, serta pendatang baru Tsamara Amany (PSI).

Bertambah berat

Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, mengakui persaingan para caleg di sejumlah dapil sangat ketat. Pelaksanaan pileg yang berbarengan dengan pemilihan presiden, membuat tugas para caleg bertambah berat.

"Kompetisinya sangat berlebihan atau overkill ya. Pileg dibayangi-bayangi oleh pilpres yang membuat caleg habis-habisan. Tapi di sisi lain perhatian publik terhadap pileg tidak sebesar atensi ke pilpres," ujar Titi.

Bagaimana caleg menyiasati persaingan yang sangat ketat? Rahayu Saraswati dari Gerindra mengatakan dirinya lebih mengutamakan pendekatan pribadi.

"Sosialisasi secara pribadi dengan berkeliling, bertemu langsung dengan masyarakat sebanyak-banyaknya. Hanya dengan pendekatan personal seperti ini kita bisa memastikan bahwa masyarakat mengenal kita secara individu," kata Rahayu.

Rahayu terjun di dapil Jakarta III yang mencakup Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu.

Di sini ia antara lain bersaing dengan politikus Partai Bulan Bintang dan mantan menteri Yusril Ihza Mahendra, Abraham Lunggana yang lebih dikenal dengan Haji Lulung (politisi yang pindah dari PPP ke PAN), ketua umum PSI Grace Natalie, dan politikus senior PDI-P seperti Charles Honoris dan Effendi Simbolon (PDIP).

Ledia Hanifa, politisi PKS yang terjun di dapil Jawa Barat I (Kota Cimahi dan Kota Bandung), bersaing antara lain dengan setidaknya 10 artis, yang membuat dapil ini disebut sebagai "perang bintang".

Mereka yang terjun di dapil ini di antaranya adalah aktor Nico Siahaan (PDI-P), pemain sinetron Kirana Larasati (PDI-P), Nurul Arifin (Golkar), penyanyi Citra Scholastika (Nasdem), aktor dan presenter Farhan (Nasdem), vokalis band Nidji, Giring Ganesha (PSI), dan mantan atlet Ricky Soebagdja (Demokrat).***
 

Bagikan: