Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Jokowi dan Prabowo Disarankan Cukup Cengengesan Saat Bertemu

Yusuf Wijanarko
DUA calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto bersalaman seusai mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu 13 April 2019.*/ANTARA
DUA calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto bersalaman seusai mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu 13 April 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menganjurkan calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto untuk segera bertemu dan mium kopi bareng.

"Saran saya, makin cepat makin baik. Tidak usah ngomong politik. Kalau nanti ketemu ngomong politik setelah 22 Mei itu, sekarang ini jangan. Cengengesan saja sudah cukup, asal ketemu saja, silaturahim, ngopi saja," kata Jimly Asshiddiqie di Jakarta, Senin 22 April 2019.

Menurut Jimly Asshiddiqie, pertemuan Jokowi dan Prabowo  sangat penting untuk meredakan ketegangan dan tensi politik baik di kalangan partai pendukung maupun di level masyarakat.

Bahkan, Jimly Asshiddiqie mengatakan bahwa dia yang sempat bertemu Prabowo saat menunaikan salat Jumat di Masjid Al Azhar pekan lalu menyarankan untuk mengadakan pertemuan dengan Jokowi.

"Masing-masing sudah mengirim utusan. Malah saya ndak diutus siapa-siapa, saya inisiatif saja pas ketemu jumatan saya sudah bilang supaya ada pertemuan," kata dia seperti diberitakan Antara.

Pilpres 2019/DOK. PR

Jimly Asshiddiqie yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi menyarankan Jokowi dan Prabowo bisa bertemu di mana saja, sesegera mungkin, dan tanpa perlu membicarakan politik.

"Tidak usah bicara politik, cukup ngopi, ndak usah lama-lama, 15 menit berfoto-foto cukup," kata dia.

Dia meminta kepada para elite politik, tokoh partai, dan tim sukses juga untuk menurunkan tensi politik bersama-sama guna meredakan ketegangan di masyarakat.

Jimly Asshiddiqie mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tidak beradu opini lagi usai pemilihan presiden dan meminta agar memercayakan proses penyelesaian pemilihan umum melalui lembaga resmi baik itu Komisi Pemilihan Umum ataupun Mahkamah Konstitusi bila ingin mengajukan gugatan.

Manfaatkan MK

Dia mengakui telah menyarankan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno untuk menggunakan mekanisme hukum di Mahkamah Konstitusi, bukan mengerahkan massa, terkait hasil Pilpres 2019.

"Jumat kemarin saya salat Jumat dengan Prabowo, sambil bisik-bisik bilang manfaatkan mekanisme, timnya itu ngobrol sama saya sebelum naik ke atas masjid. Saya bilang, manfaatkan mekanisme di MK semaksimal mungkin," kata dia.

Dia mengisahkan bahwa BPN mengkhawatirkan hasil di MK yang akan sama seperti tahun 2014 ketika gugatan Prabowo ditolak dan tetap mengesahkan Jokowi sebagai presiden.

Akan tetapi, Jimly Asshiddiqie berusaha meyakinkan BPN bahwa jangan menyamakan kondisi saat ini dengan tahun 2014. Dia menegaskan jika bisa membuktikan ada kecurangan sistematis, terstruktur, dan masif, sangat bisa mengubah apa yang diputuskan KPU.

Bagikan: