Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Banyak Petugas KPPS Meninggal, Risiko Kematian Mengintai Mereka yang Bekerja 13 Jam Lebih

Okky Ardiansyah
KOTAK suara Pemilu 2019/ANTARA
KOTAK suara Pemilu 2019/ANTARA

PROSES pemilu 2019 memang belum menghasilkan pemenang, tetapi sudah menghadirkan duka. Sejumlah petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) di banyak daerah Indonesia meninggal dunia saat bertugas.

KPU (Komisi Pemilihan Umum) Jawa Barat mencatat sedikitnya 12 petugas KPPS meninggal dunia. Angka itu belum termasuk meninggalnya Ketua KPPS 5 Desa Pedangkamulyan, Kecamatan Bojonggambir bernama Riyad dan anggota KPPS di TPS 38, Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, Agus Mulyadi.

Ketua KPU Karawang, Miftah Farid, tak menampik bahwa beban Pemilu 2019 bagi petugas KPPS sangat berat. Mereka, kata Miftah Farid bekerja sampai 24 jam mulai dari persiapan, pelaksanaan pemungutan surat suara, hingga penghitungan surat suara.

"Kami akan melaporkan hasil evaluasi kami atas pelaksanaan Pemilu kali ini ke KPU RI. Tanpa KPPS, KPU RI tidak mungkin bisa menyelesaikan tugasnya dalam menghitung suara," kata Miftah Farid.

PEMILU 2019/ANTARA

Jika diakumulasikan dengan daerah lain di Indonesia, jumlah petugas KPPS yang meninggal tergolong besar. Di Jawa Tengah misalnya, 10 petugas KPPS meninggal. Pun demikian di Jawa Timur, 8 petugas KPPS meninggal saat menjalankan tugas.

Jumlah tersebut belum termasuk 14 anggota pengawas pemilu yang meninggal dalam kontestasi politik 2019.

Berdasarkan data Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu), 14 belas petugas panwaslu yang meninggal dunia itu terdapat di 5 provinsi dan 11 kabupaten/kota.

Ketua KPU Jabar Rifqi Ali Mubarok mengatakan, kelelahan dan riwayat penyakit menjadi faktor penyebab meninggalnya sejumlah petugas KPPS saat bertugas menjalankan pesta demokrasi.

"Meninggalnya ada yang karena kelelahan, karena punya riwayat jantung. Kelelahan, kebanyakan capek dan lelah, ada yang kecelakaan. Kecelakaannya ada yang tertabrak oleh truk," ucap Rifqi Ali Mubarok, Sabtu 20 April 2019.

Rifqi Ali Mubarok menyatakan bahwa dampak tersebut berkaitan dengan administrasi durasi waktu. Rata-rata proses pemungutan sampai penghitungan surat suara, kata ia, selesai pukul 5:00 WIB keesokan harinya.

"Dan itu kan tanpa jeda, apalagi kemudian kebanyakan mereka mempersiapkan TPS pada H-1. Jadi, otomatis kelelahan," ucapnya.

Riset: bekerja berlebihan tingkatkan risiko kematian

Reuters melaporkan bahwa para peneliti di Columbia University menemukan fakta baru soal hubungan jam kerja dengan risiko kematian.

Para peniliti menyimpulkan bahwa pekerja yang bekerja selama 13 jam per hari berisiko meninggal dunia lebih cepat dibanding pekerja yang bekerja selama 12 jam per hari.

Hasil penelitian itu didapatkan setelah memantau 8.000 pekerja di atas usia 45 tahun. Selain itu, para peneliti menyimpulkan bahwa duduk dalam jangka waktu lama memiliki efek mematikan seperti rokok.

ILUSTRASI depresi.*/ CANVA

Sementara itu, peneliti di CNIC Madrid bernama Jose Ordovas mengatakan bahwa pekerja yang bekerja dalam durasi berlebihan dan kurang tidur berisiko mengalami penebalan dinding arteri jantung.

Penebalan tersebut berpotensi menyebabkan komplikasi, pengerasan pembuluh darah, serangan jantung, dan stroke.

“Tidur adalah salah satu kebiasaan sehat yang perlu kita adopsi dan pelihara untuk menjaga kesehatan sistem kardiovaskular kita,” ucap Jose Ordovas.

Perlu digarisbawahi, penyebab meninggal dunianya sejumlah petugas KPPS dan panwaslu mesti didalami dengan sungguh-sungguh dan menjadi  bahan evaluasi KPU. Tujuannya, agar Pemilu selanjutnya insiden serupa dapat dicegah.***

Bagikan: