Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

[Laporan Khusus] Menilik Kosmologi Tritangtu

Tim Pikiran Rakyat
IKET Sunda.*/DOK PR
IKET Sunda.*/DOK PR

LAKSANA keniscayaan, setiap masyarakat tentu memi­liki pandangan hidup (worldview) yang menjadi pegang­an atau pedoman hidupnya. Pandangan hidup ini merupakan buah pemikiran dari berbagai pengalaman yang dihadapi masyarakat tersebut dari waktu ke waktu. Demikian juga dengan masyarakat Sunda yang memiliki ­falsafah tersendiri.

Pandangan hidup masyarakat Sunda erat kaitannya de­ngan latar belakang ekologis. Budayawan sekaligus peneliti budaya Sunda Jakob Sumardjo mengemukakan bahwa karakteristik masyarakat Indonesia terbagi ke dalam empat kategori, yakni masyarakat peramu, peladang, pesawah, dan kelautan. Masyarakat Sunda menurut Jacob terkategori dalam masyarakat peladang.

Masyarakat peladang memiliki prinsip ”hidup itu menumbuhkan atau hidup itu menghasilkan hidup baru”. Maka prinsip tersebut dapat diartikan bahwa kehidupan merupakan harmoni atau perkawinan” dari pasangan oposisi. Kemudian dari harmoni itulah lahir entitas baru atau entitas ketiga yang memiliki makna transenden.

”Semua gagasan, tingkah laku, dan hasil budaya pada masyarakat peladang berfokus pada dunia tengah atau ’perkawinan’ dua entitas yang saling berseberangan. Cara berpikir tersebut akhirnya membentuk mentalitas kaum peladang sebagai manusia paradoksal, seperti konsumtif namun pada saat yang sama juga produktif, independen-­dependen, individual-kolektif, dan lainnya,” ujar Jacob.

Dari prinsip tersebut, masyarakat Sunda memiliki pan­dang­an hidup yang bernama Tritangtu yang memiliki arti tiga ketentuan. Tritangtu merupakan keselarasan di antara 3 hal dalam hidup, yakni manusia, alam semesta, dan Tuhan.

Menurut Stephanus Djunatan (2011), kebahagiaan tidak akan diperoleh jika tidak terjadi keseimbangan hidup antara tiga ketentuan tersebut yakni manusia, alam, dan Tuhan. Dengan kata lain, masyarakat Sunda meyakini kebahagiaan dan kesejahteraan hanya akan diperoleh jika manusia dapat memelihara hubungan harmonis antara dirinya dengan sesama, antara dirinya dengan Tuhan, dan juga antara dirinya dan alam. 

Asas Tritangtu mendasari cara berpikir masyarakat Sunda dalam memaknai budayanya. Maka filosofi ini pun meliputi segala aspek kehidupan. Mulai dari berbagai benda budaya dan kesenian hingga cara hidupnya, seperti dalam sistem sosial, sistem hukum, sistem politik, dan sistem pemerin­tahan. Benda maupun produk budaya berasaskan Tritangtu misalnya kujang, boboko, pantun, kabuyutan, tarian, pola kampung, dan lainnya.

Contoh tritangtu di boboko

Contoh lain tecermin dalam hal pengaturan tata ruang yang membagi tiga bagian yaitu tonggoh, landeuh, dan lebak. Sementara itu, dalam arsitektur rumah adat terbagi atas para, panggung dan kolong dengan setiap bagian memiliki fungsi dan peruntukannya masing-masing.

Endah Irawan dalam penelitiannya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung pada 1999 mengatakan, filosofi ini dalam interaksi sosial diwujudkan dalam prinsip akur ­sakasur, akur sadulur, dan akur salembur. Begitu juga ­prinsip silih asah, silih asih, dan silih asuh dalam konteks ­keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Di sisi lain, Jakob menambahkan, Tritangtu kehidupan masyarakat Sunda merupakan bagian dari pola Tritangtu dalam lingkup yang lebih luas. Artinya disetiap pola Tritangtu maka terdapat konsep Tritangtu yang lebih kecil atau konsep Tritangtu yang lebih luas yang menaungi. Dengan demikian, segala sesuatunya berjalan abadi karena kontinuitas pola tersebut.

”Bagi masyarakat Sunda, segala sesuatu yang hidup ­memiliki ketiga potensi tersebut. Apabila ketiga potensi ­tersebut dimiliki, diyakini akan abadi karena Sang Hyang Hurip hadir di sana. Ia bermakna mendatangkan keberkahan hidup,” ucap Jacob.

Filosofi Tritangtu yang dianut masyarakat Sunda memiliki kesamaan dengan pandangan hidup masyarakat Bali yang bernama Tri Hita Karana. Pandangan masyarakat Bali ini memiliki arti bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh apabila hubungan antara tiga elemen kehidupan dapat dijaga, yakni dengan sesama manusia, dengan alam, dan de­ngan Tuhan.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sayangnya saat ini tidak banyak masyarakat di Jabar yang benar-benar memahami filosofi Tritangtu, terutama jika dikaitkan dengan perannya dalam pembangunan masyarakat. Padahal dalam sejarahnya, pandangan hidup Tritangtu telah memberikan banyak pengaruh pada pembangunan masyarakat Sunda. 

Berikut contoh pengaruh Tritangtu  dalam sejumlah hal :
 

Kearifan Sunda dalam Penentuan Lahan

Masyarakat Sunda membagi lahan yang dipergunakan ke dalam 3 bagian, yakni tonggoh (dataran tinggi), lebak (dataran sedang), dan landeuh/hilir (dataran rendah). Merujuk pada pembagian ini, masyarakat Sunda percaya bahwa pem­bangunan infrastruktur dan sejenisnya tidak boleh dilakukan di kawasan atas atau dataran tinggi (tonggoh). 

Alasannya, lahan di kawasan tersebut diperuntukkan untuk makhluk selain manusia, di antaranya hewan, tumbuhan dan juga alam spiritual atau Tuhan (Hyang). Maka kawasan puncak atau lembah dinamakan ”Para Hyang” atau tempat bagi alam spiritual. Masyarakat kemudian lebih mengenalnya ­dengan sebutan ”Parahyangan”.

Adapun dataran sedang (lebak) diperuntukkan sebagai tempat hunian beserta segala aktivitas manusia. Termasuk juga lahan pertanian dan peternakan, sedangkan dataran rendah (hilir) diperuntukkan bagi pembangunan yang bersifat tersier. Dalam konteks pembangunan modern dataran rendah ini misalnya digunakan sebagai kawasan industri atau pabrik.

Jika ditelaah lebih dalam, terdapat alasan positif mengapa pembangunan tersebut terbagi ke dalam tiga dataran. Hal ini sejalan dengan hukum alam mengenai air yang ­mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah.

Pembangunan di dataran tinggi (tonggoh) terlarang karena mengandung hikmah kelestarian alam. Dengan terjaganya wilayah tersebut, sumber air yang berada di dataran tinggi selalu terjaga kebersihan dan kemurniannya, sehingga makhluk hidup yang berada di dataran yang lebih rendah tidak akan terganggu air yang mungkin sudah terkontaminasi.

Alasan serupa juga melatari mengapa pabrik atau kegiatan industri harus berlokasi di dataran rendah (hilir). Maksudnya supaya aktivitas industri memanfaatkan air yang sudah tidak lagi bersih tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari manusia di dataran yang lebih tinggi.

Kearifan Sunda dalam Pembangunan Rumah

Secara umum, rumah tradisional masyarakat Sunda terbagi menjadi 3 bagian, yakni bagian atap (para), bagian tengah/utama bangunan, dan bagian bawah (kolong). Masyarakat Sunda menganggap bahwa bagian atap atau para bukan diperuntukkan untuk beraktivitas, dan biasanya terkait dengan hubungan spiritual dengan Tuhan. Adapun di bagian bawah, rumah tradisional sunda memiliki ciri khas ‘kolong’ yang diperuntukkan bagi makhluk lain seperti binatang peliharaan. 

Kolong menjadi jalan bagi manusia untuk tidak menyia-­nyiakan makanan yang dikonsumsinya sekalipun terjatuh ke bagian bawah rumah. Misalnya, ketika remah nasi terjatuh, tetap dapat dimanfaatkan oleh ayam. Dari konsep ini, ­sebenarnya masyarakat sunda telah menerapkan prinsip ­‘recycling’ dalam kegiatan sehari-harinya.

Kearifan Sunda dalam Interaksi Sosial

Dalam interaksi sosial, masyarakat sunda memiliki keyakin­an bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh jika manusia menjaga keseimbangan interaksinya dengan se­sama manusia, dengan alam, dan dengan Tuhan atau alam spiritual. Keseimbangan interaksi ini diwujudkan dengan prinsip resiprokal atau kesalingan yang dinamakan ”si­lih’” yang terdiri atas silih asah, silih asih, dan silih asuh. 

Contohnya, jika manusia tidak ingin kehidupannya ter­ganggu oleh banjir maka manusia harus menjaga alam dari kerusakan lingkungan. Kondisi alam yang terjaga baik pada gilirannya akan menjaga manusia dari potensi bencana. Demikian halnya jika manusia ingin diperlakukan baik oleh sesama, maka perbuatan baik pun menjadi keniscayaan.

Berbagai contoh kearifan lokal pada masyarakat Sunda tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki ­budaya luhur dalam pembangunan yang terwujud pada kegiatan sehari-hari yang berakar pada filosofi yang dimiliki. Konsep-konsep pembangunan yang dijalankan masyarakat Sunda memberikan arah panduan yang semestinya dilakukan. (Yulistyne Kasumaningrum/”PR”, Kurniawan ­Saefullah)***

Bagikan: