Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Langit umumnya cerah, 19.4 ° C

Penggagas Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz, Pergi dengan Meninggalkan Satu Mimpi yang Belum Terwujud

Vebertina Manihuruk
DYNAND Fariz (jas hitam) ketika mendampingi Jember Fashion Carnaval menghadiri kegiatan di Universitas Parahyangan Bandung, November 2018.*/JEMBERFASHIONCARNAVAL.COM
DYNAND Fariz (jas hitam) ketika mendampingi Jember Fashion Carnaval menghadiri kegiatan di Universitas Parahyangan Bandung, November 2018.*/JEMBERFASHIONCARNAVAL.COM

DARI Jember membawa nama Indonesia ke kancah internasional. Itulah prestasi dari seorang Dynand Fariz, pendiri sekaligus Presiden Jember Fashion Carnival (JFC). Akan tetapi, di usianya yang k3 55, Dynand meninggal dunia di Rumah Sakit Jember Klinik pada Rabu, 17 April 2019, pukul 04.00 WIB.

"Mas Dynand Fariz masuk rumah sakit pada Minggu (14 April 2019) sore karena mengeluhkan ada gangguan di saluran pernapasan, namun kondisinya saat itu baik-baik saja dan berangkat sendiri ke rumah sakit," kata keponakan Dynand Fariz, Hamda Arif, di rumah duka di Jalan Letjen Suprapto Jember, Jawa Timur.

Seperti dilansir dari Antara, Hamda mengatakan, pihak keluarga tidak pernah mendengar Dynand mengeluh sakit. Ia memang memiliki kesibukan yang padat karena menjadi staf ahli Menteri Pariwisata dan konsultan karnaval di DKI Jakarta, serta Ketua Asosiasi Karnaval Republik Indonesia (AKARI).

"Sebenarnya kami terkejut saat mendapat kabar mas Dynand Fariz meninggal dunia karena saat di rumah sakit sempat melakukan rapat-rapat kecil untuk persiapan JFC tahun ini," tuturnya. Dynand pun saat itu optimistis ia akan sembuh supaya bisa mempersiapkan JFC ke-18 dengan optimal.

Sebelum meninggal, Dynand Fariz meminta kakaknya untuk membersihkan tubuhnya karena ingin terlihat rapi dan bersih. Bahkan ia juga sudah bersiap karena ingin menyalurkan hak pilihnya ketika ada TPS yang keliling di rumah sakit setempat. Akan tetapi, takdir berkata lain.

JEMBER Fashion Carnaval mengikuti parade di Shanghai tahun 2008.*/JEMBERFASHIONCARNAVAL.COM

Dynand Fariz merupakan anak ke-8 dari 11 bersaudara dari pasangan almarhum Tirto Sutowo dan Ahyani yang lahir pada 23 Mei 1963. Presiden JFC tersebut dimakamkan di tempat pemakaman umum Garahan di Kecamatan Silo karena pihak keluarga ingin memakamkan dekat dengan kedua orang tuanya.

Wakil Bupati Jember, A. Muqit Arief, mengatakan, Pemerintah Kabupaten Jember kehilangan putra daerah terbaiknya. "Almarhum memiliki talenta yang luar biasa, pekerja keras, telaten dan tidak mudah menyerah. Hal itu dibuktikan bahwa JFC yang mendunia dan merupakan event terbaik ketiga di dunia karnaval," katanya.

Jember Fashion Carnaval diakui dunia

JEMBER Fashion Carnaval saat roadshow di Dubai, 12 - 13 Desember 2017.*/JEMBERFASHIONCARNAVAL.COM

Perhelatan Jember Fashion Carnaval (JFC) berhasil meraih peringkat empat dunia untuk karnaval terunik dan terheboh. Di peringkat 1-3, ada Mardi Gras (Amerika Serikat), Rio De Jeneiro (Brazil), dan The Fastnacht (Koln, Jerman).

Kesuksesan JFC yang berawal dari karnaval kampung dalam memeriahkan Agustusan (Hari Kemerdekaan Indonesia) hingga menjadi tersohor di dunia itu, tidak bisa lepas dari tangan kreatif dan keuletan seorang Dynand Fariz. Perintis berdirinya Rumah Mode Dynand Fariz sejak 1998 itu adalah penggagas sekaligus Presiden JFC.

Pada 2002, Pekan Mode Dynand Fariz digelar berupa karnaval keliling kampung dan Alun-Alun Jember menggunakan kostum yang dirancang sendiri. Dari situlah timbul gagasan menyelenggarakan JFC pada 1 Januari 2003 sebagai JFC ke-1 yang diselenggarakan bersamaan dengan HUT Kota Jember dengan tema busana cowboy, punk, dan gypsy.

Masih pada tahun yang sama, yakni 30 Agustus 2003, digelar JFC ke-2 bersamaan dengan gerak jalan tradisional Tanggul-Jember yang merupakan agenda tahunan di Kabupaten Jember, dengan tema busana Arab, Maroko, India, China, dan Jepang ( Asia ). Di tangan kreatif Dynand Fariz, parade busana yang unik dan spektakuler dengan menggunakan catwalk sepanjang 3,6 kilometer itu berhasil memecahkan rekor MURI dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara.

Jember Fashion Carnaval pada tahun pertama hingga sembilan menggunakan dana dari kantong pribadinya karena tidak ada sokongan sponsor maupun pemerintah. Namun, kostum yang diperagakan para talent tersebut, menghentakkan mata masyarakat hingga penjuru dunia karena acara tersebut diliput media lokal, nasional, dan internasional.

Presiden Joko Widodo dan istrinya, Iriana Jokowi, menyempatkan hadir dalam Jember Fashion Carnaval 10-13 Agustus 2017 yang sudah memasuki tahun ke-16 dengan tema besar "Victory". Itu bermakna kemenangan JFC dalam mengukir prestasi di kancah internasional.

"Jember Fashion Carnaval yang telah berjalan selama 16 tahun tersebut menjadi ikon bukan hanya bagi Kabupaten Jember, namun juga ikon yang membanggakan Indonesia karena prestasi Dynand yang diakui oleh dunia," kata Jokowi, saat itu.

JEMBER Fashion Carnaval dalam pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta.*/JEMBERFASHIONCARNAVAL.COM

Merancang busana untuk kontes internasional

Dynand juga terlibat dalam perancangan busana Miss Universe perwakilan Indonesia Elvira Devinamira yang berkompetisi dalam Miss Universe 2014 diselenggarakan di Florida, Amerika Serikat pada 25 Januari 2014. Kostum bertema The Chronicle of Borobudur itu, berhasil meraih penghargaan Best National Costume.

Selain itu, ia juga merancang kostum Bali yang meraih Best National Costume Mister International 2010 di Indonesia, kostum Toraja Karembau (Best National Costume Man Huni International 2011) di Korea Selatan, dan kostum Borneo (Best National Costume Miss Supranational 2014) di Polandia. Selain itu, ia juga merancang kostum Lampung (Best National Costume Miss International 2014) di Tokyo Jepang, kostum Garuda (top 5 National Costume Miss Universe 2016) di Filipina, dan banyak lagi.

Dynand juga didaulat Menteri Pariwisata Arief Yahya menjadi koreografer Asian Games 2018. Kemegahan panggung dan koreografi yang disuguhkan dalam hajatan itu, sontak mengundang banyak pujian dari masyarakat dunia.

Hal yang paling menyita perhatian publik adalah kostum Garuda emas karya Dynand Fariz. Simbol burung Garuda sengaja dipilih Dynand Fariz untuk mengiringi setiap kontingen dari ke-45 negara peserta Asian Games 2018 karena itu merupakan simbol kesatuan, kemegahan, dan spirit yang menginspirasi ke semua penjuru.

JEMBER Fashion Carnaval dalam event Gita Mahotsav 2018 yang diselenggarakan pada tanggal 15-18 Desember 2018 di Kurukshetra Haryana, India.*/JEMBERFASHIONCARNAVAL.COM

Impian yang belum terwujud

Sekretaris AKARI Jember, David Susilo, mengatakan, sosok Dynand Fariz memiliki dedikasi tinggi terhadap Kabupaten Jember. Ia memiliki totalitas dan segala pendapatan yang diterimanya dari berbagai pihak secara pribadi selalu diberikan untuk kegiatan JFC. Sampai-sampai, ia bahkan hingga kini belum memiliki rumah pribadi.

Ia mengatakan, ada satu keinginan Dynand Fariz yang belum terwujud, yakni Museum JFC. Museum yang digagasnya itu direncanakan menjadi tempat menampilkan berbagai kostum hasil kreatif tim JFC yang meraih penghargaan nasional dan internasional. AKARI bersama tim JFC menyatakan akan berusaha mewujudkan keinginan almarhum tersebut. Selamat jalan Dynand Fariz. Karya-karya terbaiknya akan selalu dikenang sepanjang masa.***

 

Sumber foto: jemberfashioncarnaval.com

Bagikan: