Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Benarkah Sistem Pemilu di Indonesia Paling Rumit di Dunia?

Okky Ardiansyah
PILPRES 2019.*/ANTARA
PILPRES 2019.*/ANTARA

ADA beberapa hal yang memperlihatkan Pemilu 2019 Indonesia berstatus terumit di dunia. Hal pertama adalah jumlah pemilih yang begitu banyak, yakni 193 juta orang. Jumlah tersebut bertambah 2,4 juta dari Pemilu 2014. Kemudian pemungutan suara berlangsung di 809.500 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan setiap TPS mendapat kuota rata-rata 200 sampai 300 pemilih.

Jumlah calon legislatif yang bertarung ada 245.000 orang. Mereka akan berkompetisi memperebutkan sekisar 20.500 kursi di 34 provinsi, yang dibagi menjadi empat wilayah pemilihan yaitu DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, dan DPD RI.

Jika digabung dengan Pilpres, maka pemilih memegang lima surat suara yang mesti dicoblos dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, pelaksanaan Pemilu 2019 disebut-sebut sebagai yang terumit di dunia.

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (KPSK) Universitas Padjajaran, Muradi, menentang anggapan tersebut. Menurut Muradi, sistem kontestasi politik di Indonesia terbilang simpel. Pemenang dihitung dari jumlah populasi yang memilih. Artinya, siapa yang paling banyak dipilih masyarakat, itulah yang akan jadi pemenang.

“Ada lima surat suara yang mesti dipilih dalam waktu hampir bersamaan. Ada foto-foto yang mesti kita pilih. Orang butuh 5 sampai 10 menit saat pencoblosan. Apalagi, sosialisasi yang terbilang kurang. Jadi, orang harus berpikir ketika memilih. Itu yang membuat rumit,” katanya saat dihubungi via telefon, Rabu 24 April 2019.

Muradi justru menyatakan bahwa pemilihan presiden di Amerika Serikat terbilang sangat rumit. “Saya kira Pemilu di Indonesia sangat simpel, justru di Amerika Serikat rumit. Mendapat suara paling banyak, belum tentu menjadi pemenang.” tutur dia.

Kalau merujuk pada sistem pemilihan presiden di Amerika Serikat, pernyataan Muradi betul. Sistem Pilpres di Amerika Serikat membuat masyarakat tak bisa memilih calon presiden secara langsung karena menerapkan sistem electoral college.

Sistem electoral college menghadirkan electoral votes atau suara Pemilu yang tersebar di 51 negara bagian. Pemilik electoral votes inilah yang kemudian menjadi penentu dalam Pilpres di Amerika Serikat.

Pemilik electoral votes ditentukan oleh dewan pimpinan partai di setiap negara bagian. Di Amerika Serikat hanya ada dua partai, yakni Demokrat dan Republik. Penentapan itu berlandaskan kepatuhan dan loyalitas kepada partai.

Setiap partai wajib menunjuk electoral votes sebelum Pemilu dilaksanakan. Perlu digarisbawahi bahwa setiap negara bagian akan diwakili electoral votes dari partai yang memenangkan Pemilu.

Ambil contoh di negara bagian California. California memiliki jatah electoral votes sebanyak 55. Di negara bagian tersebut, partai Demokrat yang menjadi pemenang. Maka, 55 electoral votes California menjadi milik partai Demokrat. Sistem ini disebut dengan win take all (yang menang, mengambil semua).

Ada sekitar 538 electoral votes di Amerika Serikat. Jatah electoral votes di setiap negara bagian berbeda-beda tergantung jumlah populasi. Negara bagian dengan jumlah populasi terbanyak akan mendapatkan jatah electoral votes terbanyak pula.

Negara bagian yang paling banyak memiliki electoral votes adalah California (55), Texas (34), Florida (27), dan Illinois (21). Oleh karena itu, tak heran apabila banyak politisi yang hanya membidik negara bagian dengan jatah electoral votes terbanyak.

Ketika electoral votes sudah ditentukan, barulah konvensi Pilpres benar-benar dilakukan. Pemilik electoral votes akan memilih calon presiden. Calon presiden yang mendapatkan 270 electoral votes sudah dipastikan menjadi pemenangnya. Lewat sistem tersebut ada kemungkinan calon presiden yang menang bukan mayoritas pilihan masyarakat.

Berbeda dengan pilpres di Indonesia yang menggunakan sistem pemilihan langsung. Masyarakat langsung memilih calon presiden yang diinginkannya. Pemenangannya pun dilihat dari seberapa banyak masyarakat yang memilih.***

Bagikan: