Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.3 ° C

Pemantau Asing Puji Pemilu 2019 yang Dinillai Inklusif

Yusuf Wijanarko
PEMILU 2019.*/ANTARA
PEMILU 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Sejumlah pemantau asing dari berbagai negara memuji sistem inklusif (melibatkan semua kalangan) dalam penyelenggaraan Pemilu 2019.

Pujian itu, salah satunya, disampaikan jurnalis senior media Mesir Al Ahram, Ahmed Mahmoud Mohamed. Dia menyebut bahwa keikutsertaan pemilih dengan disabilitas mental menjadi poin penting dalam penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

“Saya sangat terkesan. Saya rasa seluruh dunia mempunyai permasalahan yang sama, tetapi ini pertama kalinya saya melihat sebuah negara mempunyai solusi yang baik,” kata Ahmed mewakili pemantau asing dari Mesir seperti diberitakan Antara, Rabu 17 April 2019.

Ahmed mengatakan bahwa solusi tersebut  tercermin dari keseriusan negara dalam mengumpulkan orang-orang dengan disabilitas mental dan memulihkan mereka hingga siap memberikan suara untuk menentukan masa depan bangsa.

Ahmed juga mengatakan bahwa sistem pemilu yang inklusif tersebut patut dicontoh negara-negara lain di dunia.

“Ini adalah hal yang sangat bagus yang perlu mulai dilakukan banyak negara lain karena banyak negara memperlakukan mereka (orang dengan disabilitas mental) dengan cara yang tidak baik,” ucap dia.

WARGA mengenakan kostum "superhero" atau pahlawan super karakter Spiderman dan Thor saat menggunakan hak suaranya dalam Pemilu 2019 di TPS 10 Banjar Ubung Sempidi, Mengwi, Badung, Bali, Rabu, 17 April 2019.*/ANTARA

Komentar senada dilontarkan pemantau asing dari komisioner Komisi Pemilihan Umum Timor Leste Maria Virna Ermelinda.

“Pertama, saya lihat ini sebagai sistem demokrasi yang sangat bagus dan suatu kebanggaan, merehabilitasi orang dari nol, dari yang tidak bisa apa-apa, sampai dia bisa mengerti dan bisa mengambil suatu keputusan,” kata dia.

Menurut Maria, keikutsertaan penyandang disabilitas mental dalam pemilu menunjukkan bahwa Indonesia sangat menghargai seseorang untuk bisa menggunakan hak pilih dalam pesta demokrasi.

Pujian juga disampaikan pemantau asing dari badan pemantau pemilu internasional, Association of World Election Bodies, Seung Ryeol Kim. Dia menyebut, partisipasi penyandang disabilitas mental dalam pemilu adalah bentuk negara yang menghargai hak suara rakyat.

“Saya pikir mereka memang mampu memilih dan kita harus menghargai hal itu sebagaimana hukum pemilu Indonesia yang juga sangat menghargai hak setiap orang untuk memberikan suaranya,” kata dia.

Sejumlah pemantau asing peserta Election Visit Program yang diselenggarakan KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengunjungi TPS 128 yang berada di Panti Sosial Bina Laras 3, Grogol, Jakarta Barat untuk meninjau langsung proses pemungutan suara yang dilakukan penyandang disabilitas mental di TPS tersebut.

KPU menyertakan penyandang disabilitas mental dalam Pemilu 2019 berdasarkan amanat Pasal 5 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.***

Bagikan: