Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 22.2 ° C

Orang Padang Buktikan Kemenangan untuk Prabowo

Tim Pikiran Rakyat
PETUGAS KPPS mengenakan pakaian pengantin Minang, membagikan surat suara kepada warga saat pemungutan suara Pemilu 2019, di TPS Desa Punggung Ladiang, Pariaman, Sumatera Barat, Rabu 17 April 2019.*/IGGOY EL FITRA/ANTARA
PETUGAS KPPS mengenakan pakaian pengantin Minang, membagikan surat suara kepada warga saat pemungutan suara Pemilu 2019, di TPS Desa Punggung Ladiang, Pariaman, Sumatera Barat, Rabu 17 April 2019.*/IGGOY EL FITRA/ANTARA

PADANG, (PR).- Akhirudin adalah salah seorang pemilik kedai atau lapau di Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Ditemui BBC News Indonesia sebelum hari pencoblosan, pria berusia 52 tahun itu mengklaim bahwa 100% warga di dusunnya mendukung Prabowo.

"Awak (saya) yakin Prabowo menang di sini," ujarnya. Akhirudin mengatakan, ia menyukai Prabowo karena "agamanya kuat".

"Kalau di Padang ini kan masalah agama kuat. Dia (Prabowo) sudah lebih mengetahui tentang masalah agama," ungkap Akhirudin.

Sementara istri Akhirudin, Ratnawati, mengaku terkesan pada sosok Prabowo yang dianggap "tegas dan berwibawa".

Lain dari itu, perempuan berusia 44 tahun itu mengaku menginginkan perubahan. Ia mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo, terutama tarif listrik.

"Dari listrik saja sudah tahu itu perubahannya. Biasanya saya (bayar) listrik hanya Rp100.000-120.000, sekarang saya bayar Rp300.000 per bulannya.

"Kemudian harga minyak bensin, dari Rp6000-7000 sekarang jadi Rp10.000 per liternya," ungkap Ratnawati.

Harapan akan perubahan juga diungkapkan beberapa warga milenial yang ditemui BBC News Indonesia di Kota Padang. Widya, 22 tahun, mengatakan tertarik pada janji Prabowo-Sandi untuk menciptakan lapangan kerja.

"Pak Prabowo menjanjikan lapangan kerja dari rakyat Indonesia sendiri, terutama dari mahasiswa yang sudah tamat (kuliah)," ungkapnya.

Apa yang diutarakan Akhirudin, Ratnawati, serta Widya, menjadi gambaran nyata setelah hasil hitung cepat dari berbagai lembaga mengindikasikan bahwa Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul di Sumatera Barat (Sumbar).

Menang telak

Sigi dari tiga lembaga survei SMRC, Indikator, dan Charta Politika menunjukkan kandidat nomor urut 2 itu menang telak di Sumbar dengan perolehan suara antara 83-87%. Selain Sumbar, Prabowo-Sandi juga disebut menguasai Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan.

Meski dalam kedua pemilu kali ini, kedua kandidat sama-sama mengusung identitas keislaman namun rasa keislaman yang dibawa Jokowi antara lain melalui calon wakilnya, Kyai Haji Ma'ruf Amin, berbeda dari selera masyarakat Sumbar, kata pengamat.

Hasil ini mirip dengan pemilihan presiden 2014 ketika Prabowo, yang saat itu berpasangan dengan Hatta Radjasa, juga menang telak di Sumbar dengan perolehan suara 76,9%. Prabowo-Hatta menang di 19 dari 18 kabupaten/kota di Sumbar.

Hasil ini juga konsisten dengan berbagai jajak pendapat menjelang pemilu. Survei terakhir dari lembaga CSIS, Charta Politika, dan Indomatrik yang diterbitkan sebulan sebelum pemilu menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo kuat di Sumatera.

Tim kemenangan nasional Jokowi-Ma'ruf telah mengakui bahwa Sumbar merupakan tantangan besar bagi kandidat petahana itu. Koordinator TKN, Erick Thohir, mengatakan dalam sebuah jumpa pers bahwa "Kami lemah di Sumatera dan Aceh".

Pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi, berpendapat bahwa budaya menjadi faktor yang dominan dalam memengaruhi pilihan masyarakat Sumbar. Menurut dia, Prabowo dipandang lebih memiliki karisma politik dibandingkan Jokowi.

"Kalau Prabowo kita gambarkan lebih berapi-api ya. Dia mau bekerja untuk kepentingan masyarakat, nasionalisme, dan seterusnya. Gambaran seperti yang disebut tageh," tutur Pengamat politik dari Universitas Andalas, Asrinaldi.

"Penampilan Prabowo, jika dibandingkan Jokowi, baik secara fisik maupun kemampuan berbicara, retorikanya, itu dimiliki oleh Prabowo. Jadi political impression itu sebagai pertimbangan bahwa secara politik mungkin Prabowo punya kelebihan," kata Asrinaldi.

Kharisma dan gairah

Ia menjelaskan bahwa warga Minang, etnis mayoritas di Sumatera Barat, punya jargon yang disebut 3T - tokoh, takah, dan tageh. Menurut orang Minang, orang yang pantas menjadi pemimpin bukanlah sekadar tokoh yang elit dan memiliki kemampuan lebih dari masyarakat kebanyakan, tapi juga memiliki kharisma (takah) dan gairah atau semangat (tageh).

"Kalau Prabowo kita gambarkan lebih berapi-api ya. Dia mau bekerja untuk kepentingan masyarakat, nasionalisme, dan seterusnya. Gambaran seperti yang disebut tageh," tuturnya.

Selain faktor budaya, Asrinaldi menilai bahwa faktor agama juga menjadi pertimbangan bagi warga Sumbar yang mayoritas Muslim. Jokowi didukung oleh koalisi partai yang mendukung multikulturalisme, keberagaman agama, dan kepentingan minoritas. Hal ini membuat warga Sumbar menganggap Jokowi tidak peduli pada masyarakat Muslim yang merupakan mayoritas, kata Asrinaldi.

Selain faktor budaya, pengamat Asrinaldi menilai bahwa faktor agama juga menjadi pertimbangan bagi warga Sumbar yang mayoritas Muslim. Foto: Suasana sebuah TPS di Sumbar.
Meski dalam kedua pemilu kali ini, kedua kandidat sama-sama mengusung identitas keislaman namun rasa keislaman yang dibawa Jokowi antara lain melalui calon wakilnya, Kyai Haji Ma'ruf Amin, berbeda dari selera masyarakat Sumbar, kata Asrinaldi.

Ma'ruf Amin berasal dari organisasi Nahdatul Ulama (NU), sementara di Sumatera Barat pengaruh Muhammadiyah lebih dominan. Konsep Islam Nusantara yang diangkat NU juga menjadi kontroversi di Sumbar. Ketua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar menyatakan menolak konsep Islam Nusantara.

Najmuddin Rasul, dosen dari Fakultas Hukum Universitas Andalas yang meneliti partisipasi politik anak muda di Sumbar, mengatakan bahwa banyak anak muda tidak puas dengan Presiden Joko Widodo yang dianggap tidak memenuhi janji-janjinya.

"Dari semua janji-janji Pak Jokowi itu, kebanyakan tidak terealisasi. Bagi anak muda Sumatera Barat, ini menjadi catatan-catatan khusus sehingga mereka tidak menjatuhkan pilihan kepada beliau," kata Najmuddin.***
 

Bagikan: