Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Langit umumnya cerah, 18 ° C

Kemarau Dimulai Akhir April, Petani Diimbau Tanam Palawija

Wilujeng Kharisma
PETANI penggarap sawah.*/ADE MAMAD/PR
PETANI penggarap sawah.*/ADE MAMAD/PR

YOGYAKARTA,(PR).- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta memprakirakan awal musim kemarau 2019 khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terjadi pada akhir April 2019.

"Gunung Kidul dan Bantul bagian timur akan mengawali musim kemarau di DIY pada dasarian (10 hari) ketiga April," kata Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Djoko Budiono di Yogyakarta, Jumat 12 April 2019.

Meskipun demikian, kata dia, sebagian besar wilayah DIY akan masuk awal musim kemarau secara merata pada dasarian satu sampai dua Mei 2019. “Yang terakhir masuk musim kemarau nanti adalah wilayah Gunung Merapi," tuturnya.

Djoko mengatakan awal musim kemarau 2019 di sebagian besar wilayah DIY memang mengalami kemunduran dari fase normal. "April ini merupakan masa transisi atau pancaroba," tuturnya.

Djoko mengatakan, pada April jumlah curah hujan bulanan berkisar 101-300 mm per bulan atau termasuk kategori menengah. Selanjutnya pada Mei 2019 jumlah curah hujan mengalami penurunan mencapai 21-100 mm per bulan atau masuk kategori rendah. Dengan melihat kondisi iklim pada April, kata dia, hujan diprakirakan masih berpeluang muncul sepanjang bulan, terutama pada siang hingga sore hari.

Ganti tanam

Mengingat musim kemarau baru dimulai pada akhir April hingga Mei, Djoko berharap, masyarakat, khususnya para petani, sudah mulai mempersiapkan perencanaan pola tanam, jenis tanaman, dan strategi penanaman yang menyesuaikan kondisi iklim. "Diharapkan dengan persiapan yang matang maka produktivitas pertanian di Yogyakarta akan meningkat," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko di Yogyakarta mengatakan, Distan DIY sudah kabupaten-kabupaten yang memiliki sawah tadah hujan untuk mengganti tanaman menjadi palawija. Penanaman palawija, kata Sasongko, sudah saatnya dilakukan di wilayah Gunung Kidul, sebab daerah itu memiliki persediaan air paling sedikit memasuki musim kemarau. Tanaman palawija yang disarankan untuk ditanam oleh petani antara lain jagung, kedelai, serta kacang panjang.

Sementara itu, untuk daerah lainnya yang masih memiliki pasokan air mencukupi, menurut dia, masih dapat menanam padi, kendati tetap diselingi dengan tanaman palawija. "Tetapi kalau tidak ada air sama sekali ya jangan ditanami padi dulu," ujarnya.

Bagi petani yang masih ingin menanam padi, Sasongko menyarankan agar memilih varietas padi yang tahan kering seperti inpari 19, inpago, serta situ bagendit. Tanpa menyesuaikan penanaman padi dengan varietas yang tepat, ia khawatir akan berpengaruh pada pencapaian produksi padi selama 2019.

Sasongko mengaku optimistis target produksi padi pada 2019 yang ditargetkan kurang lebih 900 ribu ton akan tercapai. Pasalnya, meskipun memasuki kemarau namun sejumlah area persawahan seperti di Sleman, Bantul, dan Kulon Progo masih ada panen.

"Untuk mendukung produktivitas padi, kami juga telah mendukung penerapan alat mesin pertanian modern mulai dari traktor roda dua, roda empat, hingga mesin pemanen harvester," ujarnya.***

Bagikan: