Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.3 ° C

Kisah Nyoblos “Anak Negara”

Muhammad Irfan
SALAH seorang warga Panti Belaian Kasih Kalideres, Jakarta Barat yang menyandang tuna grahita menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2019, Rabu, 17 April 2019. Dari 200 warga binaan, 97 diantaranya telah memiliki hak pilih.*/MUHAMMAD IRFAN/PR
SALAH seorang warga Panti Belaian Kasih Kalideres, Jakarta Barat yang menyandang tuna grahita menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu 2019, Rabu, 17 April 2019. Dari 200 warga binaan, 97 diantaranya telah memiliki hak pilih.*/MUHAMMAD IRFAN/PR

TANGGAL 17 April 2019 boleh jadi cukup spesial bagi para pemilih dari Panti Belaian Kasih Kalideres, Jakarta Barat. Berkumpul di lapangan panti sejak pagi hari, para penyandang tuna grahita ini tampak antusias. Mengenakan seragam, mereka naik ke minibus bergantian. Siap berangkat ke TPS.

Jarak dari panti ke TPS sebetulnya cukup dekat. Mungkin hanya sekitar 200 sampai 300 meter saja. Tapi toh momen itu cukup mengasyikkan untuk mereka. Menggunakan hak suara ke TPS pada Pemilu 2019 ibarat piknik.

"Mereka senang dikumpulin dulu, pakai baju seragam, pakai sepatu. Kayak piknik saja," kata salah satu pendamping, Chairul Tanani yang wartawan Pikiran Rakyat temui di TPS 108, Kaliders, Jakarta Barat, Rabu, 17 April 2019.
 

Chairul menyebut dari sekitar 200 lebih warga panti di Belaian Kasih, 97 di antaranya memang telah memiliki hak pilih. Supaya tertib, 97 pemilih ini kemudian dibagi menjadi 10 kelompok yang berangkat ke TPS secara bergantian. Tiap kelompok didampingi oleh enam pendamping. "Nanti sudah di sini saya mendaftarkan mereka dulu. Tinggal nunggu dipanggil," ucap dia.

Selama menunggu, mereka terbilang tertib. Mereka berbaris di dekat pintu masuk TPS. Ada yang memilih duduk atau bercengkrama dengan kawan sesama panti. Meski demikian, pendamping yang bertugas tak boleh lepas mata mengawasi anak-anak binaan mereka. "Khawatir kabur," kata Yuyu Yuliasari, pendamping lainnya.

Menurut Yuyu yang sudah tiga tahun menjadi pendamping di Belaian Kasih, memang perlu cara khusus agar mood mereka tetap terjaga. Pasalnya, situasi di TPS dengan orang yang cukup banyak dan antrean yang cukup lama sangat rentan membuat mereka bosan dan merusak mood-nya.

Hal ini misalnya terjadi pada Daang. Salah satu warga panti ini sempat merajuk karena bosan dan diganggu kawannya. Melihat gelagat, Yuyu dengan sigap menenangkan si anak dengan mengusap punggungnya. "Sudah, sudah jangan nangis ya," kata Yuyu lembut. Daang pun tenang dan kembali duduk.

"Kalau sampai ada yang tantrum ya harus kami bawa pulang dulu ke panti, kami tenangkan, baru ajak lagi ke TPS. Enggak bisa dipaksa. Kalau sampai TPS mau tutup tapi dia tetap enggak mau mencoblos ya sudah biarin," ucap perempuan yang juga lulusan psikologi UPI ini.

Meski demikian, Yuyu memastikan kalau anak-anak ini cukup berpengalaman dalam Pemilu. Pesta Demokrasi seperti ini bukan kali pertama untuk mereka mengingat sebelumnya mereka juga sudah banyak dilibatkan dalam pesta demokrasi lain seperti Pemilukada. Syarat menjadi pemilih pun sudah mereka kantungi.

"Didaftarkan (ke DPT) oleh panti. Mereka juga kan punya e-KTP, BPJS, sama kayak masyarakat lain. Pokoknya sesudah masuk panti, kalau selama tiga bulan tidak diketahui keluarganya, ya Dinsos buatkan (administrasi kependudukannya). Istilahnya mereka ini anak negara," ucap Yuyu.

Meski banyak disangsikan kompetensinya dalam memilih, penyandang tuna grahita sebenarnya paham bagaimana cara dan siapa yang hendak mereka pilih. Dari tujuh sosialisasi dan simulasi yang pernah digelar, sebagian warga binaan sudah mulai paham teknik mencoblos pada simulasi ketiga. "Walaupun tetap terbatas ya, tapi mereka tahu gimana caranya," ucap dia.

Dan memang benar, ketika wartawan Pikiran Rakyat bertanya kepada salah satu pemilih tuna grahita tentang pilihannya di Pilpres. Dengan sedikit malu-malu, pemilih bernama Erna menyebutkan nama salah satu calon presiden yang hendak ia pilih.

Begitu pun bertanya bagaimana cara mencoblos surat suara ke Pepen, pemilih tuna grahita lainnya. "Pakai paku," kata dia sambil menguncupkan jari-jarinya dan menggerakannya serupa mencoblos.

Sementara peran pendamping hanya untuk membantu mereka menuju bilik suara, membuka kertas suara, melipat, memasukkan ke dalam kotak, dan mencelupkan jari ke tinta. Secara tegas pendamping juga dilarang mengarahkan coblosan pemilih saat di bilik suara.

Pendamping hanya mengantarkan ke bilik suara dan membuka kertas. Saat pemilih hendak mencoblos, pendamping bergeser ke arah luar bilik suara dan mengarahkan pandangannya ke depan tempat para pemilih lain menunggu. Setelah surat suara dicoblos mereka melanjutkan tugasnya dengan melipat kertas suara dan membuka surat suara lainnya.

"Ya itu (pilihan) terserah mereka. Ada yang di pinggir, atau dimana. Kita enggak mengarahkan. Pendamping hanya membantu, khawatir surat suaranya dirobek atau pakunya dibawa," ucap dia.***

Bagikan: