Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Dua Petani Meninggal Akibat Leptospirosis

Wilujeng Kharisma
FOTO ilustrasi leptospirosis.*/ANTARA
FOTO ilustrasi leptospirosis.*/ANTARA

KULONPROGO, (PR).- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo mencatat selama tahun ini sudah ada 11 kasus leptosspirosis dengan dua orang meninggal dunia akibat penyakit yang biasa menyerang petani itu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Perlindungan Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo Baning Rahayujati, Minggu 14 April 2019 mengatakan Dinkes selalu mendata tiap minggunya kasus leptospirosis yang terjadi di masyarakat.

Kasus leptospirosis tersebut biasa menyerang petani di Kulonprogo karena bakteri leptospira interrogans yang menyebabkan penyakit leptospirosis ada di lingkungan persawahan dan ladang. Sumbernya yaitu urine tikus di sawah dan ladang tersebut.

Berdasarkan pendataan Dinkes, belum genap pertengahan tahun, sampai saat ini sudah ada 11 temuan kasus leptospirosis. Jika berkaca di tahun lalu, total Dinkes menemukan 26 kasus leptospirosis dengan lima orang meninggal dunia.

“Leptospirosis itu yang diserang sistem air kencing. Biasanya kematian terjadi karena gagal fungsi organ tersebut. Jadinya kami [Dinkes] upayakan agar secepat mungkin menemukan kasus leptospirosis,” ujarnya.

Baning mnuturkan, untuk sebaran penyakit leptospirosis di Kulonprogo ada di semua kecamatan secara merata dengan rentang usia penderita berkisar pada 15 tahun ke atas.

Pelaksana Harian Kepala Dinkes Kulonprogo Ananta Kogam Dwi Korawan mengimbau agar dalam mencegah penyakit leptospirosis, masyarakat harus menerapkan perilaku hidup sehat dalam kesehariannya.

Apabila terindikasi ada barang-barang yang terdapat urine tikus maka segera dihindari kontak langsung. Apabila sudah terlanjur ada kontak, maka harus langsung membasuhnya dengan deterjen atau sabun.

Cukup tinggi

Sementara itu, di Kota Yogyakarta, Catatan kasus leptospirosis  sepanjang 2018 yang terjadi di lebih dari separuh wilayah merupakan sinyal bagi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit tersebut.

“Sepanjang 2018, sudah ada 17 kasus leptospirosis dan empat pasien di antaranya meninggal dunia. Dengan angka ini, maka indeks kematiannya bisa dikatakan cukup tinggi sehingga kewaspadaan harus ditingkatkan,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Agus Sudrajat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, kasus leptospirosis muncul di Kecamatan Ngampilan, Wirobrajan, Gedongtengen, Kotagede, Kraton, Mantrijeron, Umbulharjo dan Gondomanan, atau di delapan dari total 14 kecamatan di Kota Yogyakarta.  

Luasnya penyebaran kasus, Agus mengatakan, kasus penyakit yang disebabkan bakteri leptospira tersebut dapat muncul di seluruh wilayah Kota Yogyakarta apabila masyarakat tidak peduli pada kebersihan lingkungan di sekitarnya. 

Salah satu hewan yang bisa menjadi pembawa bakteri leptospira dan menularkannya ke manusia melalui urine adalah tikus. “Seperti diketahui, tikus senang hidup di tempat-tempat yang kotor. Oleh karena itu, salah satu antisipasi yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus,” ucapnya.
  
Selain menjaga kebersihan lingkungan, salah satu upaya agar angka kematian akibat kasus leptospirosis tidak semakin meningkat adalah dengan melakukan pemeriksaan sesegera mungkin ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, badan menggigil, mata merah dan terkadang disertai muntah. 

Agus mengatakan, tingginya angka kematian leptospirosis pada tahun ini disebabkan pasien terlambat ditangani karena gejala yang timbul hampir sama seperti penyakit lain. “Pada umumnya, penyakit ini bisa menyebabkan gagal ginjal. Kegagalan organ vital ini yang kemudian menyebabkan kematian,” ujarnya.***

Bagikan: