Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Sedikit awan, 21.5 ° C

KPU Bisa Bentuk Dewan Kode Etik  Adili Lembaga Survei

Satrio Widianto
ILUSTRASI pemilu.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI pemilu.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

JAKARTA, (PR).- Pengamat politik dari Univeraitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai kedua pasangan capres dan cawapres serta tim pemenangan masing-masing, lebih dewasa menyikapi hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei. Kalau ada yang merasa quick count itu menyesatkan, menggiring opini, atau menguntungkan salah satu kandidat tertentu maka laporkan saja ke KPU.

"Jika ada pihak yang merasa dirugikan dengan hasil hitung cepat,  agar melaporkannya ke KPU dan Bawaslu. KPU bisa membentuk dewan kode etik untuk mengadili lembaga-lembaga survei yang diduga meresahkan itu," kata Adi Prayitno di Jakarta, Kamis 18 April 2019.

Berdasarkan hasil quick count atau hitung cepat lembaga survei, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul 54 persen, terpaut sekitar 9 persen dari pasangan rivalnya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang hanya mengantongi  45 persen suara.

Menurut Adi, Jokowi saat menyampaikan pidatonya Rabu sore kemarin, tidak mengesankan jemawa dengan hasil hitung cepat. Begitupun pendukung-pendukung 01 yang menyatakan akan mengikuti proses yang ada. Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri juga menyampaikan terima kasih kepada Prabowo

"Dari kubu 02 juga tidak reaksioner dan akan menunggu hasil hitung resmi KPU. Saya kira satu sikap yang lebih maju ketimbang 2014 yang saling klaim kemenanangan. Situasinya cukup panas. Kalau melihat sekarang kondisinya lebih adem," katanya.

Adi menjelaskan, sejatinya tidak ada yang mengejutkan dari hasil hitung cepat lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Hasil hitung cepat ini sesuai dari hasil survei. "Ini bukti elektabilitas Jokowi masih konstan, lurus begitu, karena tidak ada peristiwa besar. Tidak ada tsunami atau kiamat politik," ujarnya.

Adi menjelaskan, tidak ada perubahan signifikan dari elektabilitas capres dan cawapres hingga pilpres digelar kemarin. Ini tergambar dari hasil hitung cepat lembaga survei. Meski ada sedikit perbedaan, kata Adi, masih dalam batas margin error 3 sampai 4 persen.

Hitung cepat, kata Adi, bukanlah hasil resmi melainkan potret yang didasarkan pada hasil perhitungan suara di TPS. Karena itu hasil quick count kecenderungannya tidak meleset jauh dari perhitungan real KPU. "Ini yang harus dijadikan pegangan bahwa quick count itu sebatas alat bantu," tegasnya.***

Bagikan: