Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.7 ° C

Haedar Nashir, Pemenang Pemilu 2019 Jangan Jumawa dan Angkuh

Mukhijab
KETUA Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir ketika melakukan pemungutan suara di TPS 13, RT 5 Dusun Godegan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, Rabu, 17 April 2019.*/MUKHIJAB/PR
KETUA Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir ketika melakukan pemungutan suara di TPS 13, RT 5 Dusun Godegan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, Rabu, 17 April 2019.*/MUKHIJAB/PR

YOGYAKARTA, (PR).- Pemenang Pemilu 2019 sebagai Presiden RI selanjutnya menanggung beban sangat berat untuk melanjutkan pembangunan nasional.

“Yang memperoleh mandat sebagai presiden 2019-2024 mempunyai beban sangat berat untuk membawa 160 juta rakyat negeri ini maju dan berdault dan berdaya saing tinggi, serta membawa Indonesia jaya,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir usai mencobolos di TPS 13, RT 5 Dusun Godegan, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul, Rabu, 17 April 2019.

Tanpa menjelaskan alasan mengapa pemenang Pemilu 2019 menanggung beban sangat berat, dia hanya berpesan agar pemenang Pemilu Presiden 2019 maupun para legislator yang terpilih hendaknya jangan jumawa, merasa digdaya.

“Kami percaya seluruh komponen bangsa akan menerima hasil Pemilu 2019. Bagi yang diberi amanat oleh rakyat, tunaikan sebaik-baiknya dengan rendah hati, tidak perlu jumawa, merasa digdaya atau paling kuat, apalagi angkuh oleh karena kekuasan,” ujar dia.

Adapun pesan kepada pasangan capres dan caleg yang belum mendapat mandat, dia berharap bisa menerima legawa, mengambil hikmah di balik keberhasilan atau kegagalan dalam kontestasi Pemilu 2019.

“Yang belum mendapat mandat, kepercayaan dari rakyat, mereka harus meyakini tetap mempunyai posisi untuk berperan dengan posisi masing-masing dalam memajukan bangsa,” kata dia.

Menurut dia, hasil dari pencoblosan atau pemungutan suara merupakan ujian bagi pada kontestan Pemilu 2019 bagaimana mereka menyikapi dengan kedewasaan berpolitik atau penghidmatannya sebagai elit bangsa dan peranannya dalam dunia politik.

“Terima-lah keadaan seperti itu dengan lapang hati, jiwa kenegawaranan, selalau ada hikmah di balik pemilihan. Keadaan yang ada pasti ada campur tangan dari Allah Swt. Orang bersaiang selalu menerima pandangan, hasil yang kitaa pandang baik atau sebaliknya hasil yang kurang enak, semua selalu ada hikmah,” ujar dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut.

Sebagai pimpinan Muhammadiyah maupun pribadi, Haedar memberi apresiasi yang tinggi terhadap seluruh bangsa Indonesia atas pelaksanaan pemilihan yang berjalan aman, tenang, dan penuh persaudaraan. “Kami percaya seluruh warga negara maupun elit bangsa bisa menjaga dan menawal pemilu ini dan seluruhnya bisa menjadi perekat bangsa.”

Soal gagasan rekonsiliasi pascaPemilu 2019, dia menjawab diplomatis bahwa seluruh komponen bangsa memiliki cara yang alami dalam merajut kesatuan dan kebangsaan.

“Insya Allah rekonsiliasi prosesnya berlangsung secara alami karena bangsa ini punya kekuatan cukup besar dalam persamaan dan perbedaan. Karakter bangsa Indonesia dalam kebudayaan kolektif dan dialektis, ketika ada gesekan pasti ada rekonsiliasi,” kata dia.***

Bagikan: